mumu: memilih sepi daripada topeng
pernahkah kau berpikir kenapa kau laki-laki? bercerminlah telanjang agar bisa tepat mengisi form jenis kelamin di ktp. terlahir sebagai laki-laki/perempuan itu anugerah yang terberi. namun orientasi seksual, bisa kau belokkan, ke arah mana, terserah kau suka.
itulah sehinga sebagian orang lalu menyebut kelompok tersebut "menyimpang"?
perihal orientasi seks yang seperti itu ada nyaris sejak jaman purba. di setiap ceruk dunia, banyak literatur membahasnya. pada budaya makassar misalnya, bissu mendapat tempat terhormat sebagai pemimpin upacara. di tempat lain, itu dianggap istimewa.
sampai pada generasi y ini, kini perkembangannya makin marak. teknologi internet yang bertumbuh, menjadikan ruang-ruang sempit warnet menyebarkan "virus" yang konon dilaknat tuhan itu. juga di ruang-ruang publik kota, kafe tempat-tempat nongkrong, fashion, sastra dan film.
mumu, menjadikan fenomena menarik ini menjadi bahan kajiannya. di portal indoqueer.com ia menuangkan idenya dalam menyoroti perubahan perilaku pada masayarakat urban meteropolitan. sayang portal ini sekarang telah ditutup karena kesibukan dia banyak.
saat ini ia aktif menulis di di layarperak, beritaseni dan majalahfilm dan tentu saja blognya. selain masih merangkap wartawan di sebuah portal berita. dia juga aktif di puluhan milis yang ia ikuti. artikelnya pernah dimuat kompas, karena dianggap memberi perspektif baru dalam melihat produk budaya pop.
baru-baru ini, di milis film, ia dibantai dengan kata kasar dan ancaman: akan di sikat andai tak berada di dunia maya. "saya tak bisa mengerti, kenapa seniman tak bisa menerima kritik. meskipun saya temannya, apakah saya harus memuji-muji karyanya kalau memang jelek, bantahnya.
sebagai jurnalis ia telah jalani sejak selepas lulus. awal karirnya dia menjadi wartawan di sebuah tabloid. pernah menjadi wartwan di media online pada desk hiburan. "tulisannya selalu meninggalkan pertanyaan besar ke setiap benak pembacanya, begitu salah satu komentar pembacanya.
ingin mendapat masukan tentang menulis, berbincanglah dia orang yang cukup senang berbagi.
sejak tahun 2002, ia mendirikan Qmunity yang salah satu kegiatan tahunannya adalah menyelenggarakan Q! Film Festival, ajang pemutaran film-film gay dan lesbian di Jakarta. acara ini yang membuatnya wirawiri berhubungan dengan lembaga sensor film yang menganggap film-filmnya tak layak putar untuk umum.
selain kritikus musik, ia juga kerap diundang menjadi pembicara di setiap diskusi yang melibatkan tema-tema budaya pop tersebut.
bersama ucu agustin (cerpenis) mereka mendirikan penerbitan yang diberi nama kebun ide. baru sempat menerbitkan sebiji novel: ini dia hidup, kebun itu langsung terbengkalai berubah menjadi hutan benalu. tentu saja ini mengecewakan orang-orang yang telah bertelepon ingin menjadi editornya.
di tengah kesibukannya itu ia mendapati kesempatan baik: menjadi editor kumpulan cerpen rahasia bulan yang tentu saja keseluruhan cerita di buku itu bertema homoseksual. salah satu cerpennya yang dimasukkan kedalam buku setebal 228 itu adalah "taman trembesi".
dengan kegiatan seabrek itu laki-laki asal nusukan, solo ini begitu menikmati harinya yang sebagian besar ia habiskan dengan diskusi dan ngopi di mall. ia nyaris punya jadwal tetap hari ini dimana dengan siapa.
gemar melakukan wisata kuliner, mencoba menu-menu dari satu warung ke warung yang di seputaran jakarta. dari kaki lima sampai bintang lima. namun ia mudah dicari, tinggal mendatangi dimana ada kerumuman anak-anak muda, ia akan berada di tengahnya.
penampilannya eksentrik, abege abis! lihatlah pada suatu acara, ia akan memakai kardigan coklat tua melapisi kaos ketatnya meskipun cuaca jakarta membara. namun ia santai saja.
tahun depan, ia telah membuat resolusi: meluncurkan dua novelnya sekaligus yang kini berada pada tahap penyelesaian akhir. novel yang mengisahkan seseorang yang asyik dengan kesendirianya. dan kini ia sedang mempersiapkan buku non fiksi semacam tutorial : how to be homosexual.
tak takut dianggap kontroversial? begini jawabnya, "di negeri aneh ini apa sih yg gak dianggap kontroversial? hidup dalam sebuah masyarakat munafik raya, kalau nggak ikutan memang akan kesepian. namun aku lebih memilih kesepian daripada ikut-ikutan memakai topeng.



oh…
terkejut
ah…
menerima
reaksiku seperti orang kebanyakan to we kawe?
Comment by pitik — December 14, 2007 @ 9:41 am
selalu cermat menulis perihal seseorang
Comment by diditjogja — December 14, 2007 @ 10:51 am
aku yo moco tulisane sing nang multiply mas sing quikie express itu
Comment by de — December 14, 2007 @ 11:20 am
hemmm… salut!
Comment by susan — December 14, 2007 @ 12:25 pm
haaaa…mas mumu ini keren sekali. aku inget, paragraf terakhir itu kalo gak salah komentar dia pas mas kw posting ttg simbok yang itu, kan?
Comment by venus — December 14, 2007 @ 2:50 pm
masyarakat munafik …setuju sekali.
Kita yang mati matian nggak mau dianggap negara sekuler, tapi punya industri seks terbesar di dunia, majalah porno, kehidupan hedonis
Comment by iman brotoseno — December 14, 2007 @ 3:34 pm
kesepian itu nggak enak loh mas
Comment by mikow — December 14, 2007 @ 8:17 pm
menjadi sesuatu yang berbeda memang tidak mudah
Comment by arya — December 14, 2007 @ 8:35 pm
comunnity pilem gay..wex..gak salah denger tuh y..:(
Comment by andi bagus — December 14, 2007 @ 10:44 pm
Alhamdulillah , kang ane gesit …... jadikan aku yang … kawan blog hehehhehe
Comment by rgesit — December 15, 2007 @ 10:48 am
ckckckck..ternyata indonesia sudah berubah..sudah tidak seperti dulu lagi..ternyata pikiranku salah
Comment by icha — December 16, 2007 @ 12:15 am
wah jangan sampe… amit amit jabang bayik
Comment by Anang — December 16, 2007 @ 3:03 am
haha! kalian, laki-laki. lucu sekali. macak macho tapi ngomongin masalah homok langsung pada mengkeret. hati-hati. menurut survey asal2an saya di GN jogja, yg berhasil jadi homo sejati itu dulunya ya homophobia ampun2an. proporsional lah. put yourself in their shoes. i was born freak. mungkin itu yg bikin saya nggak aneh dengan apa yg kalian cap sebagai freak. demikian…
Comment by mPit — December 16, 2007 @ 7:20 am
mumu memang kerenn…
pagi-mentari.blogspot.com
Comment by mentari — December 17, 2007 @ 12:52 pm
aku tau mumu dulu waktu jaman chat di detik hihihi
Comment by dian — December 23, 2007 @ 2:27 am