sering kita mendengar, seperti yang dialami mikow: gagal menarik uang dari mesin atm namun saldonya berkurang. keyakinannya pada kecanggihan dan kemudahan teknologi mungkin diam-diam berkurang.
tentang "kecelakaan" itu, aku pernah mengalaminya. namun berbeda pada efek hasil akhirnya. di sebuah warung, aku membayar barang dengan kartu plastik. semua berjalan normal, tak ada yang istimewa. kecuali aku bokek namun tetap ingin memakai t shirt warna putih kumal itu.
sampai ku terima billing statement, ajaib. dua item barang itu tak tercetak di lembar tagihan. tidak cukup besar memang jumlahnya. namun ke siapa orang yang kurang beruntung mendapat tagihan itu?
mungkinkah mbaknya menggesekkan kartu ke celah yang salah sehingga nomor yang terekam tak masuk ke vendor yang semestinya. sebegitu teledornya dia? entahlah. aku diam saja, tak mempertanyakan. baik ke merchant atau banknya.
atau mungkin sebab lain. hardware komputer yang berkualitas rendah, kabel data yang digigit tikus sampai setengah putus sehingga data gagal masuk ke server atau koneksi internet yang lamban sehingga data pelan-pelan menguap ke udara.
apa yang aku dan mikow alami mungkin hanya sebagian kecil "bug" di zaman teknlogi ini. sampai sekarangmasih banyak orang yang enggan berbelanja online. mereka masih takut, nomor kartu plastiknya di sadap para carder.
memang teknologi tak bisa dipercaya kata temanku. namun tak harus seekstrim itu. ini hanyalah soal waktu, sebentar lagi dia akan terbiasa, dengan makin sempurnanya infrastruktur dan system.
pastinya dia belum pernah mengalami apa yang menimpaku, membawa pulang dua lembar kaos oblong, gratis.



aku hampir dua kali dapet kelebihan uang kembalian, dan kasirnya manual. Bukan pake mesin…
Comment by Feri Gunawan — December 11, 2007 @ 9:38 am
selamat!!
Comment by pitik — December 11, 2007 @ 9:38 am
loh mas gak oleh koyok ngunu, nek duite kurang ae teriak2 minta dikembalikan, kalo dapet barang gratisan, diemm aja, gak adil ah..
/*tp yho ojok kaos yang udah dipakai sampek kumel itu yg dibalikin skrg
Comment by pinkina — December 11, 2007 @ 9:40 am
awas abis ini ganti sampeyan yg kelangan duit. siap2 aja..
Comment by de — December 11, 2007 @ 9:47 am
Kok kowe isoh bejo ngono. Jgn2 sampeyan masuk ke ‘sistem’ ya?
Comment by Dony — December 11, 2007 @ 12:15 pm
gymick tekno juga pernah terjadi pada seorang teman yg baru datang dari amrik. Karena gak punya rupiah, dia menyodorkan kartu elektroniknya pd pak supir. Pak supir cuma bengong, dan cenderung marah, krn dikira temen saya yg gondrong dan cengkring itu adalah penipu. sementara sang teman juga bingung, kenapa kartu elektronik yg selalu menemani perjalanannya tak diterima oleh taksi di Jakarta ini.. hehe.. seru deh..
Comment by susan — December 11, 2007 @ 1:14 pm
masukin kartu atm kluar kaos oblong 2?
Comment by kenny — December 11, 2007 @ 1:28 pm
kesalahan yang membahagiakan. kok tagihan kartu kreditku selalu ‘bener’ ya? hihihi….
Comment by venus — December 11, 2007 @ 2:19 pm
aku yo pernah py pengalaman kyk gini mas, blanja karo bojoku ning sby. Mbak2 SPGnya gesek sana gesek sini sampe kartu plastiknya patah, akhirnya bisa juga tp ditagihan bulanan ga ada billingnya
Comment by mikow — December 11, 2007 @ 2:48 pm
aku beberapa kali kena “bug” begini juga. tapi soal tagihan rekening telepon. setelah proses garuk2 tanah yang panjang (saking sutrisno-nya), akhirnya beres. efek beberapa kali kena bug ini bikin mata makin tajam membaca monthly statement.
Comment by fitri mohan — December 11, 2007 @ 3:40 pm
wedeww…mbaca komentar mbak fitri makin bikin aku kudu was was nih kalau mbaca tagihan bulanan, masalahnya aku orang yang ndak pernah nyimpen bon belanja jadinya saat ada tagihan ya hantem kromo, picek main percoyo aja..
Comment by mei — December 12, 2007 @ 7:34 am
Mas luthfi yo tau keno…
500 ewu.
Comment by nurussadad — December 13, 2007 @ 10:45 am
konon belanja online masih lebih aman dibandingkan belanja di toko yg pake jaringan nirkabel, karena data2 yg beterbangan di udara itu mudah diuraikan oleh peretas.
Comment by mpokb — December 13, 2007 @ 4:09 pm