membaca novel yang terbit pertamanya sepuluh tahun silam ini, kita diajak berwisata budaya, melihat dan mengamati lebih dekat batik tulis, proses pembuatan dan para pekerjanya.
detail, wendo memaparkan emosi para buruh yang sekaligus menjadi abdi di ndalem ngabean sestrokusuman. mereka bekerja secara total, jujur dan dengan penerimaan tanpa syarat. sangat dahsyat!
meskipun mendapatkan perlakuan yang tak semestinya. anak sulung pak bei menghamili wagimi, salah satu anak buruh yang tinggal di kebon, lingkungan keraton yang hanya berjarak limapuluh meteran. dia tetap bisa menerima, tak pernah mempersoalkan.
mereka menganggap, memang begitulah takdir yang harus dijalaninya. tak pernah protes atau membangkang. mereka tetap mengabdi, tanpa berkurang rasa hormatnya kepada keluarga keraton.
wendo ingin menjelaskan sekali lagi, bahwa sebenarnya yang namanya bangsawan bukanlah mereka yang mengalir darah biru di tubuhnya. atau mereka yang selalu takut kehilangan martabat tingginya.
seperti lintang, anak pak bei yang menjual batik diam-diam untuk mengongkosi pacarnya di biak dengan mengorbankan buruhnya.
sifat kebangsawanan itu justru muncul pada sosok bu bei yang berasal dari keluarga buruh pabrik. dengan perilaku luhurnya ia bisa membuktikan, orang dari kalangan yang dianggap lebih rendah mampu menjadi bangsawan yang sebenarnya.
(membaca novel ini mengingatkan sosok wage(lantip) pada novel umar kayam yang judulnya para priyayi.)
wendo mengelola konflik dengan plot yang mengharuskan pembacanya menyelesaikan sampai akhir halaman. misteri yang di sampaikan di bagian awal novel, tak terjawab secara terbuka. pembaca dipersilakan menebaknya sendiri.
novel ini sangat asyik!
judul : canting
penulis : arswendo atmowiloto
penerbit: gramedia
jumlah hal: 406 hal 18 cm
cetakan ke : 2 (2007)



aku suka novel yang critanya seperti ini. tentang kesederhanaan, pengorbanan, keikhlasan.
namun, sekarang waktu membaca jadi barang yg langka bagi aku. mungkin stlh nasywa agak gedean.
Comment by evie — November 26, 2007 @ 10:49 am
mungkin kedekatan budaya memudahkan kita dalam mendalami suatu tulisan…
Comment by pitik. — November 26, 2007 @ 11:25 am
iya ya kayak para priyayi, yg priyayi ternyata lantipnya
Comment by de — November 26, 2007 @ 11:43 am
ah batik, di solo tinggal yang tua yang melestarikan, yang muda mana?
lagi ngeblog mungkin..
adanya paham kebangsawanan karena adanya dugaan sifat genetik diturunkan lewat darah, maka ada istilah darah biru. padahal lewat DNA
Comment by nurussadad — November 26, 2007 @ 11:44 am
naaaa..novel sing kyk ngene iki koyoke asik ge diwoco
/*nyatet judul buku (*masuk antrian daftar buku yang harus di baca xixixixi)
Comment by pinkina — November 26, 2007 @ 1:01 pm
tapi menurut saya wendo kurang bisa menggambarkan ndalem nya sebagaimana umar kayam begitu dasyat mendeskripsikan ngawinya dalam Priyayi..tapi memang buku bagus secara keseluruhannya
Comment by iman brotoseno — November 26, 2007 @ 1:42 pm
terlepas dari novel itu…saya selalu terbius dengan kata ‘canting’ , kata itu seperti jejak yang sulit dihilangka setiap saya berkunjung ke desa batik, di solo, di Yogya, di Cirebon, di Pekalongan. Terbayang ibu-ibu dengan cepol kecil di rambutnya, berkain kebaya, sedang meniup-niup lilin di cantingnya itu, terus mengguratkannya pelan-pelan pada kain katun yg tergantung di depannya. wehh jadi kangen sama mbok Batik nih…
Comment by susan — November 26, 2007 @ 1:48 pm
Itulah kekayaan filosofis emosionalitas bangsa kita…..
Comment by Ndoro Seten — November 26, 2007 @ 4:05 pm