membaca novel yang terbit pertamanya sepuluh tahun silam ini, kita diajak berwisata budaya, melihat dan mengamati lebih dekat batik tulis, proses pembuatan dan para pekerjanya.

detail, wendo memaparkan emosi para buruh yang sekaligus menjadi abdi di ndalem ngabean sestrokusuman. mereka bekerja secara total, jujur dan dengan penerimaan tanpa syarat. sangat dahsyat!

meskipun mendapatkan perlakuan yang tak semestinya. anak sulung pak bei menghamili wagimi, salah satu anak buruh yang tinggal di kebon, lingkungan keraton yang hanya berjarak limapuluh meteran. dia tetap bisa menerima, tak pernah mempersoalkan.

mereka menganggap, memang begitulah takdir yang harus dijalaninya.  tak pernah protes atau membangkang. mereka tetap mengabdi, tanpa berkurang rasa hormatnya kepada keluarga keraton.

wendo ingin menjelaskan sekali lagi, bahwa sebenarnya yang namanya bangsawan bukanlah mereka  yang mengalir darah biru di tubuhnya. atau mereka yang selalu takut kehilangan martabat tingginya.

seperti lintang, anak pak bei yang menjual batik diam-diam untuk mengongkosi pacarnya di biak dengan mengorbankan buruhnya.

sifat kebangsawanan itu justru muncul pada sosok bu bei yang berasal dari keluarga buruh pabrik. dengan perilaku luhurnya ia bisa membuktikan, orang dari kalangan yang dianggap lebih rendah mampu menjadi bangsawan yang sebenarnya.

(membaca novel ini mengingatkan sosok wage(lantip) pada novel umar kayam yang judulnya para priyayi.)

wendo mengelola konflik dengan plot yang mengharuskan pembacanya menyelesaikan sampai akhir halaman. misteri yang di sampaikan di bagian awal novel, tak terjawab secara terbuka. pembaca dipersilakan menebaknya sendiri.

novel ini sangat asyik!

judul : canting
penulis : arswendo atmowiloto
penerbit: gramedia
jumlah hal: 406 hal 18 cm
cetakan ke : 2 (2007)

buku lain