hidup yang singkat, mari kita rayakan
dailyNovember 26, 2007 4:14 pm

hidup itu ternyata hanya sebuah penantian.

senin ini, inginya cepat-cepat membalik kalender, menunggu tanggal terakhir usai.   hari-hari akhir minggu ini aktifitas ini terasa lebih menyesakkan dibanding sebelumnya. mungkin ini masalah ketaksabaranku saja.

untuk segera pulang, aku harus menunggu matahari yang jalannya menyiput.  sebelumnya mampir dulu di warung kopi. jam 19:00 salah satu teman akan datang dan berbincang. tentang apa? salah satu topiknya menunggu kabar dari penerbit.

namun sebelum sampai kesana, aku harus menunggu angkutan yang sering ngetem, menunggu penumpang di salah satu halte. dan aku pun harus bersabar, mengisi dengan membaca novel terbaru  yang aku beli hari sabtu kemarin.

judulnya enrique’s journey yang mengisahkan pencarian seorang anak menunggu waktu yang tepat untuk menyelinap di gerbong-gerbong yang membawa mereka ke amerika menyusul ibunya. berhari-hari mereka harus menunggu mendapatkan makanan untuk mendiamkan bunyi keriet perutnya.

detik per detik, betapa terasa begitu lama? dan seperti itu lah hari-hari nyaris sebagian orang lakukan. sejak dulu kala sekali.

tengoklah sewaktu kita masih sekolah taman kanak-kanak. tiap hari berlatih, menyanyi, menghitung menunggu bisa untuk bisa masuk ke sekolah dasar.  menunggu berumur 10 tahun untuk dikhitan. seterusnya di kampus menunggu skripsi kelar. menunggu memperoleh pekerjaan di tempat bonafid.

dan bersiap memanjangkan deretan saldo untuk membiayai resepsi. malamnya berdebar menunggu malam pertama.  tiga bulan pertama,  mencari pregnancy test, menunggu kelahiran bayi pertama.

busyet…

memangnya dengan apa menghabiskan sisa waktu selain dengan menunggu? :)

buku 10:10 am

membaca novel yang terbit pertamanya sepuluh tahun silam ini, kita diajak berwisata budaya, melihat dan mengamati lebih dekat batik tulis, proses pembuatan dan para pekerjanya.

detail, wendo memaparkan emosi para buruh yang sekaligus menjadi abdi di ndalem ngabean sestrokusuman. mereka bekerja secara total, jujur dan dengan penerimaan tanpa syarat. sangat dahsyat!

meskipun mendapatkan perlakuan yang tak semestinya. anak sulung pak bei menghamili wagimi, salah satu anak buruh yang tinggal di kebon, lingkungan keraton yang hanya berjarak limapuluh meteran. dia tetap bisa menerima, tak pernah mempersoalkan.

mereka menganggap, memang begitulah takdir yang harus dijalaninya.  tak pernah protes atau membangkang. mereka tetap mengabdi, tanpa berkurang rasa hormatnya kepada keluarga keraton.

wendo ingin menjelaskan sekali lagi, bahwa sebenarnya yang namanya bangsawan bukanlah mereka  yang mengalir darah biru di tubuhnya. atau mereka yang selalu takut kehilangan martabat tingginya.

seperti lintang, anak pak bei yang menjual batik diam-diam untuk mengongkosi pacarnya di biak dengan mengorbankan buruhnya.

sifat kebangsawanan itu justru muncul pada sosok bu bei yang berasal dari keluarga buruh pabrik. dengan perilaku luhurnya ia bisa membuktikan, orang dari kalangan yang dianggap lebih rendah mampu menjadi bangsawan yang sebenarnya.

(membaca novel ini mengingatkan sosok wage(lantip) pada novel umar kayam yang judulnya para priyayi.)

wendo mengelola konflik dengan plot yang mengharuskan pembacanya menyelesaikan sampai akhir halaman. misteri yang di sampaikan di bagian awal novel, tak terjawab secara terbuka. pembaca dipersilakan menebaknya sendiri.

novel ini sangat asyik!

judul : canting
penulis : arswendo atmowiloto
penerbit: gramedia
jumlah hal: 406 hal 18 cm
cetakan ke : 2 (2007)

buku lain