hidup itu ternyata hanya sebuah penantian.
senin ini, inginya cepat-cepat membalik kalender, menunggu tanggal terakhir usai. hari-hari akhir minggu ini aktifitas ini terasa lebih menyesakkan dibanding sebelumnya. mungkin ini masalah ketaksabaranku saja.
untuk segera pulang, aku harus menunggu matahari yang jalannya menyiput. sebelumnya mampir dulu di warung kopi. jam 19:00 salah satu teman akan datang dan berbincang. tentang apa? salah satu topiknya menunggu kabar dari penerbit.
namun sebelum sampai kesana, aku harus menunggu angkutan yang sering ngetem, menunggu penumpang di salah satu halte. dan aku pun harus bersabar, mengisi dengan membaca novel terbaru yang aku beli hari sabtu kemarin.
judulnya enrique’s journey yang mengisahkan pencarian seorang anak menunggu waktu yang tepat untuk menyelinap di gerbong-gerbong yang membawa mereka ke amerika menyusul ibunya. berhari-hari mereka harus menunggu mendapatkan makanan untuk mendiamkan bunyi keriet perutnya.
detik per detik, betapa terasa begitu lama? dan seperti itu lah hari-hari nyaris sebagian orang lakukan. sejak dulu kala sekali.
tengoklah sewaktu kita masih sekolah taman kanak-kanak. tiap hari berlatih, menyanyi, menghitung menunggu bisa untuk bisa masuk ke sekolah dasar. menunggu berumur 10 tahun untuk dikhitan. seterusnya di kampus menunggu skripsi kelar. menunggu memperoleh pekerjaan di tempat bonafid.
dan bersiap memanjangkan deretan saldo untuk membiayai resepsi. malamnya berdebar menunggu malam pertama. tiga bulan pertama, mencari pregnancy test, menunggu kelahiran bayi pertama.
busyet…
memangnya dengan apa menghabiskan sisa waktu selain dengan menunggu?
membaca novel yang terbit pertamanya sepuluh tahun silam ini, kita diajak berwisata budaya, melihat dan mengamati lebih dekat batik tulis, proses pembuatan dan para pekerjanya.

