donat yang terselimuti putih itu pun tak cukup memunculkan air liur untuk menjilatnya meskipun perutnya melilit. tapi dia harus makan, untuk meneruskan pagi. ia sadar, tak ada kepastian apakah ia akan pernah sampai ke sana.

di kamar sendirian itu, matanya lebih seksama mengamati benda di sekelilingnya. ia mengambil buku, memandang kulitnya dan melemparkannya. sehari hidup telah ia lalui lagi. apa yang ia dapatkan hari ini?

segumpal kekecewaan yang ia simpan rapat. tiga kali "tuhan"nya mengkhianati.

tangannya meraih kue bolong itu dan menyusupkan ke mulutnya. pelan. dan mengunyahnya enggan. pahit, mirip jengkol yang pernah ia kecap sekali.

matanya memaksa lebih membeliak. apakah ia telah di tipu lidahnya sendiri?