penulis harus banyak membaca. ungkapan yang sering terdengar. konon salah seorang penulis keren negeri ini membaca buku "teknik memperbaiki sepeda" sebelum memakai kata sekrup untuk menggambarkan peran buruh di sebuah pabrik.

aku ingin menjadi penulis seperti beliaunya. maka aku bacalah buku diluar duniaku yang selama ini tak terjangkau. secara acak mirip undian aku ambil di rak buku terbitan aak (aksi agri kanisius semarang). judulnya beternak babi.

dan benar, aku mendapatkan fakta-fakta. babi ternyata mempunyai puting yang tak sama, ada yang 12 ada yang 14. sehingga ketika induk babi melahirkan 15 bayi, bayi yang tak kebagian puting harus dirawat terpisah, atau dibunuh.

selain itu buku setebal 80 halaman itu juga memaparkan, anak-anak babi yang telah berumur 8 minggu harus melakukan upacara ritual potong gigi. tujuannya agar sewaktu netek induknya gigi itu tak melukai putingnya.

sampai disini aku belum memperoleh apa-apa tentang perbabian. belum ada ide untuk mencipta frasa atau tulisan baru tentangnya. tapi tak apa-apa. data ini tetap kuinsertkan ke database otakku yang baru sedikit terisi.

belum cukup, akan kucari lagi tulisan lain. dan aku menemukan di salah satu blog yang mengupas kenapa babi tak boleh dimakan. ternyata alasan ekonomis lebih mendasarinya daripada alasan spiritual. begitu juga sapi di india.

suatu saat, data-data itu akan kugabungkan untuk kujadikan sebuah tulisan yang dahsyat! dan kuposting di blog ini atau  untuk tulisan lainnya. tentu saja ide itu telah tak benar-benar original.

memangnya ide yang original itu yang seperti apa yah?