senin (12/11/2007) pukul 06:00 sepanjang jalan deplu raya, bintaro macet total. dimulai dari pertigaan pizza hut sampai perempatan lampu merah pondok pinang center.

(padahal air sungai pesanggrahan belum naik menutupi jembatan, lampu merah juga tak padam)

aku lebih memilih naik angkot alternatip yang memutar melewati gintung. cukup lancar di sepanjang jalan rempoa raya. namun arah sebaliknya mobil berderet sangat panjang.

(aku bayangkan, kelak, apakah antrian untuk masuk neraka itu seperti ini?)

belok kiri ke jalan ahmad dahlan yang menuju ke pasar jumat, tampak anak sekolah berseragam putih-puih berjalan di trotoar. rupanya mereka tak sabar di mobil yang laju kecepatannya berubah menjadi cm/jam.

dan di perempatan pasar jumat terpampanglah layout desain yang sangat filmis.  semua mobil dari arah terminal lebak bulus, pondok cabe dan dari ciputat, mengerucut memasuki jalan ciputat raya yang di tengahnya telah dibangun setengah jadi jalur busway.

para penumpang bergerombol-gerombol di pinggir jalan yang meluber ke badan jalan. suara peluit pak polisi dan klakson menjerit-jerit. lampu merah mati.

kemacetan jakarta, ternyata tak ada yang peduli. pemerintah? mendengar kata ini saya seperti melihat pelangi. tampak indah namun sesungguhnya tak ada. aku? tentu juga sangat ngga.

buktinya, saya saat ini masih melihat harga angsuran motor yang paling masuk akal. oh salah ding. maksudku ingin membeli jaguar yang atapnya terbuka, sehingga ketika di depan tampak macet, aku bisa melihat langit.

dan sampai di tujuan, jam baru bergerak sampai pada angka tujuh. lebihnya 35 menit. padahal saat normal maksimal jarak segitu hanya perlu waktu 30 menit saja.