aku ingin mati besok pagi

(nama tak diekspos, temanku) 

bukan, bukan seperti yang kalian bayangkan. dia tak sedang dililit masalah besar yang hanya dengan menenggak racun tikus semua urusan selesai. dan dia bukan tipe introvert yang menelan semua kegetirannya sendiri.

andai kalian berjumpa, seluruh bangunan image yang kau bentuk akan musnah sendirinya. tak ada segaris kemuraman di air mukanya. dia seorang yang periang, energik, gaul dan pintar.

aku kagum pada manajemen waktunya. karena merasa saat ini adalah hari terakhirnya, seluruh potensi dan kebisaanya ia curahkan secara maksimal. dia seorang penulis. tiap malam ia selalu menulis artikel untuk koran nasional, blog, buku dan novelnya.

ia tak mau melewatkan waktu dengan banyak tidur. sehingga ia terbiasa terjaga dalam dua hari berturut-turut tanpa jeda. dadanya seluas samudera, persediaan tolongnya nyaris tak pernah habis. ia selalu sigap mendengarkan, atau dimintai tolong lainya.

untuk orang yang membutuhkan dia tak akan berpikir dua kali. ia sangat pemberi. menurutnya itulah harta kita yang sebenarnya. bahkan untuk seorang maling yang mencuri sepeda di teras rumahnya ia biarkan. "ya, mungkin dia sedang membutuhkan, katanya.

kepada salah satu pengontrak rumah petaknya ia bertanya, keberatan ga, kalau ngga aku naikkan. kalau keberatan aku turunkan sewanya. kira-kira jawaban apa yang pas untuk membalasnya? :)

hidupnya jauh dari kebahagiaan  ukuran orang sewajarnya. tampak luar, ia sangat kacau kebiasannya. orang melihatnya tak punya masa depan. dan memang ia menganggap masa depannya adalah hari ini.  

banyak hal yang aku ingin belajar darinya. ia tak pernah ingin marah (bukan tak bisa marah ya), apalagi berteriak memaki. sebisa mungkin, menyakiti hati orang lain ia hindari. alasannya, ia tak mau orang-orang mendoakanya jelek kepadanya.  

sosoknya ceria, senyum selalu mengembang di bibirnya. bekerja sama dengannya sungguh menyenangkan. ia penuh permakluman. "kalau yang dekat saja tak mau memaklumi, apalagi yang jauh, begitu alasannya.