jangan langsung percaya apa yang kau lihat. mata itu menipu. tak percaya, pandanglah rel yang kedua ujungnya menyatu. atau sedotan yang tampak bengkok pada segelas lemon tea yang baru saja di pesan.
hari ini, aku juga tak yakin dengan penglihatanku sendiri. di pamulang, banten, di rumah seorang teman, ia mendapatkan undangan dari tetangganya. beliau, bapaknya akan pergi ke tanah suci tahun ini.
karena bersebelahan rumahnya, dia diminta membantu mempersiapkan walimatush shafar seperti yang tertulis di udangan. ia mempersiapkan tenda, mencari sound system dan lainya. layaknya orang yang akan hajatan sunatan.
acara yang akan berlangsung besoknya itu juga di hadiri ibu-ibu yang mempersiapkan makan siang.
banyak juga tamu yang datang. setelah acara pembukaan, pengajian pembacaan ayat-ayat dilanjutkan ceramah dan doa sambil menikmati camilan makanan ringan.
selesai menikmati prasmanan, kenyang. lalu satu satu tamu berpamitan. bersalaman dengan dua tuan rumah yang berdiri siap. dan dengan diam-diam setiap tamu menyelipkan amplop putih ke dalam telapak tangan.
“ngga enak mas kalau ga ikutan ngasih amplop. di sini sudah biasa begitu", kata salah satu hadirin. aku baru tahu, kayaknya dulu di tempatku tak pakai amplop-amplop itu.
ah barang kali, kali ini mataku memang menipu.



hee, baru tahu jg klo undangan syukuran haji pake amplop sgala ato mungkin cuma ditempat temenmu aja mas??wah..salah liat bener kali
Comment by kenny — November 4, 2007 @ 8:51 am
Yang punya rumah duitnya udah ngepass banget buat naek haji, hehehe.. :p
*btw, thanks udah berkunjung
Comment by Acho — November 4, 2007 @ 12:11 pm
lho kok pake amplop??
Comment by de — November 4, 2007 @ 11:15 pm
buat tambahan uang saku kali….
nanti pulang haji kan dapat oleh-oleh
Comment by evi — November 5, 2007 @ 1:58 am
sampeyan sendiri pernah menulis mas, biar islam tapi budaya animisme adalah manifestasi keseharian hidupnya potong satu generasi
Comment by iway — November 5, 2007 @ 2:09 am
kalo ditempatku, yang ngasih duit itu yang brangkat haji..sekalian sedekah..
Comment by gus pitik — November 5, 2007 @ 2:18 am
dalam surat kabar sumatera exspres, ada temuan yaitu alat
pendeteksi kebohongan melalui lensa mata kita.
(sumatera ekspres 05-11-2007)
Comment by dwi — November 5, 2007 @ 4:28 am
lho…. ndak kebalik
Comment by Anang — November 5, 2007 @ 4:29 am
wah ag ngerti aku..gak tau entuk undangan..hihi
Comment by mei — November 5, 2007 @ 4:40 am
lain padang..lain belalang..
Comment by susan — November 5, 2007 @ 6:48 am
weleh!
lha njuk ikutan nyelipin amplop nda mas?
Comment by aprikot — November 5, 2007 @ 7:07 am
1#kenny : saya juga baru tahu kok. cuman ini sudah hal yang biasa kata temanku itu.
2.# acho: bisa jadi. lumayan kan. toh tuan rumah tak pernah meminta bukan? menolak rezeki kan juga tak baik?
3.# mbak dena : embuh tiba2 mereka mengeluarkan amplop dari sakunya masing-masing.
4.# evi : tentu saja tidak lah. kan persiapannya sudah matang…
5.# iway.. iyo mas
6.#gus pitik : asyik dong, aku pasti mau banget datang, dah makan siang plus mulih disangonni.
7.#dwi : thx infonya. mana blognya?
8.#anang : heheh gak mas. memang begitu
9.#mei : wah jane pengen ngundang jua sayang alamatmu ilang
10.#susan : lain tangan, lain amplopnya
11.# gita: wah jelas ngga. saya datang, biasa cuman mau numpang makan siang doang kok
Comment by yang punya blog — November 5, 2007 @ 7:27 am
amplopan jadi tradisi deh..
Comment by andi bagus — November 5, 2007 @ 7:33 am
Welha kok malah yang mau tindak haji yang disumbang yo?......opo itu memang sengaja disetting ngumpulin sumbangan?
Mbuh raruh mah?
Comment by Ndoro Seten — November 5, 2007 @ 9:17 am
Belum tentu kan amplop itu isinya duit, bisa jadi daftar titipan doa untuk nanti dipanjatkan di depan ka’bah. Siapa tahu lho, toh mata bisa tertipu.
Ato bisa jadi itu bukan pamitan kaji, tapi sunatan, jadi musti kasih amplop. Siapa tahu lho, toh mata bisa tertipu.
Comment by Dony PD — November 6, 2007 @ 10:34 am