telah dua kali pengunjung blog menyebut dengan mbak dan nduk. agar tak untuk yang ketiga, baiklah mungkin saya perlu menjelaskan, saya adalah cowok. namun baru dua perempuan yang menyebut saya ganteng.
entah penyebutan itu berdasar apa. saya menduga, mungkin dari nama blog ini, fanabis. sengaja memilih nama itu, karena hanya di blog ini saya merasa fun yang sangat. bisa orgasme. bahkan berkali-kali, tanpa jeda.
blog ini merupakan tempat nyaman yang pernah ada, setelah setiap saat dikerubuti keberisikan rutinitas kerja harian. ngeblog, setidaknya beban kepala lebih ringan.
atau bisa jadi mereka menduga-duga seksualitas saya berdasar pada style/isi tulisan? apakah style sebuah tulisan bisa mengindikasikan gender seseorang? entahlah. yang jelas tulisan ini adalah pengalaman pribadi. baik yang bena-benar maupun pengalaman imajiner belaka.
saya terlahir di sebuah kampung jauh di pedalaman pulau jawa bagian selatan. tanahnya kapur. tandus dan gersang. areal persawahan hanya dialiri air langsung dari langit (tadah hujan). namun tak pernah kekurangan air minum. karena di kaki perbukitan terdapat sendang (mata air) yang tak pernah habis sepanjang tahun.
selain itu, sendang yang dikelilingi pohon-pohon besar itu juga merupakan pusat spiritualitas penduduk. (mungkin mirip dengan dukuh paruk dalam novelnya ahmad tohari).
secara statistik mayoritas memeluk agama islam yang terdiri dari 3 "versi". dan tentu saja saja masuk di salah satunya. karena memang saya tidak tahu. tahu-tahu masuk sekolah dan diajari bagaimana cara berterimakasih kepada Tuhan.
ada sebagian kecil yang memeluk nasrani. namun secara defacto, nyaris semua melakukan praktek animisme/dinamisme dan kejawen.
tampak jelas pada saat ada pesta, pernikahan, khitanan atau wayangan. sebelum hajatan berlangsung, tetua kampung mengirimkan sesaji yang dimasukkan ke dalam "keranjang" yang dibuat dari janur. orang-orang menyebutnya panjang ilang.
di dalamnya telah terisi setusuk sate raksasa (ukuranya sangat besar), ketan (jadah), telur ayam mentah, rokok, kemenyan dan sebungkus bunga mawar. lalu pak tua itu duduk takzim, menghadap pohon besar yang berpagar.
tanganya cekatan membolak-balik kemenyan agar terbakar sempurna. mulutnya menggumamkan mantra. bau magis meruap ke udara. di bawah pohon tampak sisa-sisa abu kemenyan berserak.
selesai, sesaji itu boleh diambil dan dimakan. konon makanan itu tak ada rasanya lagi. hambar. bahkan ada yang mengatakan, telur ayam yang sebelumnya penuh itu menjadi "koclak".
entah apakah saya beruntung atau merugi berada dalam keadaan yang seperti itu. ada yang menganggap praktek ritual semacam itu syrik, menduakan Tuhan. namun sampai sekarang ritual itu jalan terus.
tak ada bentrokan diantara mereka. semua baik-baik saja. saya cukup sering ngobrol dengan orang yang dituakan itu. bertanya banyak hal mengenai keyakinan yang dianutnya. tak jarang pertanyaan-pertanyaanku didiamkan. entah apakah itu memang benar-benar tak boleh di sebarkan atau sebab lain.
uraian pak tua itu sampai sekarang masih terus berputar-putar di kepalaku.
sampai kemudian saya tinggal di rumah pak dhe yang menjadikan Jesus sebagai juru selamatnya. di tempat baru ini, saya bercakap intens mengenai keyakinan mereka. sejak tinggal disini saya mempunyai dua hari raya. lebaran dan natalan.
pada bulan puasa, saya selalu mendapati makan sahur siap di meja ketika baru bangun. begitu pun saat berbuka, ada kolak atau es buah dan menu khusus. pada hari natal, saya juga ikut belanja pernak-pernik, menghias pohon natal atau mengantarkan misa ke gereja. pernah sekali ikut menemani dan ikut-ikutan melakukan peribadatan.
sampai sekarang saya masih merasakan sensai lain, ketika mendengarkan panis angelicus atau malam kudus. semacam perasaan agung, dan hening. bukan senang atau sedih. sampai sekarang saya mengunjungi mereka setiap lebaran.
lalu di metropolitan ini, saya terdampar dan bergaul dengan pak haji yang "ateis". penjelasan-penjelasannya menghentak. membombamdir, mengacau balaukan semua data-data yang pernah aku simpan sebelumnya. dia salah satu orang baik yang pernah saya kenal. dan dia mempunyai keyakinannya sendiri.
perjumpaanku dengan orang-orang unik belum berakhir. sekarang ini saya malah kecanduan bercengkerama dengan seseorang yang mengaku tak beragama, tapi dia yakin dengan keberadaan Tuhan. hmm.. ada sebanyak tarikan nafas jalan menuju Tuhan rupanya.


