mendekati lebaran, jakarta dikepung gerobak. misalnya di perumahan pondok indah. di setiap buku-buku jalan, di simpang kiri-kanan, tepatnya di depan rumah-rumah besar yang senyap, berderet dua tiga gerobak yang diam.
bukan gerobak yang rombeng dan kusam benar. masih tampak kuat, sekrup-sekrup yang belum karatan, dan papan kayu/seng yang belum keropos.
lebaran tahun ini deretan gerobak itu lebih banyak.
dari jauh mereka mirip pemulung. namun tak ada secuil pun barang rongsok di dalamnya. hanya ada dua bocah kecil bertelanjang kaki yang kepalanya menyembul keluar melampuai tinggi dindingnya.
di gerobak sebelahnya, sepasang orang tua muda menggelar kain batik di atas rumput jepang yang empuk. pasangan ini rupanya baru mempunyai satu anak, masih batita. mereka tak melakukan apa-apa, hanya duduk duduk saja. punggungnya menyender pada pohon palem yang lurus menjulang.
dari mana datangnya manusia gerobak yang munculnya setahun sekali itu? entah. dia bukan penduduk di sekitaran kawasan yang mayoritas penghuninya ekspatriat itu. mereka seperti siluman. muncul seketika, tak kelihatan kedatanganya.
mereka akan menghabiskan sisa akhir bulan puasa ini di tempat ini, sampai matahari turun dan suara takbir berkumandang. tak ada bekal makanan, mereka hanya mengandalkan pemberian nasi yang terbungkus kertas, karton atau setereofoam.
seperti siang itu, berlima mereka menikmati menu nasi putih dengan ayam goreng. sambil mengunyah, anak itu berpegangan dan menggoyang-goyangkan pagar besi yang sebesar lengannya.
sepertinya dia memanggil-manggil penghuni rumah agar segera menemuinya. sehingga ia bisa pulang lebih cepat. namun sampai nasi yang dikunyahnya lumat, tak ada tanda-tanda apa-apa. sampai esoknya mereka tetap menunggui, sampai ia pulang membawa bingkisan.
dan mereka bertemu kembali, tahun depan.



Wah di kemang tiap subuh banyak, kang, dan ga cuma menjelang lebaran, tapi tiap hari
Comment by Hedi — October 6, 2007 @ 4:23 pm
di ampel sby. kata temenku, jalan aja sampe ngga nyentuh tanah hehe
Comment by de — October 7, 2007 @ 2:49 am
indonesiaku yang masih jauh dari makmur dan sentosa
Comment by iman brotoseno — October 7, 2007 @ 4:08 am
aq kalo liat grobag2 gitu, jd inget pelm2 koboi
Comment by PriyayiSae — October 7, 2007 @ 5:06 am
sebentar lagi jakarta bakal penuh sampah karena nyang biasa narik gerobak pada mudik
Comment by passya.net — October 7, 2007 @ 6:39 am
sepanjang jalan fatmawati dr arah blok m juga banyak berjejer smp dgn perempatan lebak bulus, gerobak lengkap dgn pasangan bapak ibu dan anak yg masih balita.
kalo aku perhatikan kyknya mereka hanya muncul di bulan puasa aja.
Comment by evi — October 8, 2007 @ 12:45 am
Seperti ritual saja, hanya bulan puasa mereka datang setelah itu menghilang. Untuk apa? Padahal ongkos ke Jkt PP pastilah tak murah. Itu pertanyaan menggelitik dari dua tahun lalu. Pernah iseng bertanya, mereka cuma menggeleng ketawa terus menudukkan kepala, tak diangkat lagi sampai saya berlalu. Tak peduli juga agak sulit, apalagi melihat anak-anak dalam gerobak itu berpelukan kedinginan, tapi bersemangat ketika makanan terulur. Ah, pandai benar ya mereka membangkitkan rasa kemanusiaan kita. hebat!
Comment by susan — October 8, 2007 @ 4:10 am
ritual tahunan, seperti biasa
Comment by gita — October 8, 2007 @ 6:57 am
kasihan, tapi gimana yach….
mungkin memang sudah takdirnya mereka begitu
Comment by tresno — October 8, 2007 @ 7:38 am
Dan kenapa yah? Hanya setiap lebaran atau puasa hal ini terjadi? Apakah karena sebagian besar orangorang hanya ‘berbaik hati’ pada saat ‘bulan yang suci’?
:)
Comment by jejakkakiku — October 10, 2007 @ 1:37 am
d daerah bintaro juga gitu….setiap menjelang lebaran selalu ada banyak manusia gerobak..plus anak-anak balitanya =(
met idul fitri mas…mudik ya??
Comment by mei — October 10, 2007 @ 1:59 am