mendekati lebaran, jakarta dikepung gerobak. misalnya di perumahan pondok indah. di setiap buku-buku jalan, di simpang kiri-kanan, tepatnya di depan rumah-rumah besar yang senyap, berderet dua tiga gerobak yang diam.
bukan gerobak yang rombeng dan kusam benar. masih tampak kuat, sekrup-sekrup yang belum karatan, dan papan kayu/seng yang belum keropos.
lebaran tahun ini deretan gerobak itu lebih banyak.
dari jauh mereka mirip pemulung. namun tak ada secuil pun barang rongsok di dalamnya. hanya ada dua bocah kecil bertelanjang kaki yang kepalanya menyembul keluar melampuai tinggi dindingnya.
di gerobak sebelahnya, sepasang orang tua muda menggelar kain batik di atas rumput jepang yang empuk. pasangan ini rupanya baru mempunyai satu anak, masih batita. mereka tak melakukan apa-apa, hanya duduk duduk saja. punggungnya menyender pada pohon palem yang lurus menjulang.
dari mana datangnya manusia gerobak yang munculnya setahun sekali itu? entah. dia bukan penduduk di sekitaran kawasan yang mayoritas penghuninya ekspatriat itu. mereka seperti siluman. muncul seketika, tak kelihatan kedatanganya.
mereka akan menghabiskan sisa akhir bulan puasa ini di tempat ini, sampai matahari turun dan suara takbir berkumandang. tak ada bekal makanan, mereka hanya mengandalkan pemberian nasi yang terbungkus kertas, karton atau setereofoam.
seperti siang itu, berlima mereka menikmati menu nasi putih dengan ayam goreng. sambil mengunyah, anak itu berpegangan dan menggoyang-goyangkan pagar besi yang sebesar lengannya.
sepertinya dia memanggil-manggil penghuni rumah agar segera menemuinya. sehingga ia bisa pulang lebih cepat. namun sampai nasi yang dikunyahnya lumat, tak ada tanda-tanda apa-apa. sampai esoknya mereka tetap menunggui, sampai ia pulang membawa bingkisan.
dan mereka bertemu kembali, tahun depan.


