bulan puasa ini di sebuah kopaja, pagi. seorang ibu berjilbab duduk di kursi paling ujung. mulutnya komat-kamit terus menerus.
jempolnya bergerak ritmis, memencet tombol pada benda mirip stopwatch. terdengar klik klik klik… aku menduga dia berdzikir dalam hati.
di pintu tol, kini penjaga laki-lakinya memakai kopiah (peci). di sebuah pasar super mbaknya juga berubah, kepalanya bertutup. bukan jilbab, cuman selendang yang di sampirkan di pundak.
dan di sebuah pabrik, bosnya membuat peraturan baru: jam kerja di persingkat. pukul 15.00 sudah bubaran. tampak indah bukan?
namun aku baru saja melakukan "eksperimen moral". dua hari ini aku memakai celana jeans belel yang depannya, pas bagian lututnya sobek-sobek. ini pertama kalinya aku memakai. sebelumnya aku biasa berpakaian "wajar".
tanggapan orang-orang beragam. di jalanan, orang-orang memelototi lebih lama. ini aku tidak geer. beneran. bahkan ada anak-anak kira-kira usia 9 tahunan yang duduk di sampingku memandangi sangat lama.
di pabrik nyaris semua berkomentar sekedar basa basi, ada yang muji. "ciee… gaul sekarang. "kayak abege luh sekarang". puncaknya hanya satu yang serius, "koe kok tambah rusak!
perangkapku menangkap korbannya. masih saja ada orang yang terjebak pada simbol-simbol. dengan mudah memvonis seseorang hanya berdasar kilasan yang tampak.
meskipun aku bukan orang baik-baik benar. celanaku lebih menegaskan, aku begitu tak bermoralnya di mata sebagian orang. dan aku menduga orang-orang yang berpakaian gamis atau jilbab pasti dipersepsikan lebih baik.
duh kasian sekali aku punya teman masih seperti itu. yang jelas bukan kamu!



orang-orang yg terbiasa menilai buku hanya dari sampulnya, suatu saat akan kecewa dan kehilangan semua hikmah dan kebaikan dari sebuah buku.
Comment by anarkisantisimbolisme — October 3, 2007 @ 5:51 am
kasian mereka, kalo menurut saya mah
Comment by venus — October 3, 2007 @ 5:58 am
saya juga pernah dipadang sebelah mata gara gara berpakaian kumal seperti mahasiswa kost kostan yang ngga lulus lulus waktu melihat lihat hp di counter. bahkan ketika saya tanya harga hp yang mahal sipenjual cuek dan menganggap saya tiada. kejam benerrr….
Comment by mata — October 3, 2007 @ 6:01 am
setuju ma simbok,kesiyan mereka
Comment by langit — October 3, 2007 @ 6:32 am
biasa, banyakan orang melihat sesuatu dari luarnya dulu.
dan kayaknya emang mas kw ini ga pantes pake celana robek-robek dech hehehe…...
Comment by evi — October 3, 2007 @ 6:36 am
kesimpulan postingan mas kawe : jangan liat sampulnya aja, liat sak njero2ne
yha kl blm sempet liat njero’ne, mending diem, gak usah suudzon
Comment by pinkina — October 3, 2007 @ 6:42 am
Nice posting… tapi sy pernah dengar sebuah kalimat begini :” cara berpakaian adalah salah satu cara ybs menghargai diri sendiri dan rekan yang akan ditemuinya.” Tapii (lagi) terus terang sy juga tak setuju cara menilai hanya dari penampakan luar saja. Karena yang abadi hanyalah soul, jiwa itulah yang sebetul-betulnya diri kita.. (hiyyy serius amat yak…)
Comment by susan — October 3, 2007 @ 6:44 am
betul mas KW…tidak semua lelaki gendhut
tititnya kecil …
dan tidak semua wanita berdada besar isinya payudara semua …
hidup fanabis
Comment by balibul — October 3, 2007 @ 6:49 am
PUNK NOT DIE…!!
ayo.. mas kw rambutnya dibikin *mohawk dwong
Comment by shemut — October 3, 2007 @ 7:40 am
mas coba sesekali pake rok, trus liat gimana tanggapan mereka? pasti lebih beragam. ngga sekedar: cieee gaul nih yeee. wani mas?
Comment by mbokde — October 3, 2007 @ 8:36 am
@gembul : elingo omonge endiks kae lho..wong lemu ki nek mlaku mesthi mesam-mesem..soale geli..ndoge kejepit pupu..wakakaka
Comment by pitik — October 3, 2007 @ 8:56 am
@ shemut :
kemarin si mas kaweh na dah mohawk tuch rerambut nya.. hihi..
[penasaran??]
Comment by omith — October 3, 2007 @ 9:32 am
Jadi inget cerita: orang kaya yg datang ke pesta dengan pakaian lusuh, ngga dilayani. Dia pulang dan dateng lagi dengan suit mahal bermerk, dan dilayani.
Apa yg dilakukannya, makanan itu ditumpahkannya ke pakaiannya. “Kalian melayani pakaiannku kan?” sergahnya ketika para pelayan menunjukkan keheranannya.
Comment by Toga — October 3, 2007 @ 10:38 am
iyah, kasihan orang ke’gitu tapi kenyataannya masih banyak yg spt itu menilai dari penampilan
Comment by kenny — October 3, 2007 @ 3:59 pm
kalo bolong selutut shalate piye mas? pake sarung, secara auratmu kelihatan
@iqbal: bocah mesum!
Comment by iway — October 4, 2007 @ 12:58 am
haha! kamu amatir ya? dari mulai ngéngér di bangunan yang jendelanya seribu, aku udah pake jins yg di bagian dengkul robek 2-2nya. asik aja. orang nggak ‘high expectation’ sama kamu, tapi kamu bisa sekali2 ‘nampar’ mereka dengan omonganmu yg ‘sok’ tinggi, dengan lembaran duitmu di dompet yg satusan ewu semua, ato semacamnya; and walk away from them with nose tilted to the sky, head held high, and your ego rocketing outside the earth’s orbit. haha!
Comment by mPit — October 4, 2007 @ 9:15 am
jarene wong tuwo, ajning diri tuh dari 3 hal, yang pertama dari berpakaian, yang kedua dari kepribadian dan yang ketiga dari cara bertingkah laku.
wes aku mung arep ngomong kui thok khok..hehe
Comment by mei — October 5, 2007 @ 5:34 am
eksperiment berikutnya coba pake jilbab Om! Jangan lupa share lagi hasilnya disini >:D
Comment by guh — October 5, 2007 @ 8:30 am
That is known that cash can make us free. But what to do if someone doesn’t have cash? The one way is to try to get the personal loans or small business loan.
Comment by FrostHallie32 — September 17, 2010 @ 8:03 am