celanabulan puasa ini di sebuah kopaja, pagi. seorang ibu berjilbab duduk di kursi paling ujung. mulutnya komat-kamit terus menerus.

jempolnya bergerak ritmis, memencet tombol pada benda mirip stopwatch.  terdengar klik klik klik… aku menduga dia  berdzikir dalam hati.

di pintu tol, kini penjaga laki-lakinya memakai kopiah (peci). di sebuah pasar super mbaknya juga berubah, kepalanya bertutup. bukan jilbab, cuman selendang yang di sampirkan di pundak.

dan di sebuah pabrik, bosnya membuat peraturan baru: jam kerja di persingkat. pukul 15.00 sudah bubaran. tampak indah bukan?

namun aku baru saja melakukan "eksperimen moral". dua hari ini aku memakai celana jeans belel yang depannya, pas bagian lututnya sobek-sobek. ini pertama kalinya aku memakai. sebelumnya aku biasa berpakaian "wajar".

tanggapan orang-orang beragam. di jalanan, orang-orang memelototi lebih lama. ini aku tidak geer. beneran. bahkan ada anak-anak kira-kira usia 9 tahunan yang duduk di sampingku memandangi sangat lama.

di pabrik nyaris semua berkomentar sekedar basa basi, ada yang muji. "ciee… gaul sekarang. "kayak abege luh sekarang". puncaknya hanya satu yang serius, "koe kok tambah rusak!

perangkapku menangkap korbannya. masih saja ada orang yang terjebak pada simbol-simbol. dengan mudah memvonis seseorang hanya berdasar kilasan yang tampak.

meskipun aku bukan orang baik-baik benar. celanaku lebih menegaskan, aku begitu tak bermoralnya di mata sebagian orang. dan aku menduga orang-orang yang berpakaian gamis atau jilbab pasti dipersepsikan lebih baik.

duh kasian sekali aku punya teman masih seperti itu. yang jelas bukan kamu!