apa yang kulihat di sekelilingku adalah sebuah karya seni instalasi yang mirip di ruang pamer. meja meja berkaki rendah melingkar mengelilingi sebuah obor, seperti api abadi dari mrapen.
diatas meja-meja itu duduk lampu senthir mungil yang nyalanya redup terbungkus kaca.
tak ada lampu neon yang memancar. cahaya remang. namun tak perlu sampai berhati-hati melangkah. bulan purnama berusaha menerangi halaman gedung plasa gintung yang persis di simpang kiri jalan.
langit biru menyerupai laut. menghadirkan nuansa dekade silam, ketika cahaya bulan menjadi satu-satunya alat penerang.
orang-orang duduk lesehan. dua dua, saling berhadap-hadapan. di tengahnya menyisip dua buah kelapa yang bagian atasnya dipancung. hidungku mencium aroma wangi dari pembakaran yang asap putihnya membumbung langit.
dan kau pun tahu, adalah cumi-cumi bakar dari pedalalaman laut jawa yang diambil di tempat pelelangan ikan muara karang. entah aku tak pernah paham apakah cumi-cumi itu sekeluarga ikan atau bukan. aku lihat dari jauh, plakat warung ini "ikan bakar pak item".
lalu lalang mas-masnya mengantarkan nampan-nampan, sigap. bergelas-gelas yang beragam warna menuju ke sudut-sudut meja kayu. di sebelah lain sibuk memunguti sabut kelapa yang berceceran.
satu-satunya pak tua yang duduk di belakang meja itu, aku menduga pak item. pemilik sekaligus maskot yang yang di tuliskan di bentangan spanduk yang melingkunginya. berkopiah gagah, mengamati pelanggan yang memerlukan penjelasan.
bola mataku nyaris jatuh, menabrak nama menu yang dituliskan di daftar: nasi rebus. anganku langsung menuju pada bubur ayam depan pintu masuk tim yang fenomenal itu. kepenasaranku tak sampai menggerakkan otakku untuk memesan.
racikan bumbu yang pas, pelayanan yang sampai pagi memberikan sensasi yang tak pernah diperoleh di tempat lain. jaminan "tak enak tak usah bayar" adalah puncak dari keunikan tempat makan ini.
di depanku, bebek rica-rica pedas. dalam piring ceper berkuah yang tulang dan dagingnya telah memisah. di sebelahnya sebentuk bola nasi uduk bertabur bawang merah goreng. segelas besar es sirup kelapa muda, merah menyala.
nyaring terdengar genjrengan gitar, menyanyikan lagu "sepanjang jalan kenangan".



ini fiksi atau apa sih? keliatannya tempatnya enak
(aduh, pagi2 ngebayangin es kelapa muda..argghhhhh…)
Comment by venus — September 29, 2007 @ 12:59 am
waduh..kang..marai ngiler… ikan bakar… bebek rica pedas.. nyam…
Comment by deep — September 29, 2007 @ 1:47 am
wah lha sepanjang jalan kenangannya itu sing marai mak nyus…
Comment by mata — September 29, 2007 @ 2:55 am
cumi sama ikan satu simbah aja koq mas…
Comment by iman brotoseno — September 29, 2007 @ 5:22 am
abis makan bilang gak enak piye yah??ketahuan boong
Comment by kenny — September 29, 2007 @ 7:13 am
malam purnama… di taman… ber2… wedangan… gitaran sepanjang jalan kenangan… weh… UENAK TNANNNNNN
Comment by PriyayiSae — September 29, 2007 @ 9:15 am
di ciputat ya?
Comment by Hedi — September 29, 2007 @ 6:29 pm
sing nyanyi enak gak mas?
Comment by de — September 30, 2007 @ 2:36 am
pelayane ayu2 rak?
Comment by pitik — October 1, 2007 @ 2:08 am
lha tak kirain di muara karang jebulnya di rempoa
Comment by iway — October 1, 2007 @ 2:36 am
enak koyoke
Comment by pinkina — October 1, 2007 @ 4:36 am
halah…ngilerrr masss..nang muara karang mesti iki!!maeme pas bengi2 sambil lihat bulan segede gabong d samping warung-warung makan..iya khan???
Comment by mei — October 2, 2007 @ 12:32 am
Ih, deskripsi yang cantik… pagi-pagi jadi membayangkan cumi bakar dengan kecap dan mentega, asapnya mengepul-ngepul, badan yang dingin menjadi hangattt … mmmm …
Comment by hanny — October 9, 2007 @ 12:54 am
wah…ini deskripsi atau apa ya..inget beli nasi goreng malem2,rame,nasi goreng doyok (pak item). yg jualan remang2 pas ada pemadaman listrik bergilir

Comment by dwi — November 5, 2007 @ 6:44 am