sepakat bertemu langsung di warung buncit, soto nggading. kami bertiga, aku, mumu dan ipul telah menunggu beliaunya ustad gembul dan pitik yang akan memberi kuliah petang tujuh menit. sampai suara adzan di tipi selesai beliaunya belum datang.
ya sudahlah, kami membatalkan puasa duluan. mbaknya sudah menyiapkan welocome drink, es buah. pada temaram lampu yang bertutup kerucut dari anyaman bambu kami duduk berbincang sambil mendengarkan lagu keroncong bengawan solonya kakek gesang.
warung ini memang khusus menyediakan makanan dari kota hadiningrat itu. menu andalannya tengkleng, minumnya es dawet pasar gede. namun andai kita meminta jus, atau wedang jahe tersedia juga.
gembul dan mumu rupanya yang paling sering berurusan dengan tengkleng. mereka paham, bahan dasar sampai citarasanya yang khas. komentar mumu, tengkleng di jakarta selatan itu jauh berbeda dari yang ia temukan di nusukan, solo. tengkleng di sini kuahnya sangat pekat dan bumbunya terlalu gurih.
ipul meskipun dengan perjuangan berat sampai buncit sangat tak menikmati. "ora mbejaji, katanya. lebih enak tengkleng bakar." memang di sini, selain tengkleng yang lazim berbahan kambing, terdapat juga tengkleng sapi dan tengkleng bakar.
pitik, kali ini rupanya baru kenalan. belum pernah mengalami menikmati daging yang melilit tulang itu. dia hanya memesan berdasar harga, yang paling mahal!
tipikal orang indonesia yang suka ngumpul dan makan bareng, selesai makan kami berbincang. apa saja, yang tak serius dan remeh temeh khas obrolan bhi. keasyikan kami, mungkin sampai menjengkelkan mbak nya yang wira wiri sampai empat kali menambah teh poci dan gula batunya.
sayang gembul setelah kenyang pulang duluan, alasannya akan menjemput teman barunya ke senayan. padahal inti pertemuan itu baru saja dimulai. kepada gembul, kami berempat membuat suatu project yang tak lama lagi akan membuatmu terpana!
kau sebagai penontonnya saja ya, bukan pelaku, apalagi ikut menikmati nantinya. tak percaya, tunggu saja.
:) pisss…


