sekali-sekali ketakutan itu perlu. dan untuk memperoleh kami membelinya. minggu lalu kami ke citarik. melupakan sebentar saja rutinitas kerja dan kegiatan rumahan. mencari sensasi beda.
di sana kita bermain-main perasaan. meluncur mengikuti tali yang membentang serong di atas kali. di bawahnya batu-batu besar menunggui.
atau meniti segaris tali setinggi pohon kelapa berintangan. dan gongnya mengikuti arung jeram yang kebetulan arusnya deras karena hujan semalam.
di jamin semua itu aman. karena dipandu petugas yang berpengalaman.
aku yakin, dua kali kesana lagi, sensasi itu akan hilang. tak ada lagi perasaan cemas kehilangan. kehilangan kaki, tangan atau pacar. maksimal kepala pecah jatuh terbentur batu, atau terseret arus deras sungai yang berjeram dua belas itu. (yang paling aku ingat adalah jeram kuda liar)
kalau hanya untuk menyalakan adrenalin, tak harus jauh-jauh ke citarik. menurut kawanku, bisa dilakukan di mana saja.
“caranya?”
“gampang. mumpung bulan puasa, janganlah hanya berpura-pura menjadi orang papa. berlapar-lapar, tapi diam-diam kulkas di rumah pintunya sampai susah ditutup.
“tak salah bukan?”
“tidak!”
"lalu?"
"kondisikan kau berada dalam situasi tak pasti. bahkan untuk makan besok pagi pun kau tak punya persediaan. terlalu ekstrim kalau aku menyuruh membuang seluruh kepemilikan. kau masih punya nyali? pada hal bulan depan kau pasti masih terima gaji. ide ugal-ugalan yang edan?"
"ya."
“andai kau bisa menjalani, kau akan mendapatkan sensasi lebih. citarik bukan bandingannya. kau akan menemui hal-hal tak terduga, mengejutkan tiap detiknya, sungguh sesuatu yang misteri. mirip menanti kelahiran buah hati ke bumi pertam kali.”
dan pada puncak saat kau begitu terdesak kau akan menemui sesuatu yang pasti : semakin kau tak punya apa-apa, semakin kau tak akan merasa kehilangan.
"sik mas, aku mumet", jawabku sambill ngeluyur pergi.


