sebagai novel terbaik versi dewan kesenian jakarta 2006, hubbu yang ditulis mashuri sungguh mengecewakan. aku harus konfirmasi ke para juri ( terutama pak ahmad tohari) apa yang menyebabkan buku setebal 234 halaman ini layak mendapatkan apresiasi rp 15 juta?
baiklah, akan kuceritakan ketaknyamananku dalam membacanya. menurutku karya yang baik yang bisa "mengkampak muka" pembacanya. lha novel yang diterbitkan gramedia ini dimana keunggulannya?
secara teknik bercerita sangat biasa, konvensional. plot linier yang hanya mengandalkan kata sambung "mengingatkanku"," aku ingat" begitu seterusnya. selain memakai metafora yang usang, misalnya: ruwet seperti benang kusut.
isinya tak istimewa, "hanyalah" pengalaman masa bocah yang dididik ala pesantren lalu mendapat masukan dari orang lain yang dianggap bertolak belakang dengan ajaran pesantren. dilanjutkan masa smp sampai kuliah yang berisi cerita cinta monyet yang menye-menye!
bahkan mashuri menyediakan satu bab penuh untuk menuliskan diary masa smu nya. isinya hanya jejalan pengalaman anak abege kebanyakan. tak ada yang istimewa, bahkan cenderung norak dan basi. jika anda melewatkan membaca satu bab ini, kau tak akan merasa kehilangan tautan cerita.
dan puncaknya, cobalah cermati paragraf berikut:
"kalau sudah bermain, lupa sekolah!", omel si perempuan tadi, yang ternyata adalah ibu jarot, mutmainah.
"tidak bu. saya kira sudah magrib!", seru jarot.
perempuan yang ternyata ibu jarot itu langsung……..
pengulangan yang sia-sia bukan?. aku pikir pembaca tak sependek itu daya rekam otaknya. lalu masih bertebaran pengulangan kosa kata yang sama untuk menggambarkan keterkejutan tokohnya: "tergeragap". aku pikir dia penulis yang malas mencari padanan kata lain yang semakna.
memang di setiap akhir bab ada sesuatu yang cukup unik, mengejutkan. meskipun tak mendukung isi keseluruhan cerita.
di awal, pembukaanya prawayang: lonta lokapala mashuri memakai kata-kata yang cukup bertenaga namun ia tak sanggup mempertahankan intensitasnya itu. mulai bab satu dan seterusnya makin melemah.
*novel ini aku persembahkan kepada peng"komen" pertama".



petromaxx…
kalo bukunya jelek..berarti jurinya juga kurang bagus..tapi ahmad tohari kan bagus?
Comment by pitik — September 12, 2007 @ 3:42 am
kalo bukuna jelaks kenapa di bagi bagi..
...
[bingung.. garuk garuk] tp namana gratisan aku boleh dah..
heueueu.. penasaran ..
Comment by omith — September 12, 2007 @ 3:59 am
aku males dapet buku yg dikasih. jagainnya susah. ada beban moral sendiri. mending nyimpen buku yg hasil ngembat, soalnya pasti otomatis disayang2.
Comment by mPit — September 12, 2007 @ 3:59 am
walah, saya peng’komen’ kedua, jadi gak usah komen aja, hehehe..
btw, met puasa, maap lahir batin ya, mas kw
Comment by venus — September 12, 2007 @ 4:02 am
heleh…telat aku
hiks
Comment by pinkina — September 12, 2007 @ 4:39 am
penilaian ra enake ojo banter banter, ndak ra iso mlebu resensi bukune niriah neh.
Comment by tukang wedang — September 12, 2007 @ 5:34 am
hahaha…mas kawe saiki wis dadi kritikus jempolan hihihi.
Comment by mumu — September 12, 2007 @ 5:44 am
saya suka covernya…
Comment by mata — September 12, 2007 @ 9:29 am
Kosa kata yang diulang-ulang? mengingatkanku pada buku “Match Made in Heaven” irritating memang.
Comment by Novi — September 12, 2007 @ 11:53 am
Itulah, kompetisi/perlombaan/turnamen tak menjamin pemenangnya jempolan. Band pemenang festival rock pun sering jeblok dalam penjualan albumnya. Jadi, tergantung kita (konsumen) menyikapinya
Comment by Hedi — September 12, 2007 @ 3:53 pm
Saya link ke blog IBOEKOE review ini. Ringkas, tapi memukul. Perlu didukung review2 ini agar sastra indonesia lebih dikerjakan secara intens. Dengan hanya diajak berkelahi, 30 tahun akan datang sastra Indonesia beroleh nobel, seperti Yohannes Surya yang bertekad pada 2020 Indonesia dapat nobel fisika. Salam selalu
Comment by Indonesia Buku — September 23, 2007 @ 5:35 am
woalah. kakekane. aku rung moco.
Comment by simbah — October 21, 2007 @ 12:39 pm
saya menyesal baca buku Hubbu sebelum baca review disini, saya kira buku juara lomba bagus, ternyata sangat mengecewakan. Jauh lebih bagus buku yg saya beli iseng2 yaitu Peri Kecil di Sungai Nipah, yg sayangnya tdk ikut lomba.
Comment by rati — November 2, 2007 @ 5:04 am
klu gitu minta penjelasan donk
jadi g ribet sendiri
Comment by nike — February 19, 2008 @ 4:22 pm
iyah..membaca buku ini melelahkan, aneh juga kok menang, mengalahkan Glonggong yang menurut saya lebih berkualitas
Comment by unai — February 23, 2008 @ 8:36 am
dari semua komentar kognisasi yang ente kemukakan ,ana hanya bisa mengangguk paham.
yang pasti ,itu semua kodrat ilahi.
ia berkesempatan mendapat rezki universal dari sang empunya langit dan bumi.
Comment by smoke — June 21, 2008 @ 3:41 pm
belom baca
Comment by dewa01api — September 13, 2008 @ 5:36 am
ya..HUBBU lebih mending, dari pada Ayat-Ayat Cinta…
Comment by ammma — December 11, 2008 @ 11:08 am
hmm…
karya sastra apapun bentuknya memang terbuka untuk apresiasi dan kritik. setiap orang akan mempunyai pemahaman yang berbeda tergantung pada horison harapan masing2. menurut saya sendiri hubbu cukup baik. saya sendiri mendapat pencerahan setelah membacanya. mungkin karena saya lebih tertarik pada pemaknaan hingga tidak begitu memperhatikan luaran -redaksi. hal yang sangat menarik adalah usaha dalam mempersatukan alif lam mim [arab] dengan ha na ca ra ka [jawa].
menilik lebih jauh, saya pikir karena nilai kompromis bangsa kita sehingga kita kehilangan jati diri dan dapat dijajah lebih dari 3 abad. hmmm…mari mengapresiasi tanpa menghina.
salam.
Comment by Inidanoe — June 17, 2009 @ 5:02 am
The loans are useful for people, which want to organize their company. In fact, it’s not very hard to receive a student loan.
Comment by RobertMORTON — March 11, 2010 @ 10:26 pm
Following my monitoring, millions of people in the world receive the home loans from different creditors. Thence, there’s a good possibility to receive a secured loan in any country.
Comment by loan — June 28, 2011 @ 8:12 pm