cikidangsetua aku, kok tetap saja senang ketika ada kesempatan mbolos, mangkir kerja. mirip remaja 17 tahun yang pertama kali ciuman bibir. entah keidiotan ini belum juga hilang sejak jaman sekolah.

yang jelas,  saat orang-orang bergegas berangkat kerja menuju ke satu titik, aku meliar. melawan arus gerakan mereka yang menuju jakarta. jalanan lapang  tentu saja.

tujuan utama: citarik. aku (bertiga) menyusuri liukan jalan beraspal yang naik turun dan berkelok tajam. membelah perkebunan teh dan (sedikit) hutan.  sampailah di puncak pegunungan cikidang, sukabumi.  dari atas aku melihat lanskap yang sungguh menakjubkan.

sepanjang jangkauan mata yang tampak hanya warna hijau. lereng-lereng yang tertutup hamparan pohon-pohon kelapa sawit yang berjajar. matahari masih hangat, baru saja mengusir embun terakhir yang menggantung di ujung daun. langit cerah, sedikit awan altokumulus nampak mirip deretan ombak.

fantastis!

memandangi semuanya, ada semacam perasaan lepas dan bangga. aku seperti baru saja memenangkan pertempuran. aku telah membunuh hari kamis ini dan menjadikanya minggu. hari ini aku telah mengalahkan bertumpuk pekerjaan dan merayakannya dengan pesta di alam terbuka.

tak ada keriuhan dering telepon, bush ym atau berondongan email yang harus dipelototi detik itu juga. yang ada keheningan di sini. hanya sesekali keresek gesekan daun yang mengajak nyemplung ke tengah sungai citarik.

ya sungai yang berhulu di pegunungan halimun itu airnya tak begitu jernih namun bersih. bebas dari polutan. aku duduk di sebuah batu besar di tengah sungai. airnya yang dingin merayapi ke kaki yang terendam sampai lutut. tampak sepasang biawak sedang bercinta di pinggir tebing sebelah kiri.

tengah hari, saatnya makan siang. di sebuah saung yang beratap mirip daun tebu, telah disediakan nasi panas, ikan gurame bakar sambal cobek, sayur asam, lalap dan es kelapa muda.

kami duduk di lantai, lesehan. angin berhembus sepoy. namun diam-diam membisikan, besok ada pekerjaan yang mengunggu pelukan. bah!