kalian para perempuan, mungkin memendam rasa iri, kenapa tak lahir di tibet. di negeri para pengelana itu, perempuan bisa melakukan poliandri. bersuamikan dua laki-laki.
xinran yang wartawan itu dalam novel sky burial ini mengisahkan keindahan budaya dan alam tibet. teknik berceritanya mengulang cerita seribu satu malam. cerita yang didalamnya terdapat cerita lagi.
xinran menemukan shu wen. perempuan tua dari china itu telah berkelana selama 30 tahun ke tibet. ia mencari suaminya, kejun yang bertugas sebagai tentara pembebasan. saat itu mereke adalah pengantin baru. belum sebulan menjalani bulan madu.
dalam penantian, kabar membisikkan, suaminya tewas pada sebuah insiden. tak percaya, ia dengan segenap cintanya menyusul ke tibet, negeri yang belum pernah di jamahnya. ia bergabung dengan dinas ketentaraan.
dalam perjalanan ia bertemua zhouma, anak perempuan bangsawan tibet yang jatuh cinta pada budaya china. dari zhouma ia mulai memahami dan belajar budaya tibet. pada cuaca buruk, ia diterbangkan badai sampai pada sebuah keluarga. di lereng-lereng padang pegunungan itu shu wen mencari kabar tentang suaminya.
di dalam tenda itulah pertama kalinya ia terkejut melihat saierba bergumul di bawah selimut dengan geer, adik gela. gela adalah suami saierba. keterperanjatan itu disampaikan keda zhouma. dengan terkekeh zhouma menceritakan, anak-anak tibet tak memasalahkan ayahnya yang mana saja.
dari keluarga dua suami itu, lahirlah enam anak yang namanya diambilkan dari mantra yang diucapkan sehari-hari sewaktu berdoa. om ma ni pad me hum. dua anak laki-lainya telah dikirimkan ke biara untuk menjadi lama.
shu wen sangat mengagumi orang-orang tibet yang mandiri. sanggup mencukupi kebutuhan hidupnya tak tergantung bangsa lain. laki-laki menjahit pakaiannya dari kulit. makanan dihasilkan dari tanaman dan susu dari yak dan biri-biri gembalaanya.
disini pula shu wen belajar membuat bahan bakar dari kotoran ternak. dengan sekop lengkung khusus ia menyerok kotoran, meremas-remas dan menepuk-nepuknya menjadikan bulatan-bulatan lalu dikeringkan dibawah matahari. lalu disimpan di dalam tenda. ia juga kini mahir mengocok susu menjadikannya mentega.
yang paling dahsyat, adalah upacara pemakaman langit. menurut keyakian orang tibet, kematian tak perlu ditakuti. manusia harus bersemangat menanti kehidupan berikutnya.
upacara itu dimulai dengan memandikan jenasah. rambut di sekujur tubuh di cukur habis, dari kepala, sampai jempol kaki. lalu ia dibalut dengan kain putih dan diletakkan dalam posisi duduk dengan kepala menunduk diatas lutut.
pada hari baik, jenasah itu dibawa ke altar di puncak gunung. para lama mengumandangkan naskah suci untuk membebaskan rohnya dari penebusan dosa. jasad yang telah mati itu, dipenggal, diiris tipis diiringi suara terompet tanduk dari guru pemakaman.
tatkala ranting murbai disulut, terbentanglah sebuah jalan lima warna antara surga dan bumi yang mengundang para dewa turun ke altar. jenasah menjadi persembahan dewa-dewa. asap murbai menarik turun burung nasar dan burung keramat pemakan bangkai yang akan menyantap jasad itu.
shuwen, dibantu oleh keluarga tibet terus mencari kabar tentang suaminya. sampailah ia bertemu pendeta tua qiangba. cerita apa yang akan ia dengar dari pendeta yang selalu bernyanyi di tepi danau di puncak gunung itu?
baca selengkapnya aja. sangat menarik.!
judul: sky burial
pengarang: xinran
penerbit : serambi ilmu semesta
jumhlah halaman: 286
penerjemah: ken nadya irawardhani k
*versi indonesianya covernya bergambar gunung bersalju dengan tipe font yang sama.



nyilih mas…
Comment by mei — August 20, 2007 @ 12:59 am
satu lagi cerita tentang keteguhan hati…
Comment by pitik — August 20, 2007 @ 2:30 am
hummm… opo ra keturon moco buku tebel’e sak bantal ngono kuwi?
Comment by bebek — August 20, 2007 @ 5:46 am
sering2 aja me-review buku mas, bukune apik2 isine je. Soalnya skr gak sempat baca, sering ketidurannya
Comment by kenny — August 20, 2007 @ 6:53 am
suk dicritakke sing lengkap nang HI yo…
Comment by tukang wedang — August 20, 2007 @ 9:53 am
tak pek mari
kirim bareng kaos hehehe. Soale nek moco suka lama selesenya
Comment by de — August 20, 2007 @ 11:33 pm
suami dua? nentuin bapak si jabang bayi gimana?? tos-tosan koin ya? hewhwehew
Comment by Anang — August 21, 2007 @ 1:26 am
pokoknya pinjem! besok jumat malem dibawa ke HI. aku sisan ngembaliin buku-bukumu. hehe.
Comment by mPit — August 21, 2007 @ 4:19 am
dapet buku dari mana tuh mas?
Comment by akangaziz — August 21, 2007 @ 5:07 am
lhah. bagus ya? aku nyilih. ngantri juga gpp. duh!
Comment by venus — August 22, 2007 @ 2:07 am
Wah, nggak abis mikir kalau suaminya dua – bisa2 main pedang2an dulu deh sebelum pertempuran yang sebenarnya
hehehehe
Comment by Domba Garut! — August 22, 2007 @ 5:15 pm
fenomena masyarakat tibet masih saja mengundang banyak orang untuk menengoknya. dan memang seperti keajaiban dunia. kapan ya bisa kesana?
Comment by asbindro — August 23, 2007 @ 9:46 am
waduuh…mbacanya sih suka, masalahnya belinya itu lho.
mbok dipinjemi to ya…(maaf saya memang suka baca tapi lebih suka minjem hehehehe)
salam kenal
Comment by afin — September 20, 2007 @ 5:55 am