pagi itu sandal jepit kulit mengalasi kakinya yang melangkah ke pabrik. melenggang bebas, tak menjinjing tas. sweater hitam membalut tubuhnya yang berkaos putih bertulis St Oliver. aksen segaris warna hitam melingkar di bagian lehernya yang sewarna celana panjangnya.
rendy brianzah, fresh gradute dari smk telkom sandhy putra malang itu wajahnya pasi, suaranya lemah. deadline pekerjaan memaksanya sampai kantor sepagi itu.
sehari sebelumnya, suhu tubuhnya meninggi dan perutnya mual. saat ia menyuapkan makanan, seolah tertahan di dada. ia mencoba menenggak air. namun makanan yang dikunyahnya menghambur keluar.
ia limbung, berjalan seperti diatas awan. di kesendiriannya buruh baru yang belum nemikmati gaji pertamanya itu menelepon ke tanggung kulon, jember, tempat orang tuanya tinggal.
suaranya patah-patah menceritakan keluhan yang dirasakan. dari seberang, bapaknya menyuruh ngeriki perutnya dengan minyak tawon.
sebagai anak kost, sakit itu pedih. apalagi laki-laki yang belum genap berusia 18 tahun itu sendirian. tak ada saudara atau keluarga di sini. satu-satunya kerabatnya tinggal di ujung timur jakarta, cikarang.
ia mendiami salah satu kamar yang dibayarnya berdua dengan temannya.
beruntung satu teman kostnya sigap, mengajaknya ke dokter. sekarang ia bisa menelan makanan lunak. siang itu tak ada bubur ayam atau nasi tim. “makan lontong gak apa-apa kan mas asal ngunyahnya sampai halus”, tanyanya retoris.
makan siang dua hari lalu yang telat ia mengeluh. banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan dengan tenggat waktu yang singkat. “belum selesai, sudah ditambah lagi. sekarang aku lagi pusing. gimana cara meretrieve database yang outputnya berbentuk tabel per tanggal.“
“apakah memang bekerja itu seperti ini mas? “bagaimana kalau waktunya habis dan aku belum bisa menyelesaikannya?
aku memaklumi pertanyaan itu. namun ia memang benar-benar belum mengalami. di pabrik ini ia pertama kalinya bekerja. di tempat inilah pertama kali kakinya memijakkan ibu kota.
ia shock. sebulan sebelumnya ia anak manis yang semua perlengkapan di sediakan ibunya. kini ia harus nyemplung di sebuah tempat yang mengharuskan otak dan tenaganya terkuras.
belum lagi harus menyaksikan perilaku orang-orang yang mungkin dianggapnya sakit jiwa. berangkat kerja pada saat lampu jalan masih menyala. dan pulang setelah matahari tak kelihatan. apa yang mereka dapatkan kerja 16 jam sehari? umur yang berkurang dan utang yang bertambah.
tampak kepolosannya malam itu. ia tak mau mencicip setetes bir pun sewaktu di ajak karaokean. dan dengan senyum malu ia menolak berjoget atau menyanyi. puncaknya, ia pamit pulang duluan.
aku ingat pertama kali mengenalnya pagi itu.
suasana pabrik masih sepi. seorang opisboy belum selesai mengepel lantai. di lobi, laki-laki remaja menduduki sofa hitam, sendiri dan diam.
hanya matanya saja yang berkeliaran menatap penuh setiap buruh satu-satu yang lalu datang. dari sorot matanya yang memakai kaca mata minus, ia mencoba menduga-duga, seperti apa pabrik yang ia akan gabungi.
ia belum yakin, ia telah bergabung di sebuah pabrik terbesar seasia tenggara. karena ia memasuki sebuah gedung yang tampak kusam. untuk menuju ke lantai 2 ia harus memasuki lift yang lebih mirip kereta lori di perkebunan tebu peninggalan belanda.
kepenasarannya memuncak. satu-satu buruh yang masuk tak mencerminkan sedikit pun seorang professional. kebanyakan mereka berpakaian ala kadarnya. mengenakan t shirt dan sandal jepit. datangnya pun sungguh sudah siang. sayup-sayup ia mendengar kegaduhan dari dalam. suara musik saling bertabrakan.
pemandangan yang kontras dengan yang ia angankan sebelumnya. apalagi kalau merujuk pada iklan sebuah akademi di jogja yang berslogan “tempat kuliahnya orang berdasi”.
sampai jam yang dijanjikan lewat, orang yang akan menemuinya belum muncul. sebagai calon buruh baru, ia patuh dengan tips konsultan hrd yang ia baca di majalah: datang 30 menit lebih awal.
atau bisa jadi karena tempat kostnya yang dekat, di seberang pabrik.
cukup jalan kaki puluhan langkah. namun harus melewati bahaya lebih besar daripada naik gunung. ia harus menyeberangi dua ruas jalur jalan warung buncit raya yang nyaris 360 mobil melaju setiap menitnya.
lebih-lebih para sopir angkutan umum yang mirip babi yang telat diberi ransum itu. meskipun di kaca belakangnya tertera tulisan menyala “doa ibu”.
ia bisa berjalan memutar lewat jembatan penyeberangan. meskipun tak sepenuhnya aman juga. ia bisa saja terpelanting. sungai-sungai kecil yang berhulu di kaki jembatan yang juga sebagai tempat sampah mengalirkan lendir warna kekuningan yang menyengat. selain pemandangan chaos yang memualkan mata.
memakai kemeja terbaiknya, sepatu “kantor” mengkilat, tak menyembunyikan kegelisahannya. pikirannya melompat-lompat dari kampung tanggul kulon, jember ke suasana kantor ini, tempat pertama memulai karirnya.
tergesa ia hijrah ke ibu kota. kota yang mirip perempuan berwajah menyala yang mangkal di depan kuburan. tampak mewah di luar, namun di dalamnya menyimpan kebusukan. yang mengherankan tetap saja orang ingin lebih erat memeluknya.
saat melihat lowongan, ia langsung mengirimkan resume, tanpa ijazah yang masih tertinggal di sekolahnya. bahkan ia belum sempat menerakan cap tiga jari tengahnya di kertas berbingkai fractal itu.
namun ia tak takut. ia akan menerobos, menyibak segala rintangan dengan gagah berani. ia ingat betul pesan orang tuanya, mencari pengalaman baru untuk bekal hidupnya nanti.


