bebeksusiawan wijaya, dipanggil bebek. calon suami yang menghabiskan masa bocah di jember, jatim ini sekarang lagi “terperosok” di pedalaman aceh. ia mengaku berangkat ke tanah rencong karena ketakberdayaanya berkompetisi di ibu kota.

namun aku menduga sebenarnya tak demikian. secara kerja di instansi pemerintah, apalagi didukung bank dunia, salah satu alasan kuatnya ke serambi mekah itu karena reward yang diterima.

project yang dikerjakan adalah pembangunan fisik perumahan di kampung benteng yang di sapu tsunami lalu. tugas utamanya menyajikan ndobosan buat top dan middle management. sehingga ia sangat punya banyak waktu untuk santai.

sejak bulan maret lalu, ia harus beradaptasi dengan lingkungan dan budaya di tempat barunya. menurutnya semua makanan di aceh pedas ra nggenah. satu-satunya yang ia suka hanya mie aceh. “mati urip yo mung madang karo mie aceh”.

tempat nongkrong satu satunya di warung kopi "ie leubeuh". seperti apa rasanya? ia tak pernah mencobai kopi khas aceh itu. kata orang-orang rasanya lebih halus dan matap. ia lebih memilih menyeruput cofemix.

salah satu yang menarik tentu orang-orang aceh sendiri. terutama para perempuannya. ia merasa perempuan aceh semuanya tampak cantik, mungkin karena efek jilbab yang dikenakannya, begitu alasannya.

namun ia tak suka jalan. ia lebih memilih berdiam di rumah tembok seluas 70 m2, di dalam kamar berukuran 3×4 meter itu, laki-laki itu lebih betah memelototi layar monitor, online berjam-jam bahkan kadang seharian penuh.

hanya itu satu-satunya cara berkomunikasi dengan teman-temannya. beruntung ia masih berada di daerah yang mendapatkan sinyal penuh.

siang itu ia ingin menyegerakan obrolan berakhir. tampak dari pesan-pesan yang disampaikan, “wes dicatet kang? ra ono sing kelewatan? opo perlu diulang? ono sing ra jelas mungkin?

“kamu mau kemana sih?”

“pulsa kang pulsaaa. cekak ki!.

oh dewa-dewa penguasa langit. aku pikir dia seperti aku dan teman lain yang bebas menikmati bandwith yang disediakan kantor. ternyata tidak.  ia harus mengeluarkan biaya sendiri untuk pengentasan kesepiannya itu.   

bek, apakah kau tak merindukan suasana jakarta yang hiruk pikuk itu? jumat malam di bunderan hi yang riuh? ketemu teman-teman baru yang selalu menceriakan?

“tidak”, jawabnya pendek.
“lalu apa yang kau pikirkan?”
blogku traffic’e munggah ora yo.”

dibalik candanya, aku bisa merasakan kerinduannya itu. secara dia adalah pelopor berdirinya komunitas nongkrong di bibir kolam plasa Indonesia itu. jabatannya saja hebat: panglima kopdar. karena setiap hari dia nyaris kopdaran.

dan selama lima bulan di aceh ia baru sempat kopdaran sekali. karena tempat tinggalnya, kampung benteng, pidie jarak tempuhnya 3 jam dari banda aceh,

orangnya cukup kocak, suka melucu namun ia menolak menceritakan masa lalunya. yang bisa ia sampaikan, ia pernah bercita-cita ingin menjadi model. andai kalian tak yakin lihatlah di gallery webnya. semuanya nyaris berisi foto dirinya dalam berbagai pose.

selain online, ia membunuh kesepiannya dengan pergi ke samping rumahnya yang hibahan dari palang merah perancis. memandangi pantai berpasir yang senyap atau ombak selat malaka yang selalu sejajar menuju garis pantai.

secepatnya ia ingin menikah, mencipta sebuah keluarga, tempat yang bisa membuat ia merasa nyaman beraktivitas. “keluarga kuwi panggonan gawe browsing, chating, dan bahkan spamming”. ia menutup perbincangan via ym siang itu. ia mengantuk, semalaman tak tidur.

sayang di kamarnya tak ada kasur, adanya hanya sleeping bag, gallon aqua, tas dan rak-rakan yang dibuatnya sendiri dari papan bekas bangunan. selebihnya dinding-dinding bisu.

ok selamat tidur, mimpi indah kawan!

link: mas bah, ipul, hadik, pito, gita, endik

*foto diambil dari http://i-bebek.net