denias, senandung diatas awan tampaknya ingin nggamparin pemerintah dan freeport. aku tak yakin kedua kelompok  yang nyaris tak punya rasa itu akan tersentuh dengan film ini. 

kesenjangan begitu terbentang, namun mereka menganggap perkara ampang.

di pedalaman kampung denias (albert fakdawer) keterbelakangan sangat nampak kasat mata.

mereka tinggal di honai-honai yang beratap rendah. tidur beralas rumput kering dan sebagian laki-laki menelanjangi dadanya. denias yang usianya melewati usia masuk sekolah itu hanya mempunyai satu kaos kesebelasan brasil dengan nomor punggung 7.

tak ada gedung sekolah. sebuah gubuk tanpa dinding menjadi tempat berbagi ilmu. seorang guru dari jawa mengajar suka rela. namun sayang ia harus pulang karena isterinya sakit.

kepulangannya menjadikan sekolahan darurat itu nyaris bubar. maleo seorang militer yang ditugaskan di daerah itu menggantikannya. sayang sekolahan itu ambruk lebih cepat. dan yang paling telak, maleo harus pergi dengan pesan kepada denias untuk sekolah ke kota.

empat hari denias menuju sekolahan yang belum pernah ia tahu sebelumnya dengan telanjang kaki. berbekal pesan ibunya di surga bahwa gunung takut anak sekolah ia memantapkan tekad meraih impian.

sampai ke kota, ketemulah ia dengan enos, gelandangan yang pernah bersekolah namun entah kenapa berhenti. dari enos, denias mendapatkan masukan, bu guru gembala sering memberikan hukuman andai ia terlambat.

enos pernah di hukum dengan menyanyikan 100 ekor ayam di depan kelas. liriknya :

ada 100 ekor ayam, mati satu, 99.
ada 99 ekor ayam mati satu, 98
ada 98 ekor ayam mati satu, 97
………. 

tentu saja ia harus menyanyikan sampai ayam-ayam itu 0. bisa bayangkan berapa lama ia akan menyelesaikan hukumannya. belum kalau salah hitung. sambil nyanyi ia berpikir. saat ayam tinggal 90 enos melanjutkan nyanyiannya: "ada 90 ekor ayam dikasih potas mati semua!"

sutradara jhon de rantau menampilkan gambar-gambar alam papua yang indah, pegunungan, lembah, danau sentani dan budaya yang selama ini belum terekspos: upacara adat pemakaian koteka pertama pada anak-anak yang mulai menapaki masa remaja juga upacara duka pemotongan jempol tangan kiri suami saat  isterinya meninggal.

film ini berdasarkan kisah nyata kegigihan janias yang kini bersekolah di Darwin.

*gambar diambil dari http://www.deniasmovie.com/