"kabar baik itu harus disampaikan"
namun seharian kemarin aku mendapati orang di sekelilingku menyampaikan kabar yang sebaliknya. tak hanya buruk tapi menyayat.
via ym dia menceritakan seharian ia di rumah, tak bisa kemana-mana. trauma. waktu sedang mencari parkiran di tugu proklamasi, mobilnya ditabrak bocah laki-laki. namanya bagus, usianya baru 3 tahun.
semalam penuh ia menunggui di ruang icu rumah sakit. keadaan bocah lucu itu parah, tujuh tulangnya patah, termasuk tulang leher.
kabar terakhir ia sudah di pindahkan ke ruang rawat biasa. memang bukan sepenuhnya salah dia. sehingga orang tua bagus pun bisa memahami.
teman kerja samping meja baru saja di telepon dari kampungnya di jogja. ayahnya diserang hepatitis. dengan sekuat tenaga pontang panting dia mengurus semua administrasi rumah sakitnya. dan ia berhasil mentrasnsfer biayanya.
sampai di tempat kost, musibah itu menyamperin teman kamar sebelah. ia yang hari itu ke kampus menabrak pak tua yang menyeberang di depan pool taksi kebayoran lama.
pak tua itu sampai sekarang (17/7/2007 jam 19:00 waktu bintaro) masih koma, dan teman yang diboncengnya tulang pahanya patah. ia sendiri tak lecet sedikitpun, sehat.
masih satu lagi kabar "buruk" itu sampai ke telingaku, kali ini tetangga dekatku. dari bapak dua anak yang petang itu kebingungan tak punya uang beli sepatu anaknya yang baru masuk tahun ajaran baru.
duh, apakah aku masih harus bertanya apa maksudNYA menyampaikan semua ini?
selama ini otakku hanya dikuasai pikiran kerakusan. ingin selalu memuaskan keinginan sendiri, tanpa tahu kapan harus merasa cukup.
dan itu membuatku merasa orang termalang sedunia. apalagi setelah ditolak cinta: merutuki diri, menyalahkan keadaan dan pengen gamparin semua orang!
padahal aku masih bisa makan pagi, ngeblog dan kerja tiap hari. yang paling melegakan, virus-virus yang sempat memerahkan mataku hanya mampir semalam. langsung lenyap setelah kuminta pergi.
Dia masih menyapaku, lembut. mengingatkan kerapuhanku, kecengenganku yang membuatku picik tak sempat melihat ke luar.
keabaian itu bahkan sampai membutakanku pada tetangga bapak sebelahku itu. padahal aku tahu, kita semua adalah cahaya dari satu mentari, kita adalah ombak dari satu laut. ( ini nyomot kata-kata budha)
dan hidupku ternyata enak sekali!


