loving youdi sebuah majelis, sekelompok orang berpakaian putih-putih duduk melingkar. di tengahnya sang pemimpin menguraikan pesan jibril dari Tuhan untuk melakukan pengakuan dosa.

satu-satu mereka melangkah ke tengah ruangan yang berubah menjadi altar suci. duduk bersimpuh dengan kepala menunduk. mulutnya terpatah-patah menceritakan  aib waktu lalu. berbohong, mencuri, korupsi, masturbasi dan segala dosa lain.
 
perasaanya meringan, beban berat yang menghimpit dadanya terangkat ketika ia berani mengakui aibnya. ia telah sanggup mengalahkan rasa malunya, mengungkapkannya lugas.
 
meniti jalan "kebenaran" memang tak mudah. pengakuan dosa itu hanyalah bagian dari pensucian diri. yang lebih dramatis, jibril menyuruh pengikut keyakinan itu melakukan pensucian dengan api.
 
perintah harus dijalankan. tak ada rasa gentar sepercik pun. laki-laki muda itu langsung bersiap. proses pensucian dengan api dimulai dengan membabat rambut lebatnya sampai tandas. sebagaian per sebagian, organ tubuhnya dibakar.
 
pembakaran dimulai dari atas. kepala yang sudah gundul dibasahi dengan lap yang telah dicelupkan ke dalam spiritus. lalu nyala korek api langsung menyambar membakar kepala plontos itu. pembakaran dilanjutkan ke bagian mata, telinga tangan  terus ke bawah sampai ke penis.

ajaib… api itu tak membakar kulit. hanya kelopak mata yang paling parah terluka. menurut pengakuan laki-laki itu, ia memang sering melihat gambar porno di internet.

adegan itu bukan fiksi. serius! itu adalah bagian dari isi buku yang judulnya loving you. buku setebal 204 hal ini menguraikan perjalanan spiritual seseorang mencari kebenaran. soemardiono, penulisnya sejak remaja rajin mengikuti pengajian kampung sampai ke kampusnya di bandung. dalam proses pencarian itu, ia mengalami hal-hal aneh.

pernah ia bermimpi menjumpai orang tua berbaju kulit kambing di pantai. orang tua itu menyerahkan baju yang bergambar bintang bersudut lima dalam sebuah lingkaran ke dirinya. esoknya, ia menganggap telah bertemu dengan nabi khidr.

pada sebuah pagi di rumah kostnya, ia seperti masuk ke sebuah lorong cahaya. ia menemukan laki-laki  berambut sebahu yang memegang buku. beberapa orang duduk khusuk seolah mendengarkan khutbahnya. dan ia beranggapan telah bertemu jesus.

perjalanan serasa melewati cahaya putih itu berhenti di depan pintu yang tertutup. ia membukanya. tampak seseorang duduk tasyahud membelakanginya. laki-laki itu mengajaknya bersujud tanpa menoleh. ia merasa sudah sangat mengenal sosok tersebut dan menduga sebagai nabi Muhammad.

sejak saat itu, ia mulai melihat kegaiban dari sudut pandang yang bertolak belakang dengan keyakinan sebelumnya. dari teman kostnya yang juga teman diskusinya ia dipertemukan dengan komunitas yang dianggap dianggapnya pas.

tapi ia kecewa, pemimpinnya ternyata seorang perempuan. "seperti inikah sosok yang disuruh menyampaikan pesan-pesan Tuhan?" begitu pikirnya. dari perenungan dan diskusi ia mengkaji ulang tentang doktrin manusia sempurna.

menurutnya dari sosok pemimpin perempuan yang ibu rumah tangga tersebut ia mendapatkan pemahaman baru. Tuhan sedang melakukan dekonstruksi terhadap pengkultusan gambaran tentang kesalehan.

ketika sebagian orang menganggap laki-laki adalah sosok yang lebih utama, Tuhan memilih seorang perempuan untuk menjadi utusannya. saat orang mengagungkan pengetahuan dan gelar akademis sebagai ukuran kehormatan, Tuhan memilih utusannya perempuan yang tak lulus sma dan mempunyai logika sederhana. 

ia paham, tak penting benar siapa utusan Tuhan, yang lebih penting adalah isi pesannya.

pergulatan untuk menempuh jalan parenial (pluralism kalau gak salah ya) ini,  bukanlah sesuatu yang mudah. ia harus mengorbankan karirnya di bppn. dan menjalani kehidupan spiritual yang total.

yang paling sulit tentu saat ia harus menjelaskan kepada ibunya keyakinan barunya itu. tentu perempuan renta berusia 70 tahun itu sulit memahaminya. ibunya merasa, anaknya kini kelihatan semakin jauh dari ukuran kebahagiaan yang umum.

sebenarnya ia tak ingin menambah kesedihan ibunya yang sendiri sejak suaminya meninggal. saat itu soemardiono berumur 3 tahun.  namun menghadapi pilihan antara ibu dan kesaksian Tuhan yang diberikan kepadanya adalah sebuah perbandingan yang tak sepadan.

buku ini tak menyebut nama penerbitnya. juga tak ada serial isbn nya. dan pastinya  tak dijual di toko. aku mendapatkannya secara tak sengaja.  penulisnya, salah satu pengikut salamulah pimpinan lia aminudin, si perangkai bunga itu.