main nintendo di sela-sela kerja cukup memunculkan sensasi yang beda. karena baru sebulan ini keberadaanya. aku paling suka main tenis lapangan, single. suara "cetok-cetok"nya mampu mematuk-matuk otakku yang selalu terasa semrawut.
monitor 24 inch itu berada di tengah ruangan. meja-meja nyaris mengelilinginya dengan posisi membelakangi monitor, menghadap ke tembok. sengaja agar tak mengganggu aktivitas yang sedang refreshing.
jumat sore ini, seolah semua kumat. dari meja pojokan ujung terdengar petikan gitar, menyanyikan lagu-lagu cinta nostalgia. suara sember tak apa, yang penting isi hati keluar semua!, begitu kali prinsipnya.
teriakan, makian para "pemain" beradu dengan diskusi pemilihan warna corporate yang cocok client baru. sebagian bergerombol ngopi, para perempuan terutama. kalau sudah begitu, suara candaan, celaan, jeritan ngakak sampai nangis-nangis bersahutan.
keluarlah ingatan mereka cerita konyol nan memalukan. bagaimana kelakuan si a pertama kali memijakkan kakinya di jembatan salam, sunter. ia melewati kali yang airnya sehitam oli gemuk dan baunya sebusuk bunga reflesia itu sambil terus memencet hidungnya.
dan telah enam bulan ia masih betah menumpang gratis di rumah kakaknya itu.
atau saat makan di mcd misalnya. waktu akan cuci tangan ia hanya ngikut orang-orang yang antri. setelah membasuh telapak tangannya mereka mengacungkannya ke bawah pengering. tanpa sadar ia berada di urutan terakhir. bingung tak menemukan tombol untuk mematikan, ia nyalak berteriak, "gimana cara matiinya?". sigap, semua orang menoleh ke arahnya.
yang lain main balapan f1 dengan button volume speaker dipentokkan ke kanan.
tampak orang-orang asyik dengan urusanya sendiri, tak terusik, kecuali pabrik sebelah. dulu, pernah dua kali penghuni ruang samping kiri itu nyamperin, mohon takzim untuk tak berisik, merendahkan volume speakernya.
memang susah mengubah kebisaan itu. dua bulan berikutnya dua surat peringatan dari pengelola gedung melayang ke meja direktur. apa lacur, surat itu seolah membetur dinding kapur.
mereka memilih melapisi dinding perbatasan itu dengan peredam.



pertamina
Comment by Luthfi — July 14, 2007 @ 8:54 am
keduax
Comment by Anang — July 14, 2007 @ 4:50 pm
oh… jadi itu alasannya kmaren knapa pulang buru-buru dari HI dan keukeuh pen balik ke kantor?!
*nyengiriblis*
Comment by mPitzky — July 14, 2007 @ 7:06 pm
untung cuma berakhir disitu gak sampe ada demo
Comment by kenny — July 14, 2007 @ 11:30 pm
maen ps aja kang… lebih mantaff ps 3 tapi.. kok maen nitendo. mario bros ? haha
Comment by mata — July 15, 2007 @ 2:03 am
kok kayaknya saingan ma pasar minggu ja tuh ramenya kantor… huw huw…
Comment by bebek — July 15, 2007 @ 4:11 am
PS dooonggg…guitar hero mak nyusss tenannnn…
Comment by venus — July 15, 2007 @ 4:35 am
mesti asik banget ya, iso sak kantor ngeblong bareng tur nang kantor pisan.. pengen..
Comment by sayur — July 15, 2007 @ 5:17 am
maen PS apalagi klo sticknya dah wireless lbh muantap mas
Comment by gita — July 15, 2007 @ 11:18 am
maen soliter wae lah.. gak pake suara brisik hehehe
Comment by de — July 15, 2007 @ 11:29 pm
wooo jadi kerjamu main nintendo, pantesan ditanyain ga mau ngaku
Comment by iway — July 16, 2007 @ 1:59 am
wah seru nih klo terjadi perang.. klo terjadi perang, sy dukung pabrik yg mana ya? serbuuuuuuu!! sikattt! bantai
tusuk dah! kamikaze dulu ah.. :p
Comment by akangaziz — July 16, 2007 @ 2:46 am
aduh no 13.. angka sial deh.. sial aku ga ngerti jalan ceritanya nih..:(
Comment by PnC — July 16, 2007 @ 5:04 am
wahh seru gt suasana kantormu mas???keren tenan, iso ngilangke sumpek kui..apa khas kantor media emang gt ya??
btw ono info pembantu ra(hihi..)
Comment by mei — July 16, 2007 @ 5:32 am
data statistik menunjukkan klo lebih sering kalahnya daripada menangnya.. :p
Comment by akangaziz — July 18, 2007 @ 1:46 am