zaman ini mencari kerja sangat susah, bagi orang kebanyakan. namun segelintir orang yang berkompetensi tinggi membantah fakta ini. contohnya moja.
baru enam bulan laki-laki itu memburuh. namun ia harus angkat kaki hari ini. ada tawaran menggiurkan yang tak pantas ditolak. alumnus teknik arsitektur yang telah menghasilkan satu masjid ini juga pernah menekuni bidang lain: network engineer dan web desainer. dia juga penulis fiksi yang bisa bermain musik.
ketika kawan-kawannya berburu lowongan kerja, ia tak perlu meringsek di acara karir expo, memelototi lowongan kerja di koran sabtu atau mengirimkan berpuluh-puluh resume via email.
mengandalkan networknya yang luas, personality yang bagus, memungkinkannya terus berpindah dari satu pabrik ke pabrik lain. ia sangat menentang paham konvensional yang mencap berpindah-pindah kerjaan itu suatu ketikdakonsistenan dan ketakketekunan.
apalagi saat ayahnya menyarankan agar merasa ikut memiliki pabrik tempatnya bekerja, tentu ia menolak. meskipun hanya dalam hati. sebagai buruh, ia memang tak memiliki se 0 persen pun saham pabrik. ia hanya dibayar sesuai jasa yang ia usahakan.
bahkan kadang bisa lebih rendah. mengingat sistem kapitalis yang sebisa mungkin menggencet buruh sampai tandas. andai yang bersangkutan masih tetap diam, hal itu akan dianggap baik-bak saja.
pernah pabriknya menjanjikan mimpi-mimpi basah. tak lama lagi akan menerapkan program esop (employee stock ownership plan). para buruh diberi pilihan untuk memiliki saham sekian persen yang di nyatakan dalam jumlah lembar.
saat itu harga per lembarnya 100 rupiah. namun para buruh membayarnya kelak ketika pabrik go public di lantai bursa. mereka bisa langsung menjualnya. idealnya harganya pasti naik. dari selisih harga itu para buruh mendapatkan sejumlah rupiah.
tawaran itu ia abaikan. ia melangkah bebas meninggalkan pabrik, setelah diam-diam seseorang memperhatikannya. seorang pencari buruh potensial dari perusahaan kompetitor.
tanpa sepengetahuan yang lain, head hunter tsb menyamar menjadi buruh di pabrik tempatnya kerja. dengan jeli ia mengamati setiap gerak buruh-buruh di sekitarnya. ia mencatat orang-orang potensial yang layak “dibajak” di setiap divisi.
dan moja menjadi salah satu sasarannya. tanpa negosiasi, ia diminta mengajukan jumlah gaji yang selayaknya, plus fasilitas plus uang kompensasi pindah.
memang, ia bukan tipe buruh yang berjingkrak kegirangan saat bosnya tak datang atau sakit. atau sebaliknya pura-pura sibuk saat bos di dekatnya. ia merasa tak mempunyai ikatan emosional apa-apa selain hubungan majikan dan buruh (bukan mitra).
kebanyakan majikan konvensional hanya menganggap buruh tak lebih sebutir gotri di sebuah industri. “mau silakan, gak mau ya pergi aja. toh di luar masih banyak yang antre bukan?”
ia bukan pembantu setia yang selalu nurut. ia lebih memilih setia pada profesi: maju tak gentar mencari pabrik yang membayar lebih besar.


