kamis tengah malam di jalan mahakam. lalu lintas ramai tersendat. di pinggirnya tiga-empat orang mengelompok. seorang anjelo dan selebihnya perempuan-perempuan setengah telanjang.
pada laju mobil yang menyiput, salah satu perempuan itu melambaikan jari-jarinya. (karena mereka tak mengangkat tangan). mobil yang disapa membuka kaca setengahnya, perempuan itu menghampiri.
terjadi perbincangan yang setengah berbisik. berlangsung tawar menawar. rupanya tak ada kesepakatan. mobil itu melanjutkan jalannya.
kami berlima, yang dibelakangnya, berseru bareng, "jelek jelek", yang berikutnya aja". dalam temaram lampu jalan, sebenarnya perempuan itu cukup manis.
masih muda, 20 tahunan berkulit putih. rambutnya lurus, terurai menutupi teteknya yang terbuka setengah. ia hanya melilitkan kain setinggi 15 senti di dadanya. pusernya keliatan, bertato bunga kamboja.
inocent. andai tak berada di kawasan itu dini hari, kau akan mengira dia mahasiswai santun yang tak mengenal dunia malam. apalagi jika berjilbab, mirip saskia mecca.
entah alasan kuat apa yang menyebabkan dia memilih berprofesi di jalanan. terdesak kebutuhan ekonomi karena ayahnya yang penyakitan dan harus membayar uang sekolah adik-adiknya di kampung?
atau mereka paham benar keadaan manusia metro yang psikosomatik akibat dahsyatnya tekanan yang mendera tiap detik, setiap harinya? dan ia ingin menawarkan pelepasannya?
dari jarak kurang dari 10 meter, ada kelompok lain. tampak salah satu dari mereka menungging, merayu orang laki-laki di dalam mobil. lalu ia masuk kedalamnya. kami menyalipnya.
dari jalan mahakam kami belok kiri mengarah ke jalan barito.
kali ini, seorang perempuan cebol gendut melambaikan tangan. dia sangat agresif menghampiri langsung ke pintu mobil. kami melambat, belum minggir.
ia mendongakakkan kepalanya menatap lawan bicaranya. dandanannya sangat kontras dengan para perempuan yang berlindung di kegelapan bayangan pohon.
ia memakai t shirt, bercelanan panjang. tanpa riasan dengan rambut dikuncir ke belakang. awut-awutan dan ia cuek.
ternyata ia "komandannya". dia menawarkan diskon untuk short time. artinya tak akan sampai terjadi penetrasi dan dengan waktu paling lama 1 jam, urainya. tegas, singkat dan tak "rikuh" sama sekali.
andai deal, transaksi dilakukan di tempat itu juga, baru perempuan itu bisa dibawa. termasuk ke tempat kost.
di belakang, deretan mobil makin banyak. mereka melambatkan lajunya. malah seolah sengaja berlama-lama. bisa jadi mereka menikmati pemandangan. malam itu tak ada operasi/razia, para anjelo tak ada tugas, berdiam.
telah dua kali kami memutari kawasan itu. makin malam keisengan kami berlima makin kacau. kami menawar setiap perempuan dengan setengah berteriak. "gratis dong sekali-sekali?".
seolah tahu apa tujuan kami sebenarnya, sambil balik arah dia menjawab, "memangnnya me*** milik negara".
*anjelo : antar jemput ***te. tugashnya juga menyelamatkan mereka saat ada razia.


