aha jumat, tanggal 29 lagi, hari baik tiap bulan yang aku miliki. senang, pasti!
mendadak, ting… satu email masuk lagi.
"mohon maaf, gaji bulan ini baru efektif dapat diterima tanggal 29, karena ada kesalahan teknis. demikian mudah-mudahan maklum".
email itu memecah konsentrasi saat aku memeriksa beberapa rekening tagihan dan merinci detail pengeluaran sebulan kedepan. termasuk harus mentransfer ke pekalongan untuk biaya kelulusan adikku.
ketelatan, selalu datang tak tepat waktu. seperti kali ini. hanya satu hari memang. aku bisa maklum dan memaafkan. namun aplikasi program komputer bank telah menset, telat dua puluh sembilan detik sama saja telat sebulan. artinya bank akan memberikan sanksi. mereka telah menganggapku mangkir, ngemplang!.
artinya lagi, tanggal 29 saya tak punya uang sama sekali, receh pun. seperti yang pernah aku sampaikan, aku selalu mengepaskan uang pengeluaran. uangku akan habis pas tanggal dimana gaji masuk.
jangan pernah tanya tentang tabungan. saya memang tak pernah menabung. selama masih ada sisa saldo sesedikit pun, keinginan "jalan" tak bisa dihentikan, bak laju waktu.
kenapa? aku tak mau kelelahan lagi memikirkan pengeluaran. karena aku mendapatkan uang itu harus dengan memeras otak dan keringat sampai sepah. membelanjakannya harus mikir lagi? capek deh.
memang ada niatan untuk menabung. rencananya baru akan mulai beberapa bulan ke depan. lalu bagaimana kalau tiba-tiba sakit atau ada keperluan lain?
alhamdulilah, puji tuhan, seingetku aku belum pernah sakit sampai terlantar di rumah sakit. palingan cuman flu biasa, greges-gres yang langsung minggir terusir obat generik, makan banyak dan istirahat.
begitu juga masalah meribetkan yang menyangkut uang, nyaris tak pernah mampir. mungkin memang tak di bajetkan olehNYA. namun untuk masalah lain, bejibun. sebanyak jumlah rambut kepala, tangan dan kakiku. kadang aku merasa tak cukup waras kalau memikirkannya.
sekarang yang paling ribet tentu bagaimana cara mengirim uang itu agar sampai tepat tanggal terakhir pembayaran, 29. di sana tak ada bank yang sama dimana pabrik mentransfer gajiku. perlu paling cepat dua hari untuk bisa diterima ke bank yang berbeda. apalagi bank di kampung itu belum ada yang online.
tak hanya itu, jumat ini aku harus meringkuk di ruang kost sempit sendirian. tak bisa bergabung dengan mereka. bercengkerama, gojek, misuh dan ngobrol tak penting yang tak ada hubungannya dengan kerja atau apapun yang njlimet.
acara yang telah kurencanakan seminggu sebelumnya. bisa dibayangkan rasanya? seperti orgasme yang tertunda!
belum lagi pulang ke kost, bakalan tak dapat pintu kalau pulang larut. ibu kost berkesadaran bagus mengenai waktu ini. setiap tanggal jatuh tempo, ia lebih displin, mengunci pintu depan tepat jam sepuluh malam. paginya dia akan bercengkerama dengan cucu-cucunya di beranda.
skenario apa lagi yang harus aku siapkan untuk menghadapinya? berterus terang mengelak, ini bukan murni kesalahanku? atau berbohong? mungkin lebih mudah, bukankah ada seribu satu alasan, tinggal memilih kira-kira yang pantas dan logis?
hidup kok jadi kayak sinetron.


