ipulselalu menyebut dirinya tukang nggawe wedang. namun diam-diam ia berhasrat menerakan tanda tangannya pada uang kertas republik Indonesia. obsesi terbesarnya menjadikan jakarta seharmoni bangsari, tanah kelahirannya.

begitu cintanya, nama itu dijadikan alamat blognya. seolah ia tak terpisahkan dengan kampungnya yang dikelilingi hamparan persawahan itu. di situlah ia menghabiskan masa bocahnya yang hiperaktif.

karena sikapnya itu, ibunya sangat protektif. kekhawatiran itu bukan tak beralasan, karena ipul, nama anak ini sempat terjungkir dari lantai dua rumahnya  sampai berdarah-darah di wajah.

bahkan sewaktu berumur dua tahun dia sempat tenggelam di saluran air depan rumah. andai tak tertolong, kita tak akan punya kawan penyuka lumbu kobis dan cimplung ini.

dampaknya, ipul kecil penakut. apalagi bertemu dengan orang asing. bahkan sampai usia masuk sd. hari pertama masuk sekolah ia diantar ibunya sampai ke ruang kelas dan menungguinya sampai bubar.

padahal ayahnya adalah kepala sekolah di sd itu. cita-citanya saat itu ia tak ingin keluar dari bangsari, seperti orang-orang dukuh paruk dalam novel yang ditulis ahmad tohari.

namun selepas smp, ia di kirim ke pesantren jombang, sampai lulus sma. hidup jauh dari rumah, ia sangat nelangsa. menu makanan menurutnya tak ada yang enak. dan yang jelas jauh dari kedua orang tua dan kerabatnya.

sampai sekarang ia sangat fasih menceritakan kisah-kisah dalam kitab suci. misal cerita dalam surat yasin: seorang pengikut musa yang terperangkap dalam kekuasaan firaun. namun ia menolak dan menentang kekuasaan firaun yang zalim. sayang ia terbunuh.

apakah karena terinspirasi kisah kepahlawanan itu,  ia menjadi seperti sekarang ini. menolak sesuatu yang tak sesuai keyakinannya. misanya, ia lebih memilih nongkrong di bundaran hi daripada menikmati hingar bingar musik "tak jelas".

ia telah cukup nyaman berada di kawasan yang menjadi trade mark kota jakarta itu. ia merasa bebas, lepas tak ada beban. serasa berada di pulau phi phi yang airnya sebening langit.

"beda kan kalau nongrong di kafe misalnya. pikiran akan terpicu untuk mengikuti gaya hidup jakarta yang selalu berorientasi pada uang semata, " ia menambahkan.

menurutnya gaya hidup urban jakarta saat ini bukanlah representasi orang indonesia. banyak ketidakwajaran terjadi. banyak mobil bagus melintas, namun di sebelahnya berderet pengemis.

namun ia sadar, ia punya kekuatan untuk beradaptasi. ada sisi positifnya juga. di sini terbuka kesempatan luas untuk berkembang. meskipun harus membayar dengan harga mahal: disiplin tingkat tinggi, pressure atasan yang dahyat. dan semua harus selesai dalam waktu  secepatnya.   

ia merindukan suasana ketulusan. masih menurutnya di jakarta, semua terlalu artificial. biar dikatakan modern seseorang harus melakukan atau mengikuti "aturan" main  yang berlaku di Jakarta. bahkan untuk hal-hal remeh temeh. dasi yang harus matching dengan kemeja dan seterusnya.

"di bundaran hi ini, semua lepas dari gaya hidup jakarta. di sini yang ada cuman keramahan dan tak ada" jaim-jaiman". di tempat ini ia sering berbincang dengan para pekerja bangunan. alasanya, ia menyukai cara berpikir mereka yang sederhana, tidak njlimet."

nyaris bisa dipastikan setiap tanggal merah dobel ia akan pulang kampung menumpang kereta. di rumah ia mengaku bak raja, tenteram tanpa tekanan.

namun hati-hati traveling dengan lajang penyuka sastra ini, karena ia akan mabuk jika melakukan perjalanan jauh. sehingga sewaktu naik pesawat untuk pertama kalinya, ia memilih tempat duduk di dekat jendela. :)

*foto diambil dari lutpi 

 link terkait: – presiden bhi