kalau kau tanya seperti apa rasanya jatuh cinta? aku akan menjawab: nyeseg!. kenapa? karena perempuan yang aku suka semuanya menolak, kecuali satu.
sore itu, aku pulang lebih cepat. telat sepuluh menit dari jam 17, jalan warung buncit berubah jadi neraka, sesak tak bisa bergerak. aku ingin lebih cepat menemui dia. meskipun siang tadi kami makan bersama.
cukup dekat tempatnya bekerja dari gedung ini. masih satu kawasan. naik busway sekali nyampai dalam waktu 20 menitan. kami duduk berhadapan. rasanya telah mengenal dia lebih lama. padahal ini baru pertemuan ketiga di kantin yang sama.
tiga hari ini pula aku telat masuk kantor karena urusan kamar mandi. aku membasuh tubuh lebih lama, bercukur lebih hati-hati. dan hari ini aku memakai kemeja, celana, sepatu terbagus yang pernah aku punya. nyanyian kecil berdesau dari mulutku waktu kutatap cermin sambil tersenyum. cukup cakep aku pagi ini.
di luar langit biru cerah. awan berjalan pelan. namun aku makin mempercepat langkah menuju tempat kerja. senin ini memang banyak kerjaan, seperti biasanya. namun aku akan melupakan.
makin dekat kantor, jantungku makin berdebar. ingin secepatnya menyalakan komputer dan melihat status dia online atau ngga. aku kini diam-diam merindukan suara “ting”, tanda ada pesan yang datang. tiba-tiba suara itu lebih indah dibandung komposisi Concerto For Mandolin In C Majornya vivaldi.
awalnya kami berbincang basa-basi, bertukar link friendster dan tak tahu, semakin akrab saja. persis seperti dalam iklan, sebelum ketemuan kami saling memberi tanda. memakai kemeja coklat dan celana hitam.
aha. dia lebih indah dari gambar friendsternya. rambutnya sehitam celana panjang yang dipakainya. wajahnya polos, tanpa make up. alami.
singkatnya kami saling suka. aku diajaknya ke rumahnya di daerah pinggiran jakarta. “kunjungan” pertama itu dikenalkannya dengan ibunya. perempuan setengah baya, gendut, kepalanya berjilbab dan seluruh tubuhnya terbungkus baju gamis yang gombrang.
“oh ini teman baru ayu, kerja dimana?” tanyanya.
aku menjawab sesopan mungkin. obrolan dilanjutkan seputar pertanyaan masa lalu, kuliah, keluarga dan seterusnya. mirip interogasi di kepolisian.
basi banget! aku mulai tak nyaman. apalagi saat ia bertanya,
“gaji kamu berapa?”
pertanyaan itu serasa mengkampak muka. jantungku berdetak lebih keras. aku limbung. nafasku tersengal. aku tak kuasa mengontrol emosi. aku tak pernah menduga apalagi mempersiapkan jawabannya.
kepalaku berat, ada pertanyaan lebih dahyat menggantung didalamnya.
siapa perempuan di hadapanku saat ini? apakah sosok ini yang akan menjadi calon mertuaku nanti? apakah ibu-ibu lain juga mempertanyakan hal sama kepada laki-laki yang memacari anaknya? meskipun aku menyukai anaknya, namun sampai detik ini belum melintas ingin menikahinya.
ibu itu tahu kegugupanku. dan ia masih menuggu jawabanku.
layaknya aku berbohong? berpura-pura punya gaji setinggi langit? atau aku ngaku terus terang, saat ini aku masih buruh pemula di sebuah pabrik? mungkinkah aku akan disambut suka cita, andai aku perampok bank?.
aku jadi teringat berita kemarin sore yang menyatakan, 94 persen masyarakat indonesia mengalamai depresi/ sakit jiwa. apakah ibu itu salah satu orang yang dimaksud dalam berita itu?
bukan. aku pikir dia psikopat kronis stadium empat.



Selamat datang di dunia psikopat, mas. Ibu model gitu justru harus didamprat dan aku udah pernah hehehehe
Comment by Hedi — June 24, 2007 @ 6:33 am
waksss …
kupikir tadi mita ato gita
ternyata ayu…............
saha eta?
Comment by Luthfi — June 24, 2007 @ 1:47 pm
wah…mak nyossss deh si ibu tanya nya
, seandainya dia ibuku aku jg ikutan malowwww
Comment by kenny — June 24, 2007 @ 3:27 pm
tinggal wae kang …
masih banyak camer2 yang lebih realistis dan sehat
:)
Comment by laki-laki juga — June 25, 2007 @ 12:53 am
lha lapo nggrogi? sampeyan arep ngrabi anake opo mboke? hehehe Kawin lari wae lah…
Comment by de — June 25, 2007 @ 1:16 am
hai mbok de !
kawen kok lari ?
kawen yo neng kasur ….
Comment by laki-laki juga — June 25, 2007 @ 1:21 am
weh. mesakke men awakmu le… njur piye terusane?
Comment by bangsari — June 25, 2007 @ 2:18 am
tulisan2 bung fanabis ini emang makin mak nyoss…satire-kocak yang tajam. huhuhu…ayo siapa bisa nulis seperti itu??
Comment by mumu — June 25, 2007 @ 3:21 am
basi banget pertanyaan ibu itu mas…
bilang aja “gue belom tentu mau sama anakmu kok”
Comment by elly.s — June 25, 2007 @ 4:21 am
halah, tinggal dijawab “yahhh lumayan bu, bisa buat mbayarin makan temen-temen di bunderan”
kabur ah
kamu bisa punya pacar juga ya
Comment by iway — June 25, 2007 @ 4:28 am
hamilin ajah mas.. biar ga ditanya2 CaMer ..lansung nikah huahuahau bcanda de mas
.. cmn gambaran mungkin salah satu faktor kawin diluar nikah.. yo koyo ngono kuwi
Comment by PnC — June 25, 2007 @ 4:30 am
kok ga sopan banget sich ibu pacarmu itu…..
tapi mungkin ibu itu ga pengin anaknya sengsara setelah kawin. kayaknya sich
Comment by evi — June 25, 2007 @ 4:52 am
dimaklumi saja kang. lha sang ibu kan ngga mau anak hidup nelangsa dikemudian kelak. wajar saja orang tua was was seprti itu. berjuang… semangat
Comment by mata — June 25, 2007 @ 5:26 am
maklum mas namanya juga seorg Ibu,rasa khanwatir itu pasti ada, Ibuku juga gitu kok, cuma ga pernah nanya nominal siihh,cukup “kerja dimana?” itupun nanyanya ma aku,ga ke cowokku
Comment by langit — June 25, 2007 @ 5:27 am
halah halaaah…cari yang lain ajaaa…gitu aja kok repot
Comment by venus — June 25, 2007 @ 6:14 am
gojek
pertanyaan si ibu ada yang kurang tuh ” kamu impoten ga ” hahaha
serius
jo meneh gaji…njaluk mobil we aku wes tau mas. tapi tak wuru’i carane…nek seumpamane kowe seneng tenan karo ce iku po meneh kowe wes ngajak kawin,si cewek’e iku gawenen kranjingan karo kowe trus bar kui kowe jual mahal..mengko lak terkinthil2 kowe
tapi nek mok yang2an wae sih..wes pedot wae lah.wong nek masalah ayu opo elek kui nang jkt akeh bgt sing ayu..santae ok.
perkuat pusat perbanyak cabang
Comment by balibul — June 25, 2007 @ 7:13 am
waksss..ibu yang sangat perhatian….
Comment by pitik — June 25, 2007 @ 10:24 am
Huuff! Ibu-ibu emang gak jauh beda. Maunya cari menantu yang kaya, pinter ngambil hati dan sayang sama anaknya.
Kapan ya mas, ortu-ortu pada nanya begini :
“Blog kamu ada berapa, di mana aja?”
;)
Comment by Bening — June 26, 2007 @ 7:06 am
makanya saya lebih memilih dildo daripada pacaran dan menikah nanti meskipun ibukku gak edun kek gitu.
betewe, blog cewekmu mana?
*nyengir iblis dan menyusun rencana jahat*
Comment by mPitzky — June 26, 2007 @ 11:18 am
psikopat kronis stadium empat…...telak banget..:)
Maklumin aja mas…mungkin salah ucap…atau mungkin karena ga ada bahan obrolan…:)
Comment by ulin — June 26, 2007 @ 2:54 pm
cie ileh… yg lagi jatuh cinta.. berjuta rasanya.. sama dong kita sama2 di tanyain gaji.. itu pertanyaan yg paling menyebalkan! :p
Comment by akangaziz — June 27, 2007 @ 5:56 pm
satu pertanyaan yg hrs di jwb! “emang itu ibu mau anaknya di serahin ke fanabis?”
hihihi.. gak hrs di jwb.. moga gak tersinggung.piss
Comment by akangaziz — June 27, 2007 @ 5:57 pm