fransiskus, temanku sama-sama memburuh di pabrik penyebar kabar. sekarang dia berada di new york, belajar seni. sehabis kehengkangannya dari sini ia melenting, mengalami lompatan yang begitu tinggi.
selain sebagai jurnalis handal di sebuah jurnal mingguan, nyaris cerpennya tertampang tiap minggu di harian yang berbeda. dia juga penari sekaligus koreografer. salut.
tak menyangka secepat itu ia berubah. awal mengenalnya dia begitu lugu, lucu dan gumunan. datang dari solo tergopoh-gopoh berhadapan dengan ritme jakarta.
malam itu, dua tahun lalu. saat kantor sepi tanpa penghuni ia mengajakku berbincang. ia mengeluhkan, telah sebulan ini ia tak pernah diajak ngolong lagi sama pemimpin redaksinya.
memang pernah ada kesalahan fatal yang ia lakukan. ia tak dapat berita saat meliput suatu kasus di pengadilan. "lha kamu tanya dong ke bagian informasi, hari ini ada agenda sidang si x ngga. jangan tanya ke tukang becak ya pasti tidak tahu" begitu komentar korlipnya.
bukan hanya sekali, makin menjadi kayak hobi saja. korlipnya selalu melontarkan kata-kata yang menekan. hari sabtu, ia duga berita sepi. ia langsung menuju kantor karena belum ada telepon tugas dari korlipnya.
oh ya selain wartawan ia juga merangkap fotografer.
sialnya, sabtu itu ada demo besar dan ia tak mendapatkan momen bentrokan aparat dengan mahasiswa. di depan buruh lain, korlip itu lantang berteriak, "kamu tuh kayak robot aja! telepon dulu dong sebelum ke kantor. jangan pakai bahasa kebatinan"!
kesalahan yang menurutnya wajar, ia reporter pemula. sekali-sekalinya meliput dan tanpa pelatihan blas. duganya ia mendapat permakluman.
hari itu ia terima gaji pertamanya. ia ingin segera menghamburkan uangnya sampai tandas. mentraktir teman, mencobai hal aneh yang belum pernah ia lakukan. ia pulang agak tergesa, begitu jam berdentang pukyl 17 30 ia langsung ngacir.
namun sampai di depan pintu, ia mendengar celetukan.
"tak punya pacar jam segini kok pulang, kayak pabrik tahu aja."
ia menyambut celaan itu dengan senyum, pahit!. ia melenggang tanpa menolehkan kepalanya. dan terus bergegas menuju mall pondok indah. ingin mencobai kopi starbuck.
waktu berlalu terasa lambat, apalagi jalanan malam minggu yang padat. tiba-tiba dering telepon menyusup sampai ke telinganya juga. dilihatnya nomor yang tertera dengan pelototan. telepon dari pabrik.
wajahnya sekusut kerupuk kecemplung kuah lontong sayur.
menuju ruanganya, jantungnya makin berdegup keras. terdengar sayup suara dengan intonasi tinggi. saat kepalanya nongol setengah di pintu, sambutan telunjuk tangan kiri korlip menuju mukanya.
"ini ni penjahatnya. masa kau tidak tahu, menulis masjid aja salah. ini kan memalukan. yang benar pakai a bukan e, mesjid! gara-gara kau, rusak nih bisnis!
mukanya seputih kapas. nafasnya nyaris berhenti. buruh lainnya hanya menunduk. entah tak acuh, kasihan atau membayangkan sedang dansa di pantai.
sejak itu, hari-harinya menjadi terror. ia memvonis dirinya memang tak bisa bekerja. spontanitasnya hilang. kinerjanya menurun drastis, tak ada semangat dan sekedar melaksanakan tugas. tulisan-tulisannya hambar, tak bertenaga.
sambil menyemburkan asap ke udara, ia menyelonjorkan kakinya. ia berencana melaporkannya ke hrd.
"hrd? kayak tidak tau aja apa itu tugas hrd, aku sekenanya menjawabnya.
ac sudah mati, udara pengap. aku mengambil koran sore menjadikannya kipas.
"mereka tak lebih dari corong pemilik pabrik. jangankan membantu karyawan, jadi penengah pun tidak."
"gitu ya, jawabnya pasrah. lalu kalau yang mem"bully ownernya gimana?
"lupain, mending nih baca deh. lomba menulis kolom. buktikan pada pemredmu kalau kamu tuh penulis hebat."
begitulah pertemuan terakhirku di pabrik.


