praytanya itu menyelinap ke otak pada suatu malam, pas aku berdoa. tiba-tiba kok ada rasa nyinyir, meremehkan Tuhan seolah Dia tak tahu apa kebutuhanku.

paginya langsung tanya ke seseorang via yahoo mesanger.  masih suka berdoa? ia nanya balik, "apakah yang kau maksud berdoa itu hanya meminta? apa yang kau minta? kira-kira berapa persen keinginanmu itu terpenuhi ?"

duarr.. tak menyangka mendapat berondongan pertanyaan balik. belum sempat nangkep, ia melanjutkan.

"sebelum meminta saya harus tahu dulu siapa saya. apa tugas yang diberikanNya kepada saya di sini. kalau tidak akan terlalu banyak benturan. saya sering berdoa, namun jarang sekali meminta."

makin mumet kan? aku masih diam saja, memelototi ruang ym an. ada perasaan aneh. siapa dia sebenarnya? aku baru mengenalnya secara virtual. jawaban-jawabannya itu memunculkan banyak tanya.

menurutnya, ia berdoa hanya untuk berdoa. untuk makin mengukuhkan  kesadaran dirinya bahwa selain usaha yang dilakukannya sendiri, ada kekuatan bergerak yang menggiringnya ke arah tertentu. meskipun dia berdoa ada juga unsur memintanya.

seumur hidupnya doanya hanya satu tok. ingin agar dia cepat memahami ilmu pengetahuan sehingga bisa punya peran. untuk bisa berperan harus mengenali talenta yang dimiliki. dengan begitu ia berharap diberi kesempurnaan untuk dapat melayani, juga kesempatan untuk melayani demi kesempurnaan.

ia telah menghilangkan permintaan terhadap kebahagiaan atau hal duniawi lain. karena masih menurutnya, suka  duka itu alat yang dipergunakan olehNya untuk mencapai doa yang ia tetapkan.  itu adalah sebuah keniscayaan, tak bisa dihilangkan.

seluruh peradaban di ceruk permukaaan bumi memahami. di china ada simbol  yin dan yang yang saling terkait. di bali ada kamben hitam putih yang dibalutkan pada patung-patung.

yang lebih penting adalah memamahi bagaimana merespon suka dan duka itu dalam sikap yang sama, riang gembira. andai semua orang pintar, kaya dan bahagia, apakah rangkaian sejarah dunia bisa terlaksana seperti sekarang?

"lalu apakah tidak boleh kalau aku berdoa agar bisa dapat nobel sastra misalnya?", tanyaku makin penasaran.

boleh tak apa-apa. namun kita harus sadar perbedaan antara mimpi dan harapan. tau kan? mimpi adalah tujuan yang kita sendiri belum tahu cara mencapainya. beda dengan harapan, kita sudah tahu cara mencapainya meskipun jalanya terjal berliku. jangan pernah memasukkan mimpi-mimpi ke dalam doa.

sebelum tahun 2000 ia tak pernah berurusan dengan Tuhan. ia lebih takut kepada ibunya. namun ia banyak mengalami  kejadian yang diluar jangkauan nalar. itulah titik dimana dia mulai memikirkan kekuatan lain selain dirinya.

ia lalu menceritakan pengalamannya. saat itu rumahnya kebanjiran. ia merasa tertekan melihat keadaan anak-anaknya. pada saat emosinya memuncak ia berdoa agar mendapatkan sekian juta uang sebagai tambahan untuk membangun rumah barunya. ajaib. tiba-tiba ada seseorang yang dengan rela memberikan pinjaman. tanpa bunga dan bisa diangsur selama 3 tahun.

sesuai pengalamannya ia lalu mewanti-wanti agar berhati-hati dengan doa. apalagi dalam keadaan emosi puncak, sangat tertekan atau sangat marah. sebisa mungkin tak mendoakan seseorang agar celaka. menurutnya proses terkabulnya akan sangat cepat.