di kota pusat peradaban ini, menjadi apapun kesempatan membentang. gelar penjahat bisa didapat cepat. status ustadz tinggal mencari pembaiat. namun aku lebih memilih sebagai seniman. bukan selebritas!
seniman kedengaranya lebih elegan. andai masih miskin seperti sekarang, artinya saya seniman idealis. masyarakatlah yang berpunya selera rendah.
seperti malam jam 02 dinihari itu. aku mengabarkan pada dunia, aku masih eksis. tetap berkreasi dan berharap diakui sebagai calon seniman besar. aku mengeksplorasi diri. kulalukan cara teraneh yang belum pernah dibayangkan orang.
kubalut tubuh kurusku dengan kain putih pembungkus mayat. celana panjang komprang sewarna. rambut sepunggung yang jarang tersentuh air kubiarkan terburai. agar lebi aneh dan eye cathing, aku tahtakan mahkota ala jesus.
namun duri-duri kugantikan dengan lipatan-lipatan uang seribuan. mirip lintingan marijuana yang siap membuai. tak hanya di bagian rambut, di wajah pun aku tambahkan uang kertas itu hingga wajahku tersamar.
jam 10 malam, aku mulai melangkah menapaki trotoar. melewati halte dan kerumunan orang yang menunggu bus sambil sambil sedikit overacting. diam-diam aku merindukan respon dari mereka.
sayang sampai jam 02.00 pagi, seperti keyakinanku tak ada yang menggubrisku. andai mereka tahu, kelak aku jadi seniman besar, mereka akan mengantri takzim menunggu karya-karyaku.
terpaksa aku menggabung ke kerumunan orang yang tampaknya kekurangan ide. aku akan memasoknya. aku akan jelaskan konsep berkesenianku.
belum mengucap sepatah kata pun, laki-laki berambut kriwil menyela.
"ini dalam rangka apa mas?
"ini lagi eksplorasi", kalem. lalu mengulurkan tangan kanan, mengajak kenalan.
"setelah ketemu ide, nanti akan mewujud seperti apa?
"belum tahu juga. masih perlu pengendapan. aku tak mau membuat karya karbitan yang mengejar uang belaka.
anak itu jeli juga. aku berhasil memerangkapnya. ia menanyakan gulungan kertas yang selesai ku ketik. aku senang, karyaku akan terbaca, meskipun secara orang per orang. aku yakin karya ini akan memberikan inspirasi hidupnya kelak.
idenya besar, tentang demokrasi dan sebuah negeri yang bobrok. dahsyat bukan? tak seperti cerita sinetron di tipi-tipi yang menye-menye, ngomongin hal remeh temeh tentang orang-orang malas dan bodoh?
aku menyangka anak muda itu terpana. kagum? atau malah tidak mudeng seperti mereka yang semena-mena memvonisku, menjulukiku seniman gemblung?



petromaxxx!!
dapat salam dari elek dan febri…
Comment by pitik — June 20, 2007 @ 1:42 am
qeqeqeqeqe..ra fofo mas.. hihihi
Comment by yudhi — June 20, 2007 @ 1:56 am
gelar seniman dapet ne neng ndi yo…?
Comment by PnC — June 20, 2007 @ 2:20 am
weh. perang kesenian kah?
Comment by bangsari — June 20, 2007 @ 2:22 am
hmmm..yang lebih menarik, mas kw minta maaf karena apa??hihi gosip bangetttt
Comment by mei — June 20, 2007 @ 2:36 am
jadi seleblogger aja kang.
lha kan juga seniman. wes… nanti banyak yang ngefans dah…
Comment by mata — June 20, 2007 @ 2:42 am
gitu ya..
**salam kenal
Comment by langit — June 20, 2007 @ 3:20 am
kok minta maaf di mana-mana? jadi curiga…hehehe..
Comment by venus — June 20, 2007 @ 3:53 am
wuah mas, udah nambah toh pasangannya? kok ga cuma pitik aja sekarang
Comment by gita — June 20, 2007 @ 4:36 am
ada apa di HI Jumat dinihari…??
Comment by nino — June 20, 2007 @ 5:07 am
heheh kowe wedi di garong yo mas, akuyo wedi kok..mengko tak ewangi mlayu plencing
Comment by balibul — June 20, 2007 @ 5:48 am
wakakakakk..
dini hari itu kamu ama mereka [yg kamu minta maabh]
jade coNG yANG yo.. asem..pantesan geleng2
sosok KW tenyata PEMABUK jugah..
kamu di apakan ama org yg rambut putih jubah putih waktu itu?? gile.. untung aku memulang dolo..
si endiks kan diajain lagi nongkrong malem minggu nya
buat MABOKSSs lageh secara dia menganggap BH-i adalah wilayah kekuasaan nya..
lum tau dia kalo di bh-i ADA PRESIDENNYA…......
ngakak
Comment by wanita seniman — June 20, 2007 @ 7:30 am
seniman? orang yang buang air seni?
endiks donks
spid riding
Comment by Luthfi — June 20, 2007 @ 11:58 am
Seniman bisa berbentuk macem-macem justru bukan karena disengaja atau direkayasa. Kalo yang baju putih malem² dan ditempelin duit di HI itu sih ga jelas
!
Comment by Hedi — June 20, 2007 @ 2:49 pm
Wih, mase seniman tenan tho jebule? Padahal aku wis mbedek, mase iki mesti seniman. Lho rak tenan tho..
Comment by undercover — June 20, 2007 @ 3:30 pm
Mas, apa memang seniman itu selalu nyentrik-nyentrik ya?
Comment by Bening — June 21, 2007 @ 1:46 am