layangankata hadik /pitik aku lagi stress. "kau kok begitu tak puas dengan keadaan. kalau kau kekurangan duit, perempuan, semua mengalami dul"! dakwanya.

tak sampai segitunya sih. aku baik-baik saja. buktinya masih rajin mandi dua kali sehari, lari pagi, chatting, ngeblog, memaki dan tersenyum.

seperti berangkat kerja pagi ini, pada kemacetan jalan bintaro raya, menunggu kereta api dari rangkas melintas, mataku menangkap sesosok benda yang begitu aku kenal masa tk dulu.

namun telah sangat lama tak menemuinya: minyak rambut urang-aring. itu loh minyak warna hijau tentara pekat dalam botol yang bentuknya mirip piramida yang pinggiran bergelombang. minyak paling juara yang  membangkitkan kepedean.

pada zaman digital ini, minyak yang produksi home industri itu masih eksis, di pinggiran metropolitan ini.

otakku  lalu mereview, memutar kembali memori masa-masa bocah dulu. entah kenapa aku kok jadi sentimental mengingat benda-benda lucu: sandal lily, pasta gigi ritadent atau minyak angin ppo atau mobil-mobilan kulit jeruk.

di kampungku, nan jauh dari polusi, kami, anak-anak biasa mancing belut dan mandi di kali, mencipta perahu kertas dan menghanyutkannya. atau main layang-layang sesorean sampai para ibu sambil membawa ranting kayu menyuruh mandi.

banyak permainan yang kini tak dikenali lagi: benthik, petak umpet atau go back to door :) di malam purnama 14.

peristiwa lain yang menarik adalah ruwahan menyambut puasa. seminggu sebelumnya setiap rumah mengadakan kendurenan. menyenangkan tiap hari ada "pesta". dan puncaknya pas pada hari raya, banyak simbah-simbah yang ngasih duit, lima ratus rupiah. :)

masa bocah yang bebas, main teruss, tak ada beban. indah tak terperikan. semua itu berangsur-angsur menghilang bersama usainya tubuh kecilku.

lalu duarrrrr…..

aku menjadi dewasa.