marijuanamendapati link libur nasional 2008, urat leherku menegang mau putus, kepala terasa berat memandangi deretan abjad yang seolah menyungging senyum penuh penghinaan. ia memvonis, tahun depan aku masih menjadi orang gajian.

seringai gigi kuningnya terlihat saat ia menyebut tanggal merah di setiap bulan  plus cuti bersama  sedekah pemerintah. aku langsung mengklos browser rubah api yang selalu menemani. aku tak ingin melihat kalender belang-belang warna hitam, merah dan hijau.

aku ingin mengubah angka-angka itu menjadi merah semua!

menjadi pekerja gajian tentu menyenangkan. khusus bagi para calon mertua (andai gajinya besar). namun lama-lama menjadi pekerja ternyata membelenggu. ribetnya ngurus absen, cuti, berbaju rapi dan selalu dikejar deadline.

tingginya kesibukan telah menjadi suatu kebanggaan.  dan simbol status. meskipun diam-diam mereka mengeluh. namun  saja tetap berusaha habis-habisan  menuju puncak.

oh dewa dewa penguasa langit, apakah mereka terlahir sebagai orang-orang kalah sehingga mereka berlomba-lomba ingin menjadi pemenang?

andai sampai kesana, setelahnya apa?

kesepian.

kau akan di sana sendirian, seperti Tuhan. namun kau tak punya kuasa. kau hanya bisa melihat mereka yang di bawah tampak kecil tak terjangkau.  kau hanya menjadi penonton, bukan pemain. kau hanya bisa bercengkerama dengan imaji dan bayanganmu sendiri. mencipta persepsi persepsi.

apakah tak lebih nyaman berbaur, berdekapan mesra di sebuah keramaian, bebas berjalan tak takut terpelest ke jurang. bermain-main, bak masa bocah dulu: di sebuah tanah lapang yang hijau, dengan telanjang kaki mengejar kupu-kupu. atau beramai-ramai berburu ikan koi di sebuah kali.

tahun depan, aku tak ingin punya hari libur tanggal merah lagi. aku akan libur terserah tanggal berapa aku mau. tak ada cuti, tak ada jam kerja. bebas, terserah mau dan menjadi apa. i am a master of my fate.