hidup yang singkat, mari kita rayakan
dailyJune 28, 2007 12:51 am

kalenderaha jumat, tanggal 29 lagi, hari baik tiap bulan yang aku miliki. senang, pasti!

mendadak, ting… satu email masuk lagi.

"mohon maaf,  gaji bulan ini baru efektif dapat diterima tanggal 29,  karena ada kesalahan teknis. demikian mudah-mudahan maklum".
 
email itu memecah konsentrasi saat aku memeriksa beberapa rekening tagihan dan merinci detail pengeluaran sebulan kedepan. termasuk harus mentransfer ke pekalongan untuk biaya kelulusan adikku.  

ketelatan, selalu datang tak tepat waktu. seperti kali ini. hanya satu hari memang. aku bisa maklum dan memaafkan.  namun aplikasi program komputer bank telah menset,  telat dua puluh sembilan detik sama saja telat sebulan. artinya bank akan memberikan sanksi. mereka telah menganggapku mangkir, ngemplang!.

artinya lagi, tanggal 29 saya tak punya uang sama sekali, receh pun. seperti yang pernah aku sampaikan, aku selalu mengepaskan uang pengeluaran. uangku akan habis pas tanggal dimana gaji masuk.

jangan pernah tanya tentang tabungan. saya memang tak pernah menabung. selama masih ada sisa saldo sesedikit pun, keinginan "jalan" tak bisa dihentikan, bak laju waktu.

kenapa? aku tak mau kelelahan lagi memikirkan pengeluaran. karena aku mendapatkan uang itu harus dengan memeras otak dan keringat sampai sepah. membelanjakannya harus mikir lagi? capek deh.

memang ada niatan untuk menabung. rencananya baru akan mulai beberapa bulan ke depan. lalu bagaimana kalau tiba-tiba sakit atau ada keperluan lain?

alhamdulilah, puji tuhan, seingetku aku belum pernah sakit sampai terlantar di rumah sakit. palingan cuman flu biasa, greges-gres yang langsung  minggir terusir obat generik,  makan banyak dan istirahat.

begitu juga masalah meribetkan yang menyangkut uang, nyaris tak pernah mampir. mungkin memang tak di bajetkan olehNYA. namun untuk  masalah lain, bejibun. sebanyak jumlah rambut kepala,  tangan dan kakiku. kadang aku merasa tak cukup waras kalau memikirkannya.

sekarang yang paling ribet tentu bagaimana cara mengirim uang itu agar sampai tepat tanggal terakhir pembayaran,  29. di sana tak ada bank yang sama dimana pabrik mentransfer gajiku. perlu paling cepat dua hari untuk bisa diterima ke bank yang berbeda. apalagi bank di kampung itu belum ada yang online.

tak hanya itu, jumat ini aku harus meringkuk di ruang kost sempit sendirian. tak bisa bergabung dengan mereka. bercengkerama, gojek, misuh dan ngobrol tak penting yang tak ada hubungannya dengan kerja atau apapun yang njlimet.

acara yang telah kurencanakan seminggu sebelumnya. bisa dibayangkan rasanya? seperti orgasme yang tertunda!

belum lagi pulang ke kost, bakalan tak dapat pintu kalau pulang larut. ibu kost berkesadaran bagus mengenai waktu ini. setiap tanggal jatuh tempo, ia lebih displin, mengunci pintu depan tepat jam sepuluh malam. paginya dia akan bercengkerama dengan cucu-cucunya di beranda.

skenario apa lagi yang harus aku siapkan untuk menghadapinya? berterus terang mengelak, ini bukan murni kesalahanku? atau berbohong? mungkin lebih mudah, bukankah ada seribu satu alasan, tinggal memilih kira-kira yang pantas dan logis?

hidup kok jadi kayak sinetron.

dailyJune 26, 2007 1:28 pm

tubuhkelak kalau aku mati, aku tak ingin punya kuburan.  aku ingin banyak orang selalu melihat dan mengamatiku lekat. aku tak mau jasadku terbenam dalam tanah merah musnah dimangsa cacing.

aku ingin menyerahkan jasadku ke fakultas kedokteran. ide ini mungkin agak kurang waras dan asing. masih sangat sedikit orang yang mau mendonorkan jasadnya. juga keluarga kemungkinan tak mengijinkannya.

konon saat ini adik-adik mahasiswa kedokteran masih kesulitan mencari jasad untuk belajar memahami anatomi tubuh manusia. selama ini mereka mengandalkan jasad mr x  sebagai sarana belajarnya. entah dari mana mendapatkannya.

jumlah mr xmakin hari makin menyusut. sehingga para mahasiswa harus berjejalan saat belajar. di sebuah universitas di jatim, satu mayat dipakai 20 mahasiswa selama 3 semester. 

sayangnya  aku belum pernah mendengar sosialisasi mengenai donor jasad ini. bagaimana prosedur untuk mendaftarkan diri, kemana dan apa syaratnya. tak seperti donor darah, mata atau ginjal yang sudah tersedia di beberapa tempat

dari bisik-bisik yang aku dengar, cukup mudah dan sederhana prosedurnya. cukup datang ke fakultas kedokteran di kota anda, isi form dan  perjanjian dengan notaris yang harus di teken oleh pendonor dan keluarga. ya sesederhana itu.

yang menjadi masalah, bagaimana  aku akan  menyampaikan keinginan ke keluarga, terutama orang tua? apakah kira-kira anggota keluarga  tega/rela tubuh anggota keluarganya disayat dan dimasuki formalin?

lalu di kuliti terus di rendam dalam cairan pengawet di aquarium tembus pandang. apalagi kalau sampai  melihat bagian-bagian detail daging, otot serta saraf-sarafnya dengan jelas?

aku meragukan anggota keluarga  mau meneken akta perjanjian dengan notaris itu. mengingat selama ini mereka selalu menziarahi kuburan untuk menabur bunga. menganggap ruang sempit 1×2 meter itu sebagai tempat peristirahatan terakhir.

andai persepsi ituh benar, beruntungnya aku. aku tak perlu berada di ruang sempit gelap dan dingin. tak perlu menerima deraan malaikat  cambuk api bermata merah.  dan bagi anggota keluarga, mereka  tak perlu  repot-repot mermperpanjang sewa atau memengumpulkan tulang belulang ketika akan dipindah.

nah dari pada ribet, kenapa tidak menjadi donor saja, itu sangat membantu kepentingan kemanusiaan.

*ide ini terinspirasi dari tulisan mata:mamat di sunat 

dailyJune 25, 2007 12:45 pm

ipulselalu menyebut dirinya tukang nggawe wedang. namun diam-diam ia berhasrat menerakan tanda tangannya pada uang kertas republik Indonesia. obsesi terbesarnya menjadikan jakarta seharmoni bangsari, tanah kelahirannya.

begitu cintanya, nama itu dijadikan alamat blognya. seolah ia tak terpisahkan dengan kampungnya yang dikelilingi hamparan persawahan itu. di situlah ia menghabiskan masa bocahnya yang hiperaktif.

karena sikapnya itu, ibunya sangat protektif. kekhawatiran itu bukan tak beralasan, karena ipul, nama anak ini sempat terjungkir dari lantai dua rumahnya  sampai berdarah-darah di wajah.

bahkan sewaktu berumur dua tahun dia sempat tenggelam di saluran air depan rumah. andai tak tertolong, kita tak akan punya kawan penyuka lumbu kobis dan cimplung ini.

dampaknya, ipul kecil penakut. apalagi bertemu dengan orang asing. bahkan sampai usia masuk sd. hari pertama masuk sekolah ia diantar ibunya sampai ke ruang kelas dan menungguinya sampai bubar.

padahal ayahnya adalah kepala sekolah di sd itu. cita-citanya saat itu ia tak ingin keluar dari bangsari, seperti orang-orang dukuh paruk dalam novel yang ditulis ahmad tohari.

namun selepas smp, ia di kirim ke pesantren jombang, sampai lulus sma. hidup jauh dari rumah, ia sangat nelangsa. menu makanan menurutnya tak ada yang enak. dan yang jelas jauh dari kedua orang tua dan kerabatnya.

sampai sekarang ia sangat fasih menceritakan kisah-kisah dalam kitab suci. misal cerita dalam surat yasin: seorang pengikut musa yang terperangkap dalam kekuasaan firaun. namun ia menolak dan menentang kekuasaan firaun yang zalim. sayang ia terbunuh.

apakah karena terinspirasi kisah kepahlawanan itu,  ia menjadi seperti sekarang ini. menolak sesuatu yang tak sesuai keyakinannya. misanya, ia lebih memilih nongkrong di bundaran hi daripada menikmati hingar bingar musik "tak jelas".

ia telah cukup nyaman berada di kawasan yang menjadi trade mark kota jakarta itu. ia merasa bebas, lepas tak ada beban. serasa berada di pulau phi phi yang airnya sebening langit.

"beda kan kalau nongrong di kafe misalnya. pikiran akan terpicu untuk mengikuti gaya hidup jakarta yang selalu berorientasi pada uang semata, " ia menambahkan.

menurutnya gaya hidup urban jakarta saat ini bukanlah representasi orang indonesia. banyak ketidakwajaran terjadi. banyak mobil bagus melintas, namun di sebelahnya berderet pengemis.

namun ia sadar, ia punya kekuatan untuk beradaptasi. ada sisi positifnya juga. di sini terbuka kesempatan luas untuk berkembang. meskipun harus membayar dengan harga mahal: disiplin tingkat tinggi, pressure atasan yang dahyat. dan semua harus selesai dalam waktu  secepatnya.   

ia merindukan suasana ketulusan. masih menurutnya di jakarta, semua terlalu artificial. biar dikatakan modern seseorang harus melakukan atau mengikuti "aturan" main  yang berlaku di Jakarta. bahkan untuk hal-hal remeh temeh. dasi yang harus matching dengan kemeja dan seterusnya.

"di bundaran hi ini, semua lepas dari gaya hidup jakarta. di sini yang ada cuman keramahan dan tak ada" jaim-jaiman". di tempat ini ia sering berbincang dengan para pekerja bangunan. alasanya, ia menyukai cara berpikir mereka yang sederhana, tidak njlimet."

nyaris bisa dipastikan setiap tanggal merah dobel ia akan pulang kampung menumpang kereta. di rumah ia mengaku bak raja, tenteram tanpa tekanan.

namun hati-hati traveling dengan lajang penyuka sastra ini, karena ia akan mabuk jika melakukan perjalanan jauh. sehingga sewaktu naik pesawat untuk pertama kalinya, ia memilih tempat duduk di dekat jendela. :)

*foto diambil dari lutpi 

 link terkait: – presiden bhi 

dailyJune 24, 2007 6:01 am

womankalau kau tanya seperti apa rasanya jatuh cinta? aku akan menjawab: nyeseg!. kenapa? karena perempuan yang aku suka semuanya menolak, kecuali satu.

sore itu, aku pulang lebih cepat. telat sepuluh menit dari jam 17, jalan warung buncit berubah jadi neraka, sesak tak bisa bergerak. aku ingin lebih cepat menemui dia. meskipun siang tadi kami makan bersama.

cukup dekat tempatnya bekerja dari gedung ini. masih satu kawasan. naik busway sekali nyampai dalam waktu 20 menitan. kami duduk berhadapan. rasanya telah mengenal dia lebih lama. padahal ini baru pertemuan ketiga di kantin yang sama.

tiga hari ini pula aku telat masuk kantor karena urusan kamar mandi. aku membasuh tubuh lebih lama, bercukur lebih hati-hati. dan hari ini aku memakai kemeja, celana, sepatu terbagus yang pernah aku punya.  nyanyian kecil berdesau dari mulutku waktu kutatap cermin sambil tersenyum. cukup cakep aku pagi ini.

di luar langit biru cerah. awan berjalan pelan. namun aku makin mempercepat langkah menuju tempat kerja. senin ini memang banyak kerjaan, seperti biasanya. namun aku akan melupakan.

makin dekat kantor, jantungku makin berdebar. ingin secepatnya menyalakan komputer dan melihat status dia online atau ngga. aku kini diam-diam merindukan suara “ting”,  tanda ada pesan yang datang. tiba-tiba suara itu lebih indah dibandung komposisi Concerto For Mandolin In C Majornya vivaldi.  
 
awalnya kami berbincang basa-basi, bertukar link friendster dan tak tahu, semakin akrab saja. persis seperti dalam iklan, sebelum ketemuan kami saling memberi tanda. memakai kemeja coklat dan celana hitam.

aha. dia lebih indah dari gambar friendsternya. rambutnya sehitam celana panjang yang dipakainya. wajahnya polos, tanpa make up. alami.

singkatnya kami saling suka. aku diajaknya ke rumahnya di daerah pinggiran jakarta. “kunjungan” pertama itu dikenalkannya dengan ibunya. perempuan setengah baya, gendut, kepalanya berjilbab dan seluruh tubuhnya terbungkus baju gamis yang gombrang.

“oh ini teman baru ayu, kerja dimana?” tanyanya.

aku menjawab sesopan mungkin. obrolan dilanjutkan seputar pertanyaan masa lalu, kuliah, keluarga  dan seterusnya. mirip interogasi di kepolisian.

basi banget! aku mulai tak nyaman. apalagi saat ia bertanya,

“gaji kamu berapa?”

pertanyaan itu serasa mengkampak muka. jantungku berdetak lebih keras. aku limbung. nafasku tersengal. aku tak kuasa mengontrol emosi.  aku tak pernah menduga apalagi mempersiapkan jawabannya.

kepalaku berat, ada pertanyaan lebih dahyat menggantung didalamnya.

siapa perempuan di hadapanku saat ini? apakah sosok ini yang akan menjadi calon mertuaku nanti? apakah ibu-ibu lain juga mempertanyakan hal sama kepada laki-laki yang memacari anaknya? meskipun aku menyukai anaknya, namun sampai detik ini belum melintas ingin menikahinya.

ibu itu tahu kegugupanku. dan ia masih menuggu jawabanku.  

layaknya aku berbohong? berpura-pura punya gaji setinggi langit? atau aku ngaku terus terang, saat ini aku masih buruh pemula di sebuah pabrik? mungkinkah aku akan disambut suka cita, andai aku perampok bank?.
 
aku jadi teringat berita kemarin sore yang menyatakan, 94 persen masyarakat indonesia mengalamai depresi/ sakit jiwa. apakah ibu itu salah satu orang yang dimaksud dalam berita itu?

bukan. aku pikir dia psikopat kronis stadium empat.

dailyJune 22, 2007 3:17 am

bullyubgfransiskus, temanku sama-sama memburuh di pabrik penyebar kabar. sekarang dia berada di new york, belajar seni. sehabis kehengkangannya dari sini ia melenting, mengalami lompatan yang begitu tinggi.

selain sebagai jurnalis handal di sebuah jurnal mingguan, nyaris cerpennya tertampang tiap minggu di harian yang berbeda. dia juga penari sekaligus koreografer. salut.

tak menyangka secepat itu ia berubah. awal mengenalnya dia begitu lugu, lucu dan gumunan. datang dari solo tergopoh-gopoh berhadapan dengan ritme jakarta.  

malam itu, dua tahun lalu. saat kantor sepi tanpa penghuni ia mengajakku berbincang. ia mengeluhkan, telah sebulan ini ia tak pernah diajak ngolong lagi sama pemimpin redaksinya.

memang pernah ada kesalahan fatal yang ia lakukan. ia tak dapat berita saat meliput suatu kasus di pengadilan.  "lha kamu tanya dong ke bagian informasi, hari ini ada agenda sidang si x ngga. jangan tanya ke tukang becak ya pasti tidak tahu" begitu komentar korlipnya.

bukan hanya sekali, makin menjadi kayak hobi saja. korlipnya selalu melontarkan kata-kata yang menekan. hari sabtu, ia duga berita sepi. ia langsung menuju kantor karena belum ada telepon tugas dari korlipnya.

oh ya selain wartawan ia juga merangkap fotografer.

sialnya, sabtu itu ada demo besar dan ia tak mendapatkan momen bentrokan aparat dengan mahasiswa.   di depan buruh lain, korlip itu lantang berteriak, "kamu tuh kayak robot aja! telepon dulu dong sebelum ke kantor. jangan pakai bahasa kebatinan"!

kesalahan yang menurutnya wajar, ia reporter pemula. sekali-sekalinya meliput dan tanpa pelatihan blas. duganya ia mendapat permakluman.  

hari itu ia terima gaji pertamanya. ia ingin segera menghamburkan uangnya sampai tandas. mentraktir teman, mencobai hal aneh yang belum pernah ia lakukan. ia pulang agak tergesa, begitu jam berdentang pukyl 17 30 ia langsung ngacir.

namun sampai di depan pintu, ia mendengar celetukan.

"tak punya pacar jam segini kok pulang, kayak pabrik tahu aja."

ia menyambut celaan itu dengan senyum, pahit!. ia melenggang tanpa menolehkan kepalanya. dan terus bergegas menuju mall pondok indah. ingin mencobai kopi starbuck.

waktu berlalu terasa lambat, apalagi jalanan malam minggu yang padat. tiba-tiba dering telepon menyusup sampai ke telinganya juga. dilihatnya nomor yang tertera dengan pelototan. telepon dari pabrik.

wajahnya sekusut kerupuk kecemplung kuah lontong sayur.

menuju ruanganya, jantungnya makin berdegup keras. terdengar sayup suara dengan intonasi tinggi. saat kepalanya nongol setengah di pintu, sambutan telunjuk tangan kiri korlip menuju mukanya.

"ini ni penjahatnya. masa kau tidak tahu, menulis masjid aja salah. ini kan memalukan. yang benar pakai a bukan e, mesjid! gara-gara kau, rusak nih bisnis!

mukanya seputih kapas. nafasnya nyaris berhenti. buruh lainnya hanya menunduk. entah tak acuh, kasihan atau membayangkan sedang dansa di pantai.

sejak itu, hari-harinya menjadi terror. ia memvonis dirinya memang tak bisa bekerja. spontanitasnya hilang. kinerjanya menurun drastis, tak ada semangat dan sekedar melaksanakan tugas. tulisan-tulisannya hambar, tak bertenaga.  

sambil menyemburkan asap ke udara, ia menyelonjorkan kakinya. ia berencana melaporkannya ke hrd.

"hrd? kayak tidak tau aja apa itu tugas hrd, aku sekenanya menjawabnya.

ac sudah mati, udara pengap. aku mengambil koran sore menjadikannya kipas.

"mereka tak lebih dari corong pemilik pabrik. jangankan membantu karyawan, jadi penengah pun tidak."

"gitu ya, jawabnya pasrah. lalu kalau yang mem"bully ownernya gimana?

"lupain, mending nih baca deh. lomba menulis kolom. buktikan pada pemredmu kalau kamu tuh penulis hebat."

begitulah pertemuan terakhirku di pabrik.