pagi itu, ketika aku lari pagi di sebuah taman, aku menatap ayah muda menyorong kereta. di dalamnya berisi bayi yang masih keriput jari-jarinya. ayah itu ceria, sesekali ia mengucap kata, seolah berbincang dengan hasil cinta dan nafsunya.
di sela-sela obrolan, ia menyelipkan, menghisap dan mengepulkan asap. setelah masuk, mengendap di paru-paru, melekat di bibir, gigi dan kulit jari telunjuk dan tengah, sebelum keatas menuju langit, asap itu menghampiri bayinya.
ironis bukan?
mungkin ayah itu dulu beranggapan dengan menghisap tembakau bakar itu mereka akan merasa lebih jantan, macho, ganteng , berani dan digilai perempuan. sehingga tempat-tempat umum dijadikan panggung aksinya. seperti dalam iklan itu. atau bisa jadi itu adalah ekspresi keegoan belaka.
aku yakin ia paham belaka bahayanya. tak hanya untuk dirinya tapi juga orang-orang baik yang disayangi di sampingnya. pada kemasan tiap bungkusnya, telah diterakan jumlah nikotin dan tar yang dikandungnya. juga akibat jeleknya. bahkan rencananya akanbertambah gambar tengkorak warna hitam.
banyak organisasi yang gencar mengkampanyekan efek merokok melalui brosur, web dan konsultasi gratis. namun itu hanya dianggap omongan kampanye pejabat menjelang pemilu. tak sedikit pun mengendorkan niat untuk sekedar mengurangi atau bahkan keluar dari kebiasaan itu.
“daripada tidak merokok mending tidak makan”, begitu slogan mereka.
memang tidak mudah berhenti merokok, kecuali dipaksa. ini akan terasa lebih pedih dan menyengsarakan. dan orang yang sanggup memaksa itu sampai sekarang hanyalah dokter.
sejujurnya sebenernya asap rokok lebih berbahaya dari pada daging babi dan ludah anjing. karena kedua hal itu berefek hanya pada diri pengunyah. tidak pada orang lain.
entah kenapa cara menikmati tembakau dengan dibakar lebih popular dibanding menikmatinya dengan langsung mengulum. seperti simbah wedok ku dulu?
selamat merayakan hari tanpa tembakau ….:)


