novel ke tiga dari tetralogi yang direncanakan andrea hirata ini masih bermisi sama: mengguyurkan semangat untuk terus mewujudkan mimpi-mimpi yang terbit masa kecil.
mimpi itu akan menyata jika kau meyakininya. seperti kata arai, bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu.
seperti dua novel sebelumnya, edensor melanjutkan kisah petualangan ikal di benua nan jauh dari belitong. plotnya tetap linear dengan pilihan kata dan metafora yang selalu mengejutkan.
ia menceritakan kejadian per kejadian secara filmis, detail dan imajinatif. keharuan, kekonyolan dan kenaifan sebagai orang melayu udik yang pertama kali memijakkan kakinya di benua eropa, mirip alien yang terlempar ke bumi.
saat itu desember, pas musim dingin. karena sistem yang tak bekerja, ia ditolak masuk di apartemen tempatnya akan tinggal. selama semalam itu suhu udara berada pada posisi ekstrem, enam belas derajat celcius dibawah nol.
ia harus menggelandang. tidur di bawah pohon yang berada di taman. ia beku, nyaris mati. kedua anak melayu itu bertahan dengan cara yang tak masuk akal.
kenekatan dan ide-ide briliannya sanggup menaklukkan tantangan yang menderanya. termasuk kisah cintanya pada perempuan jerman, kathya. pencarian kekasihnya a ling yang sampai ke sebuah tempat bordil di ujung dunia, belush’ye di Taiga Siberia.
ia juga mengisahkan kelilingnya eropa, rusia sampai afrika. kisah yang sanggup membuat pembacanya bergetar, merinding, haru, miris atau menahan kulum.
apa yang akan kau lakukan andai ingin berkeliling dunia namun tak punya uang sama sekali? andrea hirata mempunyai solusi yang “gila”.
pada novel setebal 288 ini, terlalu banyak terjadi kebetulan. entah apakah ini murni peristiwa yang memang di alami penulisnya atau hanyalah improvisasi penulisnya belaka? namun apapun itu, kebetulan-kebetulan itu mengalir smooth, dan pembaca akan bisa memaklumi.
misalnya saja perjumpaannya dengan andrea gillano, pemimpin perang afganistan yang pernah di liat di tvri atau model top daria werbowy yang dikaguminya di majalah vogue. perkenalannya dengan dengan pak toha dari purbalingga yang berprofesi pembasmi kecoa.
andrea hirata yang kedua novel terdahulunya selalu best seller bahkan di malaysia ini, kembali mendapatkan pujian dari novelis ahmad tohari. kali ini ia meyakinkan kepada siapa pun yang membacanya akan menyukainya.
#saya bisa membaca novel ini berkat simbok venus, dipesankan langsung dari inibuku.com terimakasih atas budi baiknya.

pertamax
Comment by pitik — May 29, 2007 @ 11:13 am
pernah mempertimbangkan karir sebagai kritikus mas…?
Comment by bagonk — May 29, 2007 @ 1:42 pm
pernah ada keinginan utk mewariskan kerjaanya di detik buatku?
ngasal
Comment by Luthfi ngganteng — May 29, 2007 @ 2:37 pm
oooo, ini ngomong buku tho?
twing, baru nyadar
Comment by Luthfi ngganteng — May 29, 2007 @ 2:40 pm
wah jadi pengen juga bacanya.
Comment by joni — May 29, 2007 @ 4:42 pm
Aku rung rampung moco tetralogi buru
Comment by D — May 30, 2007 @ 6:25 am
berat ndak ???
Comment by mei — May 30, 2007 @ 6:53 am
Wah venus curang ki, aku ga dipesenin
Comment by Hedi — May 30, 2007 @ 10:45 am
soal “kebetulan-kebetulan” itu, kok tiba-tiba jadi inget remy sylado, eh…
Comment by anakperi — May 30, 2007 @ 12:13 pm
Wah bagus nich …ntar berangkat dech cari nich novel, ma ksaih atas infonya
Comment by yunita — May 30, 2007 @ 8:03 pm
lihat resensi buku ini, jadi sedih ingat nasib buku2 yang masih dibungkus plastik di rak yang belum sempet dibaca..hiks..hiks ( mode nyesel = on )
Comment by mmufti — May 31, 2007 @ 1:14 am
pinjem mas.. melazz
Comment by didi — June 1, 2007 @ 3:10 pm
Gila sekelas ORHAN PAMUK di “My Name Is Red”! Andrea naik kelas soal tekhnik penulisan!Di berhasil membentuk karakter lewat dialog-dialog efektif yang adaptif sesuai dengan latar cerita. Serasa ikutan backpacking. Termasuk buku Indonesia yang mampu menyirap aku untuk membaca
Comment by Judith — June 2, 2007 @ 12:12 pm
Sementara ini cukup puas dulu membaca resensi dari mas fanabis. Kayaknya mas pengarang novel juga yak? Tulisan mas bagus banget.
Comment by undercover — June 2, 2007 @ 1:24 pm
lolongan arai dooonggg…aku ngakak sampe keluar air mata
Comment by venus — June 3, 2007 @ 2:55 am
sebuah saran aja. sebaiknya sebelum membaca edensor lebih dalam, renungi dulu pembuka novel ini: intepretasi dari perkataan agung-nya harun yahya.
Mungkin akan jadi lebih memahami unsur-unsur kebetulan yang ada dalam jalinan ceritanya: ketemu andrea galliano, orzugan, Pak Toha, dsb.
Comment by BuHa — June 5, 2007 @ 5:53 am