malam itu, di ruang mungilnya, ia telah mencorat-coret notesnya. mendata benda-benda yang ia perlukan. harapnya ia nyaman berdiam di dalam, tak lagi keluyuran di luar.
home teather, dvd dengan sederet koleksi filmnya. komputer lengkap bermultimedia serta mainan lain. berak-rak buku berdiam rapi, beberapa masih berbungkus plastik.
perlahan semua mengusang, namun tetap saja ia blingsatan, mirip cacing kepanasan. ruang yang mirip sarang itu menyempit. ia merasa makin terjepit.
dalam renung ia bertanya, di mana tempat nyaman yang membebaskan itu? diam-diam hati kecilnya membisikan jawaban pelan: di jalanan.
tak percaya? cermatilah…
jalanan adalah panggung pertunjukan live. tempat semua orang menunjukkan pencapaian estetis seni terbaiknya. menteri keuangan, gembel, pencopet, koruptor, pelacur, penjilat, polisi, ulama dan bayi merah berada di panggung yang sama tanpa sekat.
semua (dan aku) adalah pemain sekaligus penontonnya.
mereka bergerak dengan gegas, hilir mudik, berduyun-duyun berdesakan memakai kostum dan make up terbaiknya. mereka melakukan adegan mengejutkan yang tak pernah terduga. akan kemanakah mereka?
(jalan adalah karya seni instalasi paling sempurna. ia lurus, menikung, menanjak, menukik tajam, kata andrea hirata dalam edensor.)
sepakat. di jalan kau akan menemukan lukisan raksasa tanpa pigura. jejalan bunga yang mirip mozaik karpet persia. pohon palem, air mancur, tiang listrik, jembatan penyeberangan, papan reklame dan rambu-ramu. padu.
di pinggirnya, berbatas trotoar merah maroon, berpagar gedung, tertata dengan presisi yang serasi. khusus abgi pedestrian sejati.
malam hari, jalanan semakin menjadi misteri. seperti belantara hutan hujan tropis. ia menjebak, menyesatkan, menghisap dan mematikkan.
keremangan lampu dan keabaian memunculkan sebuah pertunjukan criminal brutal, juga prostitusi dan transaksi barang haram. sekedar melupakan kenyataan kehidupan.
semua berjalinan, saling terkait namun juga kadang tampak tak ada sangkut paut. menjadikan jalanan adalah tempat pertunjukan paling ideal. scene-scene kehidupan meluncur tanpa henti, tak pernah berulang, selalu berganti.
sebuah panggung pertunjukan seni yang menakjubkan bukan?
secara perlahan, kau akan kehilangan kosa kata bosan dan tak kerasan. karena detik demi detik adalah sebuah perayaan. di situlah tempat kebebasan dan kenyamanan. dan itulah hidup, sebuah perjalanan yang tak pernah mengenal kata pulang.



aih, syedap bener postinganmu
Comment by ndoro kakung — May 28, 2007 @ 7:47 pm
oke bgt. aku ra iso koyo ngene hehehe. rak bakat! bakat misuh2 tok hehehe
Comment by de — May 28, 2007 @ 11:30 pm
jalanan, tempat kebut2an….
apalagi di pedestrian yang sempit tempat orang2 jalan cepat saling menyalip demi mengejar busway hehehe…..
Comment by evi — May 29, 2007 @ 2:07 am
jalanan itu kejam. dia melahirkan anak-anak yang tak berdosa menjadi penuh dosa. sedih
Comment by didi — May 29, 2007 @ 2:36 am
kelimax

weh..pilihan kata dan diksimu hebat banget..salut
Comment by pitik — May 29, 2007 @ 3:19 am
postingannya keren, membuat jalanan yang kita lihat setiap hari membosannkan menjadi suatu yang indah, yang selalu kita rindukan…
nicetomeetyoutoo:)
Comment by gies — May 29, 2007 @ 6:21 am
emang sih klo jalan kaki dinikmati kita bisa ngelihat smuanya dengan lebih indah, lain klo grusa grusu
Comment by gita — May 29, 2007 @ 6:53 am
bnr2 berat
Comment by Luthfi ngganteng — May 29, 2007 @ 9:46 am
sekarang jadi pedestrian kelas berat mas…?
Comment by bagonk — May 29, 2007 @ 1:55 pm
mas gilinga, tulisanmu yang ini buagus banget….berasa di jalanan beneran aku ngebacanya..
Comment by mei — May 30, 2007 @ 5:45 am
waaaa, sip… aku nunggu buku yang ini selesai buat ntar dipinjem….
Comment by anakperi — May 30, 2007 @ 11:58 am