sedang apa
sedang apa, penyair, malam-malam
masih sibuk menempa dan memahat kata?
sedang membuat patung dirimu?
sedang membuat batu nisan untukmu
2006
joko pinurbo, kepada cium halaman 42
apa sebenarnya alasan lain para penulis (fiksi) dan penyair dalam berkarya? uang? mungkin itu hanya dampak samping. aku yakin kebanyakan penyair sangat tak menggantungkan keuangannya pada tulisan.
atau kepuasan?
di jakarta, dari dua belas juta hati warganya pada siang hari dan sepuluh juta di malam hari, tak sampai dua ratus ribu yang bisa merasakan dahyatnya getaran kata dari karya yang proses pencapaian sungguh tak main-main itu.
teman saya, lulusan s2 dari univ ternama, memilih menekuni kepuisian dengan resiko “tak punya uang”. berkeluarga kecil dan hidup di tempat kontrakan yang sederhana.
andai ia mau, banyak tawaran yang bisa mendatangkan pendapatan lebih cukup. ia juga menceritakan bagaimana susahnya “menjual” karyanya ke media atau tak adanya penerbit yang mau mengorbitkan.
semua sudah paham, buku puisi sangat sulit menggerakkan banyak orang untuk mengeluarkan koceknya. apalagi buku masih merupakan barang yang cukup mahal (kalimat ini kusampaikan ke aku sendiri).
cerpen-cerpen yang berhasil lolos dan termuat di koran/ majalah pun, konon tak ada yang membaca. kecuali orang-orang yang sedang belajar menulis cerpen! dan jumlahnya pun amat sangat sedikit.
saudaraku memvonis, membaca buku fiksi itu cuman buang-buang waktu. tak ada gunanya!
malam itu, 25 mei 2007 pukul 20:00 waktu toko buku aksara, kemang, joko pinurbo meluncurkan dua buku kumpulan cerpennya: kepada cium dan celana pacar kecilku di bawah kibaran sarung.
memang ada wartawan majalah gadis yang membawa empat kumpulan buku puisi itu untuk dimintakan tanda tangan ke penyair favoritnya. dan berebut minta foto bareng.
para penyair dan penulis fiksi telah mengerahkan seluruh daya kreatifnya. mereka telah seperti Tuhan. menciptakan sesuatu dari tak ada menjadi ada. namun seolah tak ada yang mengapresiasinya. lalu untuk apa mereka berkarya?
aku sendiri juga sering tak bisa memahami puisi namun bisa menikmati eksplorasi bahasanya yang kata ayu utami, sajak-sajak penyair yang telah mendunia itu (telah di terbit dalam bahasa inggris, jerman dan belanda) seolah melampaui estetika.
(nah gimana itu pastinya penjelasan melampaui estetika?)



Mungkin, menulis puisi adalah self-indugence—santapan jiwa bagi sang penyair. Terlepas ada yang mengapresiasi atau tidak, itu nomor kesekian. Lagipula kata-kata itu tidak akan aus dimakan waktu, diapresiasi sekarang atau 2 abad lagi kehormatannya sama-sama tinggi.
Comment by Herman Saksono — May 26, 2007 @ 4:16 am
Setiap produk pasti memiliki porsi dan sambutan masing-masing. Bagaimana responnya, itu juga akan sangat berwarna. Kurang lebihnya, aku setuju sama Momon.
Comment by Hedi — May 26, 2007 @ 11:44 pm
benernya hidup untuk nulis atau nulis untuk hidup ?
Comment by mata — May 28, 2007 @ 1:45 am
sampeyan beli bukunya gak? bagus gak? aku tak tuku nek apik
Comment by venus — May 28, 2007 @ 3:36 am
mbak venus, puisi-puisi joko pinurbo adalah salah satu pintu masuk yg paling asik bagi yg ingin mengakrabi puisi. coba deh, beli dulu kumpulan yg berjudul telepon genggam (penerbit kompas). buku yg diluncurkan malam itu adalah 3 kumpulan yg udah pernah diterbitkan, trus dijadikan satu dan diterbitkan ulang oleh gramedia. menarik sekali kok puisi-puisi pak joko itu…coba saja
Comment by mumu — May 28, 2007 @ 3:59 am
Aku nek kon moco buku kok bawaane ngantukk…dadi ra kelar2 mocone..
Comment by JURAGANBATIK — May 28, 2007 @ 11:33 am
Soal pilihan aja kali mas, karena yang namanya memilih pasti ada yang dikorbankan. Namun kesenangan seseorang atas sebuah pilihan bukankah itu harga yang paling mahal?
Comment by Herdy — May 28, 2007 @ 3:11 pm
kata Ayu Utami, melampaui estetika? hm, kayaknya kalau sudah terlampaui nggak perlu penjelasan lagi tuh.
Comment by MT — May 28, 2007 @ 3:40 pm
Jokpin kih pancen apik kok. Dia penyair yang bisa mengingatkan kita bahwa puisi kih iso ditulis dengan menceritakan hal-hal sepele di keseharian, dari mulai jemuran, sarung, celana kolor, juga hand phone.
jadi gak hanya nomongin cinta, maut, atau kerinduang doang.
Comment by zenrs — June 13, 2007 @ 4:22 am