batiknama lengkapnya suwarni musa siswadi. cukup panjang, sepanjang perjalanan kariernya di bidang batik tulis sejak april 1987.

kini ia sangat menguasai perihal batik seluruhnya. mulai dari mendesain motif, teknik membatik dengan malam (lilin coklat), proses pewarnaan, pencelupan, finishing sampai perawatannya.

ia membuktikan kepiawaianya  pada pada event lomba desain di jogja dan semarang pada tahun 1995. ia sanggup mengungguli desain batik pabrikan yang sudah punya nama besar.

soal desain ini,  ia mempunyai pengalaman lucu. pernah sekelompok mahasiswa sekolah seni di solo berniat mengajari soal desain kontemporer. tentu saja bu musa menyambutnya hangat.

namun melihat kecakapan  saat  membuat disain langsung ke atas mori ( kain putih), para mahasiswa itu terpukau dengan teknik yang ia peragakan. desain yang dihasilkan pun menakjubkan. ya, adaik-adik mahasiswa itu mundur teratur, berbalik  memintanya "berceramah".

selain owner, perempuan yang biasa disapa bu musa ini juga merangkap pemasar dan pengelola karyawann yang berjumlah 50 orang.

rumahnya yang berada di desa bedingin, tirtomoyo, wonogiri dia pakai sebagai “bengkel, pabrik”, galeri sekaligus kantornya.

sebelumnya ia hanya memproduksi batik dengan motif  konvensional  sesuai pakem macam sido mukti, wahyu srikandi, bokor kencono, sido drajat.

yang tak kalah dahsyatnya, ia mampu membabarkan sejarah batik dan filosopi di balik setiap motif-motif batiknya .

merasa tak puas dengan desain yang itu-itu saja, ia lalu mengembangkannya  sesuai ide-ide yang berjejalan berebut ingin keluar dari kepalanya. meluncurlah motifbatik khas yang tak ada di tempat lain: kayangan indah, rumput laut dan seabreg lainnya.

uniknya ia hanya mencetak setiap motif dalam jumlah yang sangat terbatas, 300 potong.

di tengah maraknya isu hak cipta dan kekayaan intelektual ia mempunyai prisip yang bertentangan. ia tak pernah mau mempatenkan desain ciptaannya yang diberi label sumber rejeki itu.

ia tak khawatir, justru senang. begitu desainnya di jiplak, ia akan membuat desain  yang lebih baru lagi. ia yakin tetap akan menjadi leader di antara kompetitornya.

produk batik hasil tulisan malamnya telah melanglang ke negeri lain. memahami perilaku “orang asing” lebih sensitif dengan isu pencemaran lingkungan, perempuan yang “hanya” lulus sekolah menengah ini menjawabnya dengan mencipta batik alam. yakni batik yang pewarnaanya memakai bahan yang dicomot dari alam sekitar rumahnya.

bahan-bahan yang telah sukses ia terapkan dalam pewarnaan batiknya diantaranya daun mangga, daun kenikir, kulit kayu jambal, apel hijau dan daun jati. sayang, ia tak bisa menentukan warna pasti yang dihasilkan oleh dedaunan dan kekulitan itu.

bisanya hanya memperkirakan. daun jati akan menghasilkan warna merah muda kecoklatan, daun kenikir akan menghasilkan warna kuning pucat dan seterusnya.

selain memasarkan langsung ke pelanggan,  ia memiliki rekan kerja galeri di banyak kota. dari solo, jogjakarta, semarang, bali dan jakarta.  

andai kalian membeli langsung di rumahnya,  kain batik hasil produksinya dijual amat sangat murah, jika dibandingkan dengan harga di galeri-galeri yang harganya melenting sampai lebih dari 400%.

“dapat sedikit gak apa- apa mas, yang penting usaha ini tetap bisa jalan”, jawabnya saat ditanya apakah tidak rugi.

omzet per bulannya 50-70 juta per bulan. namun sayang  kebakaran pasar tanah abang, gempa jogja, bom bali dan tsunami aceh meluluhlantakkan galeri mitra kerjanya. kerugian yang ia derita mencapai ratusan juta rupiah.

namun ibu ini tak pernah menyerah. ia terus berusaha mengembangkan  usaha turun temurunnya itu dengan tegar. keinginannya sederhana: ingin  memberikan penghidupan kepada masyarakat di sekitarnya.

seperti perajin kecil lain, kendala paling utama adalah permodalan dan pemasaran. celakanya  pihak-pihak yang berkompeten seperti dinas perisdustrian, bank atau dinas perdagangan tak pernah hirau.

di kampung yang udaranhya sejuk itu, dia kini menerima pesanan batik. tak hanya kain panjang, bahan kemeja. namun ia juga sanggup membuat desain hiasan dinding, taplak meja, blangkon dan ikat kepala ( udheng).

khusus untuk bahan kemeja, minimal  pesan 20 potong dan ia sanggup menyelesaikan dalam waktu maksimal 10 hari. harga sangat lokal, di jamin sangat terjangkau.

sebelum mengakhiri percakapan pagi itu, ia mewanti-wanti agar mencuci batik hanya dengan buah lerak (sapindus rarak) atau sabun khusus untuk batik. jika terpaksa, gunakan shampoo rambut yang telah dilarutkan dalam air.  jemur di dalam ruangan dan jangan diseterika, kecuali  harus dilandasi dengan kertas Koran. 

(waduh kok jadi panjang..) :)