keretapagi tadi, nyaris aku akan kehilangan jempol tangan kiri. celaka emang tak bisa ditolak? aku kok tak yakin.

andai tak ikut berdesakan di metromini rombeng yang kaca jendelanya macet itu. andai aku bersabar sedikit lagi untuk menunggu angkot berikutnya. kecelakaan ini tak akan pernah terjadi. malas bangun pagi mungkin cukup memberi andil pada peristiwa ini.

persis saat itu aku berdiri di tangga, bagian terluar. penumpang sangat penuh, tak bisa bergerak lagi sesenti pun. namun keneknya membutakan matanya. selalu menyalak menyuruh untuk terus bergeser ke dalam.

saat memasuki pintu tol, konon peraturan mengharuskan setiap mobil harus menutup pintunya. karena takut sama polisi  kenek yang selalu buru-buru itu, tanpa melirik kemana-mana langsung menarik daun pintu yang telah sulit ditutup itu.

entah karena aku melamun atau memang ada objek yang lebih menarik, tiba-tiba.. Darr..  pintu itu menghantam jempol tangan kiriku. aku memekik keras. namun umpatanku tak sampai keluar, masih tertahan di bibir. aku pikir  ini salahku sendiri juga meskipun sedikit.

tak ada reaksi dari orang se bus. semuanya diam. melongo. tak ada yang mengabarkan sama sekali seberapa sakit yang aku rasakan. sekedar basa-basi, are you all right? pun tak ada.  ( emangnya siapa elo?).  seolah tak terjadi apa-apa.

beruntung kenek langsung cepat menarik lagi pintu keparat itu. jempol tangan kiriku tak sampai putus. horeee… aku masih bisa menerakan cap jempol di sim lagi. kelak andai mayatku tak dikenali, sidik jari itu bisa berfungsi lagi.

namun nyerinya sampai ke ulu hati.  memang masih mending dikit jika dibandingkan nyeri ditinggal pergi kekasih. serius!

selanjutnya mengkhayal. kapan jakarta memiliki mrt  / mtr  kayak di singapura/hongkong?  asyiknya berangkat/pulang  kerja bisa duduk manis membaca novel yang  tersisa semalam?

"kan kau bisa naik taksi mannn", kata teman yang aku beri cerita. aku diam tak mau berdebat. aku malah menambahkan cerita padanya, aku pernah bertingkah seperti orang di film hollywod:
mencari tumpangan pada mobil-mobil plat hitam yang lalu lalang di jalan raya itu.

tak ada satu pun dari berpuluh-puluh mobil itu  yang mau berhenti. aku memang salah, meskipun aku yakin mereka pasti telah sering melihat adegan seperti itu di film. atau memang tampangku yang begitu tampak bengis?

aku tak yakin. buktinya saat pulang kerja kepagian, sewaktu menunggu angkot di pinggir jalan ada seseorang yang menawarkanku untuk mengantar. benar, aku tak berani menerima tawarannya, meskipun dia sendirian.