di dalam sebuah bis kota. ada empat panggung di dalamnya, diantara pantat yang berdesakan. di masing-masingnya seorang telah bersiap dengan instrumen yang beda. kesamaanya mereka minta kerelaan kita.
seorang pengamen suling dengan hidung dia meniupnya. seanak balita dengan sebekap amplop kucelnya. seanak muda menenteng jualan barang-barang kecilnya. dan paling ujung bapak berpeci dengan kotak hijau di tangan kanannya.
bergantian mereka beraksi. tingkahnya unik. sok serius, menghiba dan bersahaja aja. lalu satu-satu mengunjungi semua pengangkot yang kepanasan. cuaca pagi ini terik, pertanda sorenya akan ada badai.
karena akhir bulan, cadangan uang para pengangkot ketat. tak bisa lagi ada sisa kelonggaran. dan hari ini jumat, memang waktunya harus sudah habis, karena akan ada uang mingguan.
namun, rupanya mereka bertiga lebih apes daripada para buruh sepertiku. celaka aku juga hanya punya satu koin uang yang bisa diberikan ke salah satu di saku.
lalu siapakah yang paling berhak menerima? sang penjual jasa, anak peminta-minta, penjual barang, atau pengumpul pahala? cukup dilematis bukan?



Misalnya, saya jadi sampeyan, saya beri pada sosok yang suaranya muncul pertama kali di dalam benak. Saya tak akan merasa dilematis karena tangan dan hati serta niat/minat itu sendiri (saya yakin) digerakkan oleh Maha Kuasa.
Comment by Hedi — May 4, 2007 @ 7:55 am
follow your heart aja kayaknya
Comment by venus — May 4, 2007 @ 9:03 am
Bener mas…. ikutan kata hati aja.
Comment by yunita — May 4, 2007 @ 4:23 pm
kenapa juga mesti uang koin…pada kemana uang kertasnya?? masih banyak tho di dompet…
Comment by passya — May 5, 2007 @ 10:04 am
Kadang kata hati itu berkata jujur dan merefleksikan saran yang sedianya diambil penting oleh sang logika…
Comment by Domba Garut! — May 5, 2007 @ 10:53 am
semua perlu uang itu, bingung juga mo kasih ke siapa. pake cara kuno aza, pejamkan mata dan pilih salah satu
, seperti kalo milih jawaban pilihan ganda saat ujian githu loh.
Comment by awi — May 6, 2007 @ 10:28 am
gak perlu dilema. semua orang punya rejekinya sendiri2. tidak semua jiwa dapat kita selamatkan. sudah ada ‘yang memelihara’. begitu?
Comment by didi — May 6, 2007 @ 12:54 pm
kasih ke dealer motor ajah, jadi next time sampeyan punya lebih banyak panggung, ga cuman 4
Comment by iway — May 7, 2007 @ 6:01 am
buat ongkos bisnya dah di spare blom mas? kan berabe tuh nyumbang salah satu dari 4 orang itu tau-tau buat ongkos blom disiapin (tight money policy) ..he..he..he.he..
Comment by osinaga — May 7, 2007 @ 7:05 am
secara sekarang udah punya motor sendiri jadi udah lama gak ngerasain keadaan seperti itu lagi
Comment by aribowo — May 7, 2007 @ 7:06 am
saya pernah diberitahu, bahwa peminta minta yang sebaiknya dikasih adalah yang pertama. yang kedua dan seterusnya sebaiknya tidak. katanya begitu aturannya.
Comment by bangsari — May 7, 2007 @ 7:25 am
Ada yang bilang sebenernya siapa yang memberikan pertolongan ?, Yen ta’ pikir2 memang Mereka yg menolong kita membantu membersihkan harta,
Yen ta’ pikir2 meneh koyo ne aku kebanyakan mikir .. ra ono bukti ne… wes masuk anggota NATO (No Action Talk Only)..
Comment by Joomblo — May 7, 2007 @ 7:31 am