di dalam sebuah bis kota. ada empat panggung di dalamnya, diantara pantat yang berdesakan. di masing-masingnya seorang telah bersiap dengan instrumen yang beda. kesamaanya mereka minta kerelaan kita.

seorang pengamen suling dengan hidung dia meniupnya. seanak balita dengan sebekap amplop kucelnya. seanak muda menenteng jualan barang-barang kecilnya. dan  paling ujung bapak berpeci dengan kotak hijau di tangan kanannya.

bergantian mereka beraksi. tingkahnya unik. sok serius, menghiba dan bersahaja aja. lalu satu-satu mengunjungi semua pengangkot yang kepanasan. cuaca pagi ini terik,  pertanda sorenya akan ada badai.

karena akhir bulan, cadangan uang para pengangkot ketat. tak bisa lagi ada sisa kelonggaran. dan hari ini jumat, memang waktunya harus sudah habis, karena akan ada uang mingguan.

namun, rupanya mereka bertiga lebih apes daripada para buruh sepertiku. celaka aku juga hanya punya satu koin uang yang bisa diberikan ke salah satu di saku.

lalu siapakah yang paling berhak menerima? sang penjual jasa, anak peminta-minta, penjual barang, atau pengumpul pahala? cukup dilematis bukan?