selinting nasi, sekerat daging bening segar melapisi di atasnya. sekumpulan bentuk unik lain melingkunginya. namun dengan toping yang berbeda, ikan tuna, salmon, cumi, udang dan sejumput telur salmon keemasan terbalut nori.

dalam sebuah piring datar oval itu tampak juga sekerat jahe warna pink dan sambal warna hijau. bersebelahan ada secawan cairan coklat pekat.

hmm… penasaran juga. utamanya daging segar yang konon dulu hanya kaum bangsawan yang bisa menyediakannya. namun gimana cara makanya yang "benar"?

ternyata, sambal warna hijau mesti dicampurkan ke dalam cawan yang berisi kecap beralkohol. lalu untuk menemukan citarasa alami, mesti mengunyah jahe pink tiap akan menyantap yang lainnya.

sehingga citarasa masing-masing akan terasakan bedanya.  nyam-nyam nyam.. rasanya unik. nasinya mirip beras yang tercampur ketan, agak liat. dan daging salmon segar tak "seburuk" yang aku kira. rasanya kenyal, mirip kelapa muda.

(ndeso banget yakkk! emang)

asyik juga. sensasinya ceria, meskipun lampu dalam lampion-lampion itu terangnya buram. apalagi kelebatan orang-orang menambah tempat itu semarak.

sekitar lima menit, tak ada yang bisa di sumpit. nambah lagi …

beruntung sekali aku malam itu. terimakasih teman baikku. mmuaaachh….
/>