hidup yang singkat, mari kita rayakan
dailyMay 31, 2007 2:10 am

anti rokokpagi itu, ketika aku lari pagi di sebuah taman, aku menatap ayah muda menyorong kereta. di dalamnya berisi bayi yang masih keriput jari-jarinya.  ayah itu ceria, sesekali ia mengucap kata, seolah berbincang dengan hasil cinta dan nafsunya.

di sela-sela obrolan, ia menyelipkan, menghisap dan mengepulkan asap. setelah masuk, mengendap di paru-paru, melekat di bibir, gigi dan kulit  jari telunjuk dan tengah, sebelum keatas menuju langit, asap itu menghampiri bayinya.

ironis bukan?

mungkin ayah itu dulu beranggapan dengan menghisap tembakau bakar itu  mereka akan merasa lebih jantan, macho, ganteng , berani dan digilai perempuan. sehingga tempat-tempat umum dijadikan panggung aksinya. seperti dalam iklan itu. atau bisa jadi itu adalah ekspresi keegoan belaka.

aku yakin ia paham belaka bahayanya. tak hanya untuk dirinya tapi juga orang-orang baik yang disayangi di sampingnya.  pada kemasan tiap bungkusnya, telah diterakan jumlah nikotin dan tar yang dikandungnya. juga akibat jeleknya. bahkan rencananya akanbertambah gambar tengkorak warna hitam.

banyak organisasi yang gencar mengkampanyekan efek merokok melalui brosur, web dan konsultasi gratis. namun itu hanya dianggap omongan kampanye pejabat menjelang pemilu. tak sedikit pun mengendorkan niat untuk sekedar mengurangi atau bahkan keluar dari kebiasaan itu.

“daripada tidak merokok mending tidak makan”, begitu slogan mereka.

memang tidak mudah berhenti merokok, kecuali dipaksa. ini akan terasa lebih pedih dan menyengsarakan. dan orang yang sanggup memaksa itu sampai sekarang hanyalah dokter.

sejujurnya sebenernya asap rokok lebih berbahaya dari pada daging babi dan ludah anjing. karena kedua hal itu berefek hanya pada diri pengunyah. tidak pada orang lain.

entah kenapa cara menikmati tembakau dengan dibakar lebih popular dibanding menikmatinya dengan langsung mengulum. seperti simbah wedok ku dulu?

selamat merayakan hari tanpa tembakau ….:) 

bukuMay 29, 2007 10:47 am

edensornovel ke tiga dari tetralogi yang direncanakan andrea hirata ini masih bermisi sama: mengguyurkan semangat untuk terus mewujudkan mimpi-mimpi yang terbit masa kecil.

mimpi itu akan menyata jika kau meyakininya. seperti kata arai, bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu.

seperti dua novel sebelumnya, edensor melanjutkan kisah petualangan ikal di benua nan jauh dari belitong. plotnya tetap linear dengan pilihan kata dan metafora yang selalu mengejutkan.
 
ia menceritakan kejadian per kejadian secara filmis, detail dan imajinatif. keharuan, kekonyolan dan kenaifan sebagai orang melayu udik yang pertama kali memijakkan kakinya di benua eropa, mirip alien yang terlempar ke bumi.

saat itu desember, pas musim dingin. karena sistem yang tak bekerja, ia ditolak masuk di apartemen tempatnya akan tinggal. selama semalam itu suhu udara berada pada posisi ekstrem, enam belas derajat celcius dibawah nol.

ia harus menggelandang. tidur di bawah pohon yang berada di taman. ia beku, nyaris mati. kedua anak melayu itu bertahan dengan cara yang tak masuk akal.

kenekatan dan ide-ide briliannya sanggup menaklukkan tantangan yang menderanya. termasuk kisah cintanya pada perempuan jerman, kathya. pencarian kekasihnya a ling yang sampai ke sebuah tempat bordil di ujung dunia, belush’ye di Taiga Siberia.

ia juga mengisahkan   kelilingnya eropa, rusia sampai afrika. kisah yang sanggup membuat pembacanya bergetar, merinding, haru, miris atau menahan kulum.

apa yang akan kau lakukan andai ingin berkeliling dunia namun tak punya uang sama sekali?  andrea hirata mempunyai solusi yang “gila”.

pada novel setebal 288 ini, terlalu banyak terjadi kebetulan. entah apakah ini murni peristiwa yang memang di alami penulisnya atau hanyalah improvisasi penulisnya belaka? namun apapun itu, kebetulan-kebetulan itu mengalir smooth, dan pembaca akan bisa memaklumi.

misalnya saja perjumpaannya dengan andrea gillano, pemimpin perang afganistan yang pernah di liat di tvri atau model top daria werbowy yang dikaguminya di majalah vogue. perkenalannya dengan dengan pak toha dari purbalingga yang berprofesi pembasmi kecoa.

andrea hirata yang kedua novel terdahulunya selalu best seller bahkan di malaysia ini, kembali mendapatkan pujian dari novelis ahmad tohari. kali ini ia meyakinkan kepada siapa pun yang membacanya akan menyukainya.

#saya bisa membaca novel ini berkat  simbok venus, dipesankan langsung dari inibuku.com terimakasih atas budi baiknya. :)

dailyMay 28, 2007 3:42 pm

pedestrianmalam itu, di ruang mungilnya, ia telah mencorat-coret notesnya. mendata benda-benda yang ia perlukan. harapnya ia nyaman berdiam di dalam, tak lagi keluyuran di luar.

home teather, dvd dengan sederet koleksi filmnya. komputer lengkap bermultimedia serta mainan lain. berak-rak buku berdiam rapi, beberapa masih berbungkus plastik.

perlahan semua mengusang, namun tetap saja ia blingsatan, mirip cacing kepanasan. ruang yang mirip sarang itu menyempit. ia merasa makin terjepit.  

dalam renung ia bertanya, di mana tempat nyaman yang membebaskan itu? diam-diam hati kecilnya membisikan jawaban pelan: di jalanan.

tak percaya? cermatilah…

jalanan adalah panggung pertunjukan live. tempat semua orang menunjukkan pencapaian estetis seni terbaiknya. menteri keuangan, gembel, pencopet, koruptor, pelacur, penjilat, polisi, ulama dan bayi merah berada di panggung yang sama tanpa sekat.

semua (dan aku) adalah pemain sekaligus penontonnya.

mereka  bergerak dengan gegas, hilir mudik, berduyun-duyun berdesakan memakai kostum dan make up terbaiknya. mereka melakukan adegan  mengejutkan yang tak pernah terduga. akan kemanakah mereka?

(jalan adalah karya seni instalasi paling sempurna. ia lurus, menikung, menanjak, menukik tajam, kata andrea hirata dalam edensor.)

sepakat. di jalan kau akan menemukan lukisan raksasa tanpa pigura. jejalan bunga yang mirip mozaik karpet persia. pohon palem, air mancur, tiang listrik, jembatan penyeberangan, papan reklame dan rambu-ramu. padu.

di pinggirnya, berbatas trotoar merah maroon, berpagar gedung, tertata dengan presisi yang serasi. khusus abgi pedestrian sejati.

malam hari, jalanan semakin menjadi misteri. seperti belantara hutan hujan tropis. ia menjebak, menyesatkan, menghisap dan mematikkan. 

keremangan lampu dan keabaian memunculkan sebuah pertunjukan criminal brutal, juga prostitusi dan transaksi barang haram. sekedar melupakan kenyataan kehidupan.

semua berjalinan, saling terkait namun juga kadang tampak tak ada sangkut paut.  menjadikan jalanan adalah tempat pertunjukan paling ideal. scene-scene kehidupan meluncur tanpa henti, tak pernah berulang, selalu berganti.

sebuah panggung pertunjukan seni yang menakjubkan bukan?

secara perlahan, kau akan kehilangan kosa kata bosan dan tak kerasan. karena detik demi  detik adalah sebuah perayaan. di situlah tempat kebebasan dan kenyamanan. dan itulah hidup, sebuah perjalanan yang tak pernah mengenal kata pulang.

dailyMay 26, 2007 3:41 am

jokpinsedang apa

sedang apa, penyair, malam-malam
masih sibuk menempa dan memahat kata?
sedang membuat patung dirimu?

sedang membuat batu nisan untukmu

2006
joko pinurbo, kepada cium halaman 42

apa sebenarnya alasan lain para penulis (fiksi) dan penyair dalam berkarya? uang?  mungkin itu hanya dampak samping. aku yakin kebanyakan penyair sangat tak menggantungkan keuangannya pada tulisan.

atau kepuasan?

di jakarta, dari dua belas juta hati warganya pada siang hari dan sepuluh juta di malam hari, tak sampai dua ratus ribu yang bisa merasakan dahyatnya getaran kata dari karya yang proses pencapaian sungguh tak main-main itu.

teman saya, lulusan s2 dari univ ternama,  memilih menekuni kepuisian dengan resiko “tak punya uang”. berkeluarga kecil dan hidup di tempat kontrakan yang sederhana.

andai ia mau, banyak tawaran yang bisa mendatangkan pendapatan lebih cukup. ia juga menceritakan bagaimana susahnya “menjual” karyanya ke media atau tak adanya penerbit yang mau mengorbitkan.

semua sudah paham, buku puisi sangat sulit menggerakkan banyak orang untuk mengeluarkan koceknya. apalagi buku masih merupakan barang yang cukup mahal (kalimat ini kusampaikan ke aku sendiri).

cerpen-cerpen yang berhasil lolos dan termuat di koran/ majalah pun, konon tak ada yang membaca. kecuali orang-orang yang sedang belajar menulis cerpen! dan jumlahnya pun amat sangat sedikit.

saudaraku memvonis, membaca buku fiksi itu cuman buang-buang waktu. tak ada gunanya!

malam itu, 25 mei 2007 pukul 20:00 waktu toko buku aksara, kemang, joko pinurbo meluncurkan dua buku kumpulan cerpennya: kepada cium dan celana pacar kecilku di bawah kibaran sarung.

memang ada wartawan majalah gadis yang membawa empat kumpulan buku puisi itu untuk dimintakan tanda tangan ke penyair favoritnya.  dan berebut minta foto bareng. :)

para penyair dan penulis fiksi telah mengerahkan seluruh daya kreatifnya.  mereka telah seperti Tuhan.  menciptakan sesuatu dari tak ada menjadi ada. namun seolah tak ada yang mengapresiasinya. lalu untuk apa mereka berkarya?

aku sendiri juga sering tak bisa memahami puisi namun bisa menikmati eksplorasi bahasanya yang kata ayu utami, sajak-sajak penyair yang telah mendunia itu (telah di terbit dalam bahasa inggris, jerman dan belanda) seolah melampaui estetika.

(nah gimana itu pastinya penjelasan melampaui estetika?) :)

dailyMay 24, 2007 12:58 pm

batiknama lengkapnya suwarni musa siswadi. cukup panjang, sepanjang perjalanan kariernya di bidang batik tulis sejak april 1987.

kini ia sangat menguasai perihal batik seluruhnya. mulai dari mendesain motif, teknik membatik dengan malam (lilin coklat), proses pewarnaan, pencelupan, finishing sampai perawatannya.

ia membuktikan kepiawaianya  pada pada event lomba desain di jogja dan semarang pada tahun 1995. ia sanggup mengungguli desain batik pabrikan yang sudah punya nama besar.

soal desain ini,  ia mempunyai pengalaman lucu. pernah sekelompok mahasiswa sekolah seni di solo berniat mengajari soal desain kontemporer. tentu saja bu musa menyambutnya hangat.

namun melihat kecakapan  saat  membuat disain langsung ke atas mori ( kain putih), para mahasiswa itu terpukau dengan teknik yang ia peragakan. desain yang dihasilkan pun menakjubkan. ya, adaik-adik mahasiswa itu mundur teratur, berbalik  memintanya "berceramah".

selain owner, perempuan yang biasa disapa bu musa ini juga merangkap pemasar dan pengelola karyawann yang berjumlah 50 orang.

rumahnya yang berada di desa bedingin, tirtomoyo, wonogiri dia pakai sebagai “bengkel, pabrik”, galeri sekaligus kantornya.

sebelumnya ia hanya memproduksi batik dengan motif  konvensional  sesuai pakem macam sido mukti, wahyu srikandi, bokor kencono, sido drajat.

yang tak kalah dahsyatnya, ia mampu membabarkan sejarah batik dan filosopi di balik setiap motif-motif batiknya .

merasa tak puas dengan desain yang itu-itu saja, ia lalu mengembangkannya  sesuai ide-ide yang berjejalan berebut ingin keluar dari kepalanya. meluncurlah motifbatik khas yang tak ada di tempat lain: kayangan indah, rumput laut dan seabreg lainnya.

uniknya ia hanya mencetak setiap motif dalam jumlah yang sangat terbatas, 300 potong.

di tengah maraknya isu hak cipta dan kekayaan intelektual ia mempunyai prisip yang bertentangan. ia tak pernah mau mempatenkan desain ciptaannya yang diberi label sumber rejeki itu.

ia tak khawatir, justru senang. begitu desainnya di jiplak, ia akan membuat desain  yang lebih baru lagi. ia yakin tetap akan menjadi leader di antara kompetitornya.

produk batik hasil tulisan malamnya telah melanglang ke negeri lain. memahami perilaku “orang asing” lebih sensitif dengan isu pencemaran lingkungan, perempuan yang “hanya” lulus sekolah menengah ini menjawabnya dengan mencipta batik alam. yakni batik yang pewarnaanya memakai bahan yang dicomot dari alam sekitar rumahnya.

bahan-bahan yang telah sukses ia terapkan dalam pewarnaan batiknya diantaranya daun mangga, daun kenikir, kulit kayu jambal, apel hijau dan daun jati. sayang, ia tak bisa menentukan warna pasti yang dihasilkan oleh dedaunan dan kekulitan itu.

bisanya hanya memperkirakan. daun jati akan menghasilkan warna merah muda kecoklatan, daun kenikir akan menghasilkan warna kuning pucat dan seterusnya.

selain memasarkan langsung ke pelanggan,  ia memiliki rekan kerja galeri di banyak kota. dari solo, jogjakarta, semarang, bali dan jakarta.  

andai kalian membeli langsung di rumahnya,  kain batik hasil produksinya dijual amat sangat murah, jika dibandingkan dengan harga di galeri-galeri yang harganya melenting sampai lebih dari 400%.

“dapat sedikit gak apa- apa mas, yang penting usaha ini tetap bisa jalan”, jawabnya saat ditanya apakah tidak rugi.

omzet per bulannya 50-70 juta per bulan. namun sayang  kebakaran pasar tanah abang, gempa jogja, bom bali dan tsunami aceh meluluhlantakkan galeri mitra kerjanya. kerugian yang ia derita mencapai ratusan juta rupiah.

namun ibu ini tak pernah menyerah. ia terus berusaha mengembangkan  usaha turun temurunnya itu dengan tegar. keinginannya sederhana: ingin  memberikan penghidupan kepada masyarakat di sekitarnya.

seperti perajin kecil lain, kendala paling utama adalah permodalan dan pemasaran. celakanya  pihak-pihak yang berkompeten seperti dinas perisdustrian, bank atau dinas perdagangan tak pernah hirau.

di kampung yang udaranhya sejuk itu, dia kini menerima pesanan batik. tak hanya kain panjang, bahan kemeja. namun ia juga sanggup membuat desain hiasan dinding, taplak meja, blangkon dan ikat kepala ( udheng).

khusus untuk bahan kemeja, minimal  pesan 20 potong dan ia sanggup menyelesaikan dalam waktu maksimal 10 hari. harga sangat lokal, di jamin sangat terjangkau.

sebelum mengakhiri percakapan pagi itu, ia mewanti-wanti agar mencuci batik hanya dengan buah lerak (sapindus rarak) atau sabun khusus untuk batik. jika terpaksa, gunakan shampoo rambut yang telah dilarutkan dalam air.  jemur di dalam ruangan dan jangan diseterika, kecuali  harus dilandasi dengan kertas Koran. 

(waduh kok jadi panjang..) :)