pedagangbayangkan sebentar saja, malam mingguan di metropolitan. pasti menangkap gemerlap lampu, denting gelas dan kepul asap rokok. derai sekomunitas orang bercengkerama, gemulai perempuan berwajah menyala atau musik yang menghentak.

berbeda dengan malamku waktu kecil dulu.  yang selalu terdengar hanya suara jengekerik, gangsir, belalang, burung hantu yang magis atau pun orong-orong. sesekali suara benda jatuh dari mulut codot yang matanya buta itu.

ke dua malam di tempat yang kontras itu tak ada istimewanya memang. namun malam minggu kemarin yang aku habiskan di teras sungguh beda. sejak bakda isyak duduk, banyak pasangan berseliweran. abege, ibu-ibu dan anak kecil berjalan liar. juga bebunyian berganti-ganti.  

dalam temaram lampu  aku mendengar bebunyian itu. tik tok tik tok dari bakwan malang, tek tek tek dari tukang nasi goreng, atau dog dog dog dari mie goreng jawa timur. (mie ini unik, cara membersihkan wajannya dengan sapu lidi.) dan entah, suara lain aku tak bisa membahasakannya.

misalnya suara tet tet tet mirip terompet dari tukang roti, dan suara mirip peluit sakti dari tukang kue putu. namun yang benar-benar jelas hanya dari tukang sate (madura dan padang) yang dengan lengkingannya orang tak perlu menebak-nebak lagi.

makin malam, mereka menyurut, kecuali tukang sekoteng. dengan lampu lilinnya yang redup, pikulan yang rendah, laki-laki itu menyusuri gang di tengah malam. andai semua orang sepertiku, dagangannya pasti tak kan laku. seumur hidup aku belum pernah mencicipinya.

yang lebih "menyalak" mungkin tukang pijat keliling. ia menjajakan jasanya dengan bunyi yang menurutku mirip kaleng yang diseret. tentu saja tak nyaman di telinga. lalu aku berpikir, ketika sedang apa si pencipta bunyi menemukan ide tersebut?  apakah itu  suatu bentuk keputusasaan yang parah?

pada hal dari jarak kurang dari satu kilometer ke sebelah utara adalah istana negera. apakah pak presiden tetap nyenyak tidurnya melihat rakyatnya terpuruk, terseok-seok menghisap bau anyir ciliwung yang pekat?

tukang-tukang yang mengais rejeki di deretan petak-petak kamar ( aku tak menyebut itu rumah) sempit.  hebat mereka, punya daya tahan untuk bisa ekesis luar biasa. mungkin kalau aku, sudah menyerah. meskipun aku belum tahu bentuk penyerahannya seperti apa.

oh ya, aku akan menjadi tukang cerita saja. dalang tanpa wayang. seperti filsuf jama dulu yang mengajarkan cerita-cerita di bawah pohon dengan anak-anak berkerumun mengelilingya. bentuk sekolahan yang akhirnya menjadi seperti sekarang ini.

cuman apa yang akan kupukul-pukul agar menimbulkan bebunyian yang paling menarik? :)