dan kematian makin akrab
(subagyo sastrowardoyo)
dan cara mati seperti apa yang anda inginkan (kelak)? aku berpikir karena masih muda, seolah-olah aku matinya masih lama. sehingga aku memilih vocab kelak.
pada hal semua juga tahu, mati bisa kapan dan dimana saja.
topik ini sebenarnya kurang menarik, sebagian orang malah takut untuk sekedar membincangkanya. ada yang mengatakan tabu. yang lain malah memvonis aku terlalu berani ngomong.
baiklah, aku sendiri aja yang bercerita. karena mau tak mau toh aku tak bisa mengelak dari kematian. entah kapan aku tak tahu. cuman konon datangnya malaikat izrail bisa ditunda. caranya ya seperti saat para direktur menginginkan sebuah projek dari sebuah departemen: kita suap.
konon Tuhan akan meng"cancel" perintahnya saat orang yang telah habis masa kontraknya di sini. namun hanya berlaku bagi seseorang yang begitu baik baiknya. orang yang sangat bermafaat bagi orang lain, bukan karena pamrih (termasuk surga dan bidadarinya).
namun sampai kapan perpanjangan waktu itu? entah. aku kira orang baik akan mati dengan cara yang tak menyakitkan. seperti temannya temanku yang mati saat main bridge saat reuni smunya. aku telusuri kehidupan pribadinya. dan benar, dia memang orang yang sangat baik.
ia mati dengan cara yang sangat menyenangkan, penuh keceriaan. sehabis makan siang usai dia pingsan, koma sehari lalu bablas. dokter tak menyatakan dia sakit jantung. entah apa peyakit yang menyebabkannya pergi.
aku tak tahu apakah mati dengan cara tabrakan mobil sampai ringsek macam lady di atau saat melahirkan seperti ra kartini atau menghirup gas beracun di puncak gunung seperti soe hoek gie, elang mulya yang tertembak saat demo reformasi itu cara mati yang elegan. yang jelas mereka itu orang-orang baik baik. dan mereka mati muda.
sayang kematian tak bisa dipercepat, kalau pun kita memintanya. bunuh diri, ini saya kira bukan cara yang elegan. ini hanyalah keinginan "sesaat" yang emosional. kepanikan karena kurang mampu mengurai masalah yang dihadapinya. sehingga Tuhan pun melarang keras.
banyak buku panduan bagaimana menghadapi kematian. anand khrisna dan komarudin hidayat pernah membukukannya. dan setiap keyakinan selalu mengingatkan, karena setiap langkah kita sebenarnya sedang menuju ke sana. cuman orang-orang, sepertiku masih saja berpikir, kematian itu terasa masih jauh, karena sekarang saya masih muda.
kembali ke cara mati yang aku inginkan, aku ingin "pergi" pada saat "pesta" keluarga besar yang mencintaiku berakhir. saat itu semua keinginanku telah tercapai. saat itu semua orang telah tak memerlukanku, melupakanku. dan malaikat-malaikat menyambutku. indah kali ye…..


