masih saja banyak orang suka mengekspresikan kemarahan dengan memenderitakan orang lain. entah hanya sebatas kata: memaki, memarahi sampai meludahi atau melakukan kekerasan fisik.
pelakunya, biasanya orang yang punya kekuasaan lebih tinggi di komunitasnya. dan bisa jadi lebih pintar daripada bawahannya yang selalu dijadikan korban. kenapa wewenang cenderung mensahkan seseorang melakukakan kebiadaban? apa yang terjadi andai dibalik?
alasan mereka melakukan tindakan itu, salah satunya: orang yang melakukan kesalahan itu memang pantas mendapatkannya. harapannya kelak perbuatan itu tak terulang. kedua, kemarahan/ kejengkelan memang harus diekspresikan agar tak menjadi tumor yang mengkristal di jiwa. yang lebih ekstrim, sekedar show of force.
tentunya mereka para cendekia. semestinya sangat menguasai dan memahami bagaimana cara menjaga emosinya. menjaga jarak antara stimulant dan respon. andai mereka mau menahan responya selama dua detik saja, tentu akan ada pilihan kata, intonasi, nada suara yang lebih humanis dan indah.
tak seperti biasanya, karena mereka tak berpikir, yang keluar hanya sebatas kata –kata biasa yang merupakann penghuni hutan belantara: anjing, babi, monyet, ajak, kadal atau biawak.
pada hal apa jeleknya binatang-binatang itu?
akibatnya orang yang dimaki akan sakit hati dan bisa-bisa memendam dendam. untuk memperbaikinya tentu memerlukan waktu yang sangat lama. luka itu mungkin bisa disembuhkan, namun bekasnya masih ada
dulu (zaman kerajaan kali) konon orang jawa (kaum priyayi) sangat bisa menahan diri. sehingga kemarahan hanya ditunjukkan lewat ekspresi roman muka. tak perlu kata-kata apalagi tindakan kekerasan nyata. (kesulitannya mungkin bagaimana menterjemahkah ekspresinya secara tepat.)
mungkin priyayi itu berpikir, bahwa ia merasa lebih rendah. bukankah kekuasaan terbesar adalah lautan? dan lautan adalah tempat yang paling rendah, tujuan akhir dari setiap aliran sungai bersampah?


